<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566</id><updated>2012-02-16T18:25:34.610+07:00</updated><category term='Pena Jurnalis'/><category term='Situs Akademika'/><category term='Karya Santri'/><category term='Resensi'/><category term='Tokoh'/><category term='Opini'/><category term='Telaah Bahasa'/><category term='Zona Puisi'/><category term='Ranah Peribahasa'/><title type='text'>Chaleedarifa</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>83</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-2811637237243656207</id><published>2011-10-15T19:25:00.001+07:00</published><updated>2011-10-15T19:38:21.466+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Zona Puisi'/><title type='text'>Video Puisi Kontemplatif "Kali Song"</title><content type='html'>&lt;iframe width="425" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/SCjVgJ8qqFI?hl=en&amp;fs=1" frameborder="0" allowfullscreen&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-2811637237243656207?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/2811637237243656207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2011/10/video-puisi-kontemplatif-kali-song.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2811637237243656207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2811637237243656207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2011/10/video-puisi-kontemplatif-kali-song.html' title='Video Puisi Kontemplatif &quot;Kali Song&quot;'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/SCjVgJ8qqFI/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-5594666851447235780</id><published>2011-10-05T10:11:00.003+07:00</published><updated>2011-10-05T10:24:47.857+07:00</updated><title type='text'>MATERI KELAS VIII SEMESTER I</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Petunjuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk Tertulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk&lt;br /&gt;~ wacana yang berisi penjelasan suatu proses pembuatan sesuatu / penggunaan sesuatu.&lt;br /&gt;~ Wacana eksposisi proses yang menggunakan pilihan kata yang konkret (dengan ukuran, arah, batas yang jelas) dan struktur kalimat perintah.&lt;br /&gt;~ Urutan petunjuk harus jelas, logis, dan mudah diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah penyusunan petunjuk :&lt;br /&gt;a. Menentukan barang / makanan yang akan dibuat / kegiatan yang dijelaskan.&lt;br /&gt;b. Menentukan urutan pembuatan / urutan menggunakan secara garis besar.&lt;br /&gt;c. Menentukan kata konkret sebagai batas, arah, atau ukuran yang memudahkan / mengkonkretkan apa yang akan dijelaskan.&lt;br /&gt;d. Mengembangkan kalimat perintah sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk dipakai dalam : &lt;br /&gt;- obat-obatan&lt;br /&gt;- Barang-barang bergerak&lt;br /&gt;- Piranti dapur&lt;br /&gt;- Cara memelihara tanaman&lt;br /&gt;- Dan sebagainya.&lt;br /&gt;- &lt;br /&gt;Petunjuk dibagi menjadi dua jenis, yaitu :&lt;br /&gt;1. Petunjuk Negatif&lt;br /&gt;Petunjuk yang negatif bersifat melarang orang melakukan sesuatu. Ditandai oleh kata dilarang, jangan, dan tidak boleh.&lt;br /&gt;2. Petunjuk Positif&lt;br /&gt;Petunjuk yang positif bersifat menyuruh atau menganjurkan orang melakukannya. Ditandai oleh kata-kata yang berpartikel lah atau dengan akhiran –an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk Negatif&lt;br /&gt; Petunjuk yang memakai kata dilarang digunakan sebagai petunjuk untuk teguran keras agar tidak dilakukan seperti apa yang tertulis pada petunjuk itu.&lt;br /&gt;1. Dilarang merokok di dalam ruangan ini.&lt;br /&gt;2. Dilarang menginjak rumput di dalam taman ini.&lt;br /&gt;3. Dilarang membuang sampah di  sembarangan tempat.&lt;br /&gt;4. Dilarang mencuci baju di kolam renang ini.&lt;br /&gt;5. Dilarang menebangi pohon di kawasan margasatwa ini.&lt;br /&gt;6. Ruang ini adalah ruang bebas kuman. Dilarang membawa makanan ke dalamnya.&lt;br /&gt;7. Mesin-mesin ini sangat peka. Dilarang keras memegang mesin-mesin ini tanpa memakai sarung tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk yang memakai kata jangan digunakan sebagai petunjuk yang agak keras yang nuansa maknanya hampir sama dengan kata dilarang.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;1. Jangan pergi ke sungai itu karena di situ  banyak buaya.&lt;br /&gt;2. Jangan memberi makanan pada burung-burung yang ada di dalam taman ini.&lt;br /&gt;3. Jangan mencoret dinding sekolah.&lt;br /&gt;4. Jangan berbicara terlalu keras di studio.&lt;br /&gt;5. Jangan menghidupkan telepon genggam pada saat pengambilan gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk yang memakai kata tidak boleh dapat dilihat pada contoh berikut ini. Kalau kita memakai kata tidak boleh dianjurkan untuk menambahkan subjek pada kalimat itu, seperti kata Anda, pengunjung, penumpang, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;1.   Pengunjung tidak boleh mandi di pantai ini karena ombaknya besar.&lt;br /&gt;2.   Penumpang tidak boleh menjulurkan tangan ke luar jendela ketika kereta api &lt;br /&gt;     sedang berjalan.&lt;br /&gt;3.   Anda tidak boleh membawa gunting ke dalam kabin pesawat.&lt;br /&gt;4.   Hak cipta buku ini dilindungi undang-undang. Oleh sebab itu, seluruh atau &lt;br /&gt;     sebagaian isi buku tidak boleh dikutip tanpa izin dari pengarang.&lt;br /&gt;5.   Penumpang tidak boleh bercakap-cakap dengan sopir ketika mobil sedang berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk Positif&lt;br /&gt; Petunjuk positif lebih banyak bersifat perintah sehingga partikel lah dan akhiran –an atau –kan sangat berfungsi dalam membentuk petunjuk itu.&lt;br /&gt;• Contoh :&lt;br /&gt;• Jagalah kebersihan ruangan ini !&lt;br /&gt;• Pakailah jembatan penyeberangan !&lt;br /&gt;• Kenakan sabuk pengaman ketika Anda mengendarai mobil !&lt;br /&gt;• Peliharalah taman bunga ini !&lt;br /&gt;• Minumlah obat ini sesuai petunjuk dokter !&lt;br /&gt;• Pakailah sepatu atau sandal jika Anda memasuki ruang Unit Pemeliharaan Intensif rumah sakit ini!&lt;br /&gt;• Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar !&lt;br /&gt;• Pecahkan kaca bila Anda berada dalam keadaan darurat !&lt;br /&gt;• Tulislah nama Anda dengan memakai huruf balok !&lt;br /&gt;o Larutkan 1 sendok the sabun cair ke dalam mangkuk yang berisi setengah gelas air. Masukkan spons ke dalam larutan sabun cair tersebut, lalu bersihkan semua bekas lemak dan kotoran pada peralatan makanan.Bilaslah peralatan itu sampai bersih dengan air.&lt;br /&gt;o Masukkan kartu Anda ke dalam lubang yang telah ditentukan. Tulislah nomor PIN Anda dengan benar. Ketikkan jumlah uang yang hendak Anda ambil. Tariklah kartu Anda kembali jika Anda telah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOH SOAL&lt;br /&gt;1. A. Masukkan arang dalam pot !&lt;br /&gt;B. Masukkan rumpun anggrek dalam pot! &lt;br /&gt;C. Siapkan rumpun anggrek !&lt;br /&gt;D. Siapkan arang sebagai media pot !&lt;br /&gt;E. Letakkan / gantung pot di tempat yang cukup sinar matahari !&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Susunan petunjuk menanam anggrek yang tepat adalah….&lt;br /&gt; a. C – A – B – E – D&lt;br /&gt; b. C – B – E – D – A&lt;br /&gt; c. C – D – B – E – A&lt;br /&gt; d. C – D – A – B – E&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  (A) Gunakanlah sikat dan pasta gigi !&lt;br /&gt;     (B) Gosok gigi setiap selesai makan dan sebelum tidur !&lt;br /&gt;     (C) Jangan makan makanan yang panas dan dingin dalam waktu yang hampir bersamaan !&lt;br /&gt;     (D) Periksalah ke dokter gigi secara berkala !&lt;br /&gt;  Urutan yang tepat petunjuk merawat gigi adalah….&lt;br /&gt; a. (D), (C), (B), (A) &lt;br /&gt; b. (C), (D), (A), (B)&lt;br /&gt; c. (B), (A), (C), (D)&lt;br /&gt; d. (A), (B), (D), (C)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. (1) Pisang direndam dengan air garam !&lt;br /&gt; (2) Keripik pisang siap dimakan !&lt;br /&gt; (3) Kupas pisang dengan pisau !&lt;br /&gt; (4) Ambil pisang yang cukup tua tetapi masih mentah dan bergetah !&lt;br /&gt; (5) Pisang yang sudah direndam lalu digoreng !&lt;br /&gt; (6) Pisang yang sudah dikupas kemudian diiris tipis !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Langkah-langkah yang benar dalam pembuatan keripik pisang adalah….&lt;br /&gt; a. ( 4) – (3) – (6) – (2) – (5) – (1)&lt;br /&gt; b.  (4) – (1) – (6) – (5) – (3) – (2)&lt;br /&gt; c.  (4) -  (3) – (6) – (1) – (5) – (2)&lt;br /&gt; d.  (4) – (3) – (1) – (6) – (5) – (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Perhatikan petunjuk menggunakan telepon koin :&lt;br /&gt;      (1)   mengamati telepon koin&lt;br /&gt;(2)   menyediakan uang logam&lt;br /&gt;(3)   memijit nomor&lt;br /&gt;(4)   memasukkan uang&lt;br /&gt;(5)   memulai bicara&lt;br /&gt;(6)   mangangkat gagang telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Urutan logis tentang cara-cara menggunakan telepon koin adalah….&lt;br /&gt;Jawaban :  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.   Jika ingin menggunakan operator dalam negeri, terlebih dahulu periksa operatornya apakah sudah menyediakan pelayanan  “ roaming internasional”  dan buka fasilitas tersebut. Jika tidak, belilah “ SIM Card “ yang sudah menyediakan layanan itu, sehingga selama melakukan perjalanan di luar negeri kita tetap bisa berkomunikasi.&lt;br /&gt; Cuplikan tersebut merupakan petunjuk….&lt;br /&gt;Jawaban : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.   Setelah dibakar, kemudian dikilapkan dan dihias. Dalam pengilapan, benda tersebut dioles dengan cairan yang disebut glastur lalu dibakar lagi. Glastur meleleh menjadi lapisan kaca yang menbuat benda itu tampak mengkilap dan kedap air. Tembikar dihiasi dengan gambar-gambar sebelum dan sesudah pengglasuran.&lt;br /&gt; Paragraf tersebut merupakan petunjuk ….&lt;br /&gt;Jawaban: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYUSUN UCAPAN SELAMAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang lain mendapatkan sesuatu kebahagiaan, kita perlu mengucapkan selamat atas kebahagiaannya itu. Ucapan selamat tersebut dapat disampaikan terhadap apa saja, seperti kemenangan teman Anda pada suatu turnamen, perolehan nilai terbaik dari suatu pelajaran, atau kelahiran adik yang manis.&lt;br /&gt;Ucapan itu ditandai dengan pemakaian kata selamat yang biasanya diikuti oleh ucapan semoga. Contoh :&lt;br /&gt;1. Selamat menempuh hidup baru, Din. Semoga Anda sejahtera selalu.&lt;br /&gt;    (Diucapkan pada orang yang baru saja menikah).&lt;br /&gt;2. Selamat ulang tahun yang ke-52, Pak. Semoga Bapak panjang umur dan murah ezeki.&lt;br /&gt;    (diucapkan pada orang yang berulang tahun)&lt;br /&gt;3. Selamat atas prestasi Anda di dalam mata pelajaran matematika. Semoga prestasi &lt;br /&gt;   itu dapat dipertahankan.&lt;br /&gt;4. Selamat atas kemenangan regu Anda di pertandingan bola voli. Semoga tahun depan &lt;br /&gt;    prestasi ini tetap bertahan.&lt;br /&gt;5. Selamat atas perolehan hadiah dari paman.&lt;br /&gt;6. Selamat atas kelahiran Adik yang lucu, Bu. Semoga dia menjadi anak yang berguna &lt;br /&gt;    bagi bangsa, negara, dan agama.&lt;br /&gt;7. Selamat atas kejuaraanmu, Arif, pada lomba baca puisi se-kabupaten.&lt;br /&gt;8. Selamat atas terpilihnya Anda, sebagai Ketua OSIS periode 2005 / 2006. Semoga  &lt;br /&gt;   Anda sukses dalam menjalankan tugas.&lt;br /&gt;9. Selamat hari raya lebaran. Semoga kita menjadi orang yang kembali bersih seperti&lt;br /&gt;    kertas putih tanpa noda.&lt;br /&gt;10. Selamat jalan ke kampung halaman dan  bertemu dengan orang tua. Semoga&lt;br /&gt;    perjalanan Anda menyenangkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-5594666851447235780?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/5594666851447235780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2011/10/materi-kelas-viii-semester-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/5594666851447235780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/5594666851447235780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2011/10/materi-kelas-viii-semester-i.html' title='MATERI KELAS VIII SEMESTER I'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-8814022129496032747</id><published>2011-10-05T09:28:00.004+07:00</published><updated>2011-10-05T09:44:12.750+07:00</updated><title type='text'>PREDIKSI UAN SMP TAHUN PELAJARAN 2010/2011</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Bacalah teks berikut dengan seksama kemudian &lt;br /&gt;    kerjakan soal nomor 1 dan 2!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia kasus HIV/AIDS terus mengalami peningkatan yang tajam. Sampai akhirnya Oktober 2006 secara kumulatif kasus AIDS berjuumlah 6,987 dari sejak ditemukannya tahun 1987. Dari jumlah tersebut yang terinfeksi HIV berjumlah 4,617 orang. Kasus ini terjadi hamper di semua&lt;br /&gt;provinsi di Indonesia. Data tersebut belum tentu mewakili kenyataan yang ada. Hal ini karena masalah HIV/AIDS&lt;br /&gt;diibaratkan gunung es, permukaan tampak sedikit bagian bawah bisa jadi lebih besar. Analogi ini sangatlah wajar karena seseorang yang tertular virus HIV ia tidak langsung sakit. Setelah jangka tertentu barulah sistem kekebalan tubuhnya mulai rapuh dan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gagasan utama paragraf pertama teks bacaan tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. peningkatan tajam kasus HIV/AIDS&lt;br /&gt;b. pemberantasan kasus HIV/AIDS&lt;br /&gt;c. pengelompokkan kasus terinfeksi virus HIV&lt;br /&gt;d. penemuan virus HIV/AIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kalimat utama paragraf kedua terdapat pada kalimat ….&lt;br /&gt;a. keempat    c. kedua&lt;br /&gt;b. pertama    d. Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Di kota Surabaya, Program Lingkungan Berbasis Komunitas dilakukan dengan latar belakang adanya meter kubik per harinya. Namun, tempat penampungan sampah di kota ini hanya mampu 80 persen. Sementara sisanya, penduduk membuang sampah ke sungai dan tempat-tempat&lt;br /&gt;pembuangan sampah informal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritikan terhadap penduduk berdasarkan berita tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. Pemerintah dan penduduk kota Surabaya lebih baik&lt;br /&gt;    membersihkan sungai.&lt;br /&gt;b. Penduduk kota Surabaya sebaiknya meminta bantuan&lt;br /&gt;    kepada pemerintah kota.&lt;br /&gt;c. Penduduk harus berpartisipasi dengan membuang&lt;br /&gt;    sampah pada tempatnya.&lt;br /&gt;d. Penduduk segera menutup tempat-tempat pembuangan&lt;br /&gt;    sampah informal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.   Berita 1&lt;br /&gt;Pemkot Palembang berencana membatasi jumlah kepemilikan mobil pribadi. Pasalnya pertumbuhan mobil pribadi dinilai sudah sangat tinggi, tidak seimbang dengan penambahan kapasitas ruas jalan. Dampaknya mulai terjadi kemacetan lalu lintas di jalan-jalan kota Palembang.&lt;br /&gt;Berita 2&lt;br /&gt;Menteri perhubungan menyatakan pertumbuhan mobil pribadi jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan kendaraan umum. Hal itu dapat diindikasikan dari jumlah penumpang angkutan umum yang terhitung sedikit. Akibatnya para sopir angkutan umum bersaing secara tidak sehat dengan sopir lainnya. Kebut-kebutan dan parker lama di tempat yang tak seharusnya sekadar untuk mendapatkan satu atau dua penumpang, hingga menyebabkan kemacetan lalu lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesamaan informasi yang terdapat dalam kedua berita tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. Pemkot Palembang dan pembatasan mobil&lt;br /&gt;b. Mobil pribadi dan kemacetan lalu lintas&lt;br /&gt;c. Pertumuhan kendaraan umum dan ruas jalan&lt;br /&gt;d. Menteri perhubungan dan sopir angkutan umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kawanan monyetyang hidup di kawasan wisata alam Wendit, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menyerang pemukiman penduduk dengan merusak atap dan genting rumah. Pasalnya monyet-monyet itu kehilangan habitat mereka karena kawasan hutan wisata itu pohonnya banyak yang ditebang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi berita tersebut adalah …..&lt;br /&gt;a. Kawasan hutan wisata alam Wendit dijadikan tempat&lt;br /&gt;    tinggal oleh penduduk.&lt;br /&gt;b. Kawanan monyet menyerang pemukiman penduduk&lt;br /&gt;    karena kehilangan habitat.&lt;br /&gt;c. Habitat monyet dilestarikan oleh pemerintah Kabupaten&lt;br /&gt;    Malang.&lt;br /&gt;d. Pemukiman penduduk dijadikan tempat tinggal kawanan&lt;br /&gt;    monyet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.   Berita 1&lt;br /&gt;Sekitar 400 monyet berkeliaran di alam bebas. Pemandangan ini sungguh unik. Namun Anda harus berhati-hati, monyet-monyet tersebut sangat nakal dan kerap mencuri barang bawaan pengunjung.&lt;br /&gt;Berita 2&lt;br /&gt;Pada hari Rabu 2 Januari 2008, polisi kehutanan Taman Nasional Kelinci Seblat menangkap sindikat pencuri satwa liar. Barang bukti yang dapat dikumpulkan adalah monyet, orang utan, dan kulit harimau Sumatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan penyajian kedua teks berita tersebut adalah ….&lt;br /&gt;Teks berita 1 Teks berita 2&lt;br /&gt;a. berapa-siapa-kapan&lt;br /&gt;    Bagaimana-siapa-berapa&lt;br /&gt;b. kapan-mengapa-bagaimana&lt;br /&gt;    Kapan-mengapa-bagaimana&lt;br /&gt;c. siapa-bagaimana-kapan&lt;br /&gt;    Bagaimana-siapa-dimana&lt;br /&gt;d. berapa-apa-bagaimana&lt;br /&gt;    Kapan-siapa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. (1) Bangsa Indonesia hari ini memperingati Hari Sumpah Pemuda ke -79. (2)Sumpah pemuda intinya pengakuan bahwa para pemuda merupakan satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia, (3) Sebagian orang menatakan makna Sumpah Pemuda sekarang ini sudah luntur. (4) Namun, apapun pendapatnya yang pasti Sumpah Pemuda yang diikrarkan 28 Oktober 1928 telah menjadi tonggak sejarah. Kalimat opini yang ter dapat dalam paragraf ditandai nomor …..&lt;br /&gt;a. (1)     c.(3)&lt;br /&gt;b. (2)     d.(4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kalangan industri makanan dan minuman dalam negeri saat ini menjadi salah satu sektor yang terimbas lonjakan harga minyak dunia. Terlebih, harga bahan baku seperti tepung terigu, minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), kenaikan harga bahan bakar minyak akan menambah beban bagi industri makanan. Untuk mengurangi beban tersebut, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) meminta pemerintah memberikan keringan pajak. Sekretaris Jendral Gapmmi Franky Sibarni mengatakan, dengan adanya keringan biaya pajak pertambahan nilai (PPN) diharapkan industri makanan dalam negeri yang didominasi industri kecil dan menengah&lt;br /&gt;dapat bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpulan paragraf tersebut adalah….&lt;br /&gt;a. Keringanan pajak untuk mengurangi beban beban industri &lt;br /&gt;    makanan karena kenaikan minyak.&lt;br /&gt;b. Kenaikan harga bahan baker minyak mengakibatkan&lt;br /&gt;    harga bahan baku menjadi membumbung.&lt;br /&gt;c. Industri makanan dan minuman saat ini didominasi oleh&lt;br /&gt;    industri kecil ddan menengah.&lt;br /&gt;d. Kenaikan harga bahan bakar minyak akan menambah&lt;br /&gt;    beban bagi industri makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah tajuk berikut kemudian kerjakan soal nomor 9 dan 10 !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Usia lanjut dan keadaan sakit seeharusnya menjadi pertimbangan bagi kita untuk tidak mengadili mantan Presiden Suharto. (2) Pak Harto berjasa besar bagi Negara Indonesia. (3) Kekurangan dan kelemahan pasti ada. (4) Beliau bahkan harus membayar kelemahan itu dengan&lt;br /&gt;melepaskan jabatannya sebagai presiden pada tanggal 21 Mei 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Gagasan utama tajuk tersebut adalah ….&lt;br /&gt;   a. Presiden Suharto mempunyai kelemahan&lt;br /&gt;   b. Presiden Suharto mempunyai kelebihan&lt;br /&gt;   c. Mengadili Presiden Suharto karena sakit&lt;br /&gt;   d. Pertimbangan mengadili Presiden Suharto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Kalimat fakta pada tajuk tersebut ditandai dengan nomor&lt;br /&gt;    A. (1)    C. (3)  &lt;br /&gt;    B. (2)    D. (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah tajuk berikut kemudian kerjakan soal nomor 11 dan 12!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian Nasional&lt;br /&gt;Pemerintah sepertinya terus kukuh mempertahankan ujian nasional. Mulai tahun 2008, ujian nasional diekstensifikasi. Jika pada tahun-tahun sebelumnya ujian nasional ditujukan bagi siswa SMP/MTs dan SMA/MA, mulai tahun 2008 ujian nasional juga akan berlaku untuk jenjang SD/MI. Oleh karena itu, diterbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 34 Tanggal 5 November 2007 yang mengatur tatalaksana ujian nasiona. Hampir semua orang memberikan kritik dan protes untuk menolak ujian nasional. Protes yang baru saja berlalu adalah prote gencar ratusan pelajar tingkat SMA di berbagai kota. Mereka menolak penambahan mata pelajaran ujian nasional. Merekapun menolak kenaikan standar kelulusan menjadi rata-rata 4,50. Permendiknas Nomor 34 menegaskan sikap pemerintah terhadap kritik dan penolakan terhada pujian nasional. Bisa jadi argumen penolakan itu benar, namun di sisi lain ujian nasional mempunyai dampak positif terhadap pembelajaran. Di SMP kota Malang dan Surabaya, guru-guru terpacu bekerja keras agar anak didik lolos ujian nasional. Berbagai kiat dan program, seperti pemetaan materi esensial sesuai Standar Kompetensi Lulusan (SKl), latihan soal, dan bimbingan belajar dirancang sekolah agar murid-muridnya bisa lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Penulis tajuk tersebut lebih memihak kepada ….&lt;br /&gt;    a. guru   c. masyarakat&lt;br /&gt;    b. siswa   d. Pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Kesimpulan tajuk tersebut adalah ….&lt;br /&gt;    a. Masyarakat mempertahankan ujian nasional karena&lt;br /&gt;    berdampak positif terhadap guru dan siswa.&lt;br /&gt;    b. Masyarakat memprotes dan menolak ujian nasional&lt;br /&gt;    karena tidak berdampak positif terhadap pembelajaran.&lt;br /&gt;    c. Pemerintah mempertahankan ujian nasional karena&lt;br /&gt;    berdampak positif terhadap pembelajaran.&lt;br /&gt;    d. Pemerintah mengeluarkan Permendiknas No.34 Tanggal &lt;br /&gt;    5 November 2007 agar pelajar tidak protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.  GRAFIK HARGA BERAS&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan grafik tersebut jenis beras yang mengalami kenaikan harga Rp.250,00 setiap bulannya adalah ………..&lt;br /&gt;a. Cianjur   c. Raja Lele&lt;br /&gt;b. Cisadane   d. C4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Perhatikan tabel berikut tentang jumlah pengunjung&lt;br /&gt;      Museum Perjuangan Bogor!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Kategori Oktober November Desember Jumlah&lt;br /&gt;  Pria Wnt Pria Wnt Pria Wnt &lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;1 Pelajar 40 55 66 68 67 76 372&lt;br /&gt;2 Mahasiswa 65 60 60 43 78 91 397&lt;br /&gt;3 Umum 63 70 78 88 88 83 470&lt;br /&gt;  Jumlah 168 185 204 199 233 250 1239&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan yang sesuai dengan Tabel tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. Pengunjung Museum Perjuangan Bogor pada November&lt;br /&gt;    lebih banyak daripada Desember.&lt;br /&gt;b. Pengunjung Museum Perjuangan Bogor tiap bulannya&lt;br /&gt;    selalu mengalami peningkatan.&lt;br /&gt;c. Museum Perjuangan Bogor pria lebih banyak daripada&lt;br /&gt;    wanita.&lt;br /&gt;d. Museum Perjuangan Bogor lebih sedikit mahasiswa&lt;br /&gt;    daripada pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Pengganti UU&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;15.Isi bagian tersebut adalah …..&lt;br /&gt; a. Presiden bersama DPR berhak membuat peraturan&lt;br /&gt;    pemerintah pengganti undang-undang atas persetujuan&lt;br /&gt;    MPR.&lt;br /&gt;b. Presiden bersama MPR berhak membuat peraturan&lt;br /&gt;    pemerintah pengganti undang-undang atas&lt;br /&gt;    persetujuan DPR.&lt;br /&gt;c. Peraturan pemerintah pengganti undang-undang yang&lt;br /&gt;    diajukan oleh presiden harus disetujui oleh DPR, jika&lt;br /&gt;    tidak harus dicabut.&lt;br /&gt;d. Peraturan pemerintah pengganti undang-undang yang &lt;br /&gt;    diajukan oleh DPR harus disetujuioleh presiden, jika tidak&lt;br /&gt;    harus dicabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Jon dan Con anak kembar. Jon kepala r egu, aku wakilnya dan Con brenschutter. Kami bersepuluh sedang memandang daerah patroli “Tiger Brigade” dengan seksama dari puncak bukit “panic”, pos kami terdepan yang kami namai begitu karena rupanya dari jauh seperti panic terbalik. Con berjongkok di samping kakaknya yang sedang meneropong semak-semak dari kampung-kampung di bawah kami dengan teliti. Mereka sama tinggi, hampir sama raut mukanya dan sama muda : 17 tahun.&lt;br /&gt;Jon melambai dan aku mendekat.&lt;br /&gt;“Aku turun ke kampong di bawah itu.”&lt;br /&gt;“Kenapa ndak semua?”&lt;br /&gt;“Kalian jalannya berat seperti gajah dan mulut kalian &lt;br /&gt; cerewet seperti bebek. Nggak, semua tinggal di sini, kamu&lt;br /&gt; ambil pimpinan.….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang cerpen di atas adalah …&lt;br /&gt;a. daerah patroli c. kampung&lt;br /&gt;b. puncak bukit  d. semak-semak belukar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Sejak berpisah dengan burung kesayangannya Mbah Parto, bukan sakit encok seperti biasanya, namun sakitnya lebih merupakan sakit rohani ketimbang sakit jasmani. Tiga bulan yang lalu burung perkutut yang sudah “kung” itu dibeli Pak Umar. Sebetulnya Mbah Parto tak hendak melepaskan burung kesayangannya. Namun, karena Pak Umar mendesak dan meninggalkan penawaran sampai delapan ratus ribu rupiah, akhirnya Mbah Parto merelakan perkutut itu dibeli. Ia mengira dengan uang sebanyak itu dia dapat membeli perkutut lagi dan sisanya untuk membeli kebutuhan hidup. Namun yang terjadi di luar perkiraannya. Semenjak berpisah dengan&lt;br /&gt;burung perkututnya, Mbah Parto justru menderita. Tubuhnya semakin kurus dan akhirnya jasmaniahnya tak kuat, ia terbaring sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanat yang terkandung dalam cerpen tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. Jangan menyayangi sesuatu secara berlebihan.&lt;br /&gt;b. Jangan mudah tergiur oleh uang yang banyak.&lt;br /&gt;c. Jangan tergesa-gesa membuat keputusan.&lt;br /&gt;d. Jangan memaksakan kehendak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Fajar : Aku menemukan dompet!&lt;br /&gt;Putri : Ayo buka! Ada uangnya nggak? Ayo cepatan!&lt;br /&gt;Fajar : Ah ada polisi di sana!&lt;br /&gt;Putri : Jangan takut! Tenang ada saya.&lt;br /&gt;Fajar : Tapi aku takut (ketika akan membuka dompet, ia&lt;br /&gt;            berlari)&lt;br /&gt;Putri : Kenapa kau lakukan itu”? Kau berikan dompet itu&lt;br /&gt;          ke polisi?&lt;br /&gt;Fajar : Aku sendiri nggak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kutipan drama tersebut, watak Fajar adalah …&lt;br /&gt;a. setia     c. jujur&lt;br /&gt;b. jahat     d. pemberani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Pada hari Senin 21 Januari 2008 kamu ditunjuk menjadi petugas pengibar bendera. Kamu dapat melaksanakannya dengan baik dan mendapat pujian dari teman-temanmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan buku harian yang paling sesuai dengan ilustrasi tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. Senin, 21 Januari. Hari ini aku senang sekali. Pagi tadi aku ditunjuk menjadi salah satu petugas upacara sebagai pengibar bendera. Aku dapat melaksanakannya dengan baik. Guru-guru juga memuji kemampuanku.&lt;br /&gt;b. Senin, 21 Januari 2008. Hari ini aku senang sekali. Pagi tadi aku ditunjuk menjadi salah satu petugas upacara, yaitu sebagai pengibar bendera. Aku dapat melaksanakannya dengan baik. Teman-temanku juga memuji kemampuanku.&lt;br /&gt;c. Aku senang sekali. Aku ditunjuk menjadi salah satu petugas. Aku dapat melaksanakannya dengan baik. Teman-temanku juga memuji kemampuanku.&lt;br /&gt;d. Alangkah senangnya hari senin ini. Kita ditunjuk menjadi salah satu petugas upacara, yaitu sebagai pengibar bendera. Kita dapat melaksanakannya dengan baik. Teman-temanku juga memuji kepemimpinanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Buat sahabatku&lt;br /&gt;    Tri Lesmanawati&lt;br /&gt;    Assalamu’alaikum Wr.Wb.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;    Aku sudah rindu ingin bertemu denganmu. Kapan kamu main ke Bandung? Tentunya aku &lt;br /&gt;  akan senang jika kamu mampir ke rumahku. Kamu akan saya ajak jalan-jalan di &lt;br /&gt;  kotaku. Begitu juga jika aku berlibur ke Bogor. Aku akan mampir kr rumahmu juga. &lt;br /&gt;  Sekian dulu ya, kutunggu kedatanganmu di Bandung.&lt;br /&gt;    Assalamualaikum Wr.Wb.&lt;br /&gt;    Salam rindu&lt;br /&gt;    Dinar Triansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat pembuka surat tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. Bagaimana kabarmu?semenjak aku tinggal di Bogor,&lt;br /&gt;    aku selalu ingat padamu. Aku dalam keadaan sehat&lt;br /&gt;    dan semoga kamu pun beserta keluarga selalu sehat.&lt;br /&gt;b. Bagaimana pun kau kau adalah sahabatku. Aku&lt;br /&gt;    akan selalu membalas surat-suratmu walaupun&lt;br /&gt;    terlambat. Mohon maaf dan terima kasih atas&lt;br /&gt;    perhatianmu.&lt;br /&gt;c. Tri aku masih banyak tugas dari sekolah karena&lt;br /&gt;    menjelang ujian nasional. Aku sambung lagi di lain&lt;br /&gt;    kesempatan. Jangan lupakan aku ya!&lt;br /&gt;d. Tri sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabarmu?aku&lt;br /&gt;    di Bandung dalam keadaan sehat. Semoga kamu pun&lt;br /&gt;    beserta keluarga selalu sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. SMPN 2 Cicurug akan mengadakan studi wisata pada hari Kamis, 6 Maret 2008. &lt;br /&gt;    Sebelum berangkat peserta mengundang ketua Komite SMPN 2 Cicurug untuk mengikuti &lt;br /&gt;    kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Isi undangan yang sesuai dengan ilustrasi tersebut adalah...&lt;br /&gt;a.   Dengan hormat, kami beritahukan bahwa kami akan mengadakan kegiatan studi &lt;br /&gt;   wisata yang akan kami selenggarakan pada,&lt;br /&gt;   hari, tanggal  : Kamis, 6 Maret 2008&lt;br /&gt;   waktu berangkat  : pukul 07.00&lt;br /&gt;   tempat berkumpul  : SMPN 2 Cicurug&lt;br /&gt;b.   Dengan hormat, kami mengundang, Bapak/Ibu untuk mengikuti studi wisata yang     &lt;br /&gt;   akan kami selenggarakan pada,&lt;br /&gt;   hari, tanggal  : Kamis, 6 Maret 2008&lt;br /&gt;   waktu berangkat  : pukul 07.00&lt;br /&gt;   tempat berkumpul  : SMPN 2 Cicurug&lt;br /&gt;c.   Dengan hormat, kami mengajukan permohonan izin untuk mengadakan kegiatan studi &lt;br /&gt;   wisata yang akan kami selenggarakan pada,&lt;br /&gt;   hari, tanggal  : Kamis, 6 Maret 2008&lt;br /&gt;   waktu berangkat  : pukul 07.00&lt;br /&gt;   tempat berkumpul  : SMPN 2 Cicurug&lt;br /&gt;d.   Dengan hormat, Kami mengundang Bapak/Ibu untuk mengikuti rapat persiapan &lt;br /&gt;   kegiatan studi wisata yang akan kami selenggarakan pada,&lt;br /&gt;   hari, tanggal  : Kamis, 6 Maret 2008&lt;br /&gt;   waktu berangkat  : pukul 07.00&lt;br /&gt;   tempat berkumpul  : SMPN 2 Cicurug&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Kepala sekolah ingin emngetahui petugas TU yang rajin dan berdisiplin. Dia akan memberikan penghargaan di hari ulang tahun sekolahnya. Dia menulis memo kepada kepala Urusan TU.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Isi memo yang tepat sesuai dengan ilustrasi tersebut adalah.....&lt;br /&gt;a. Minta dikirim data petugas TU yang telah menerima&lt;br /&gt;    penghargaan dari sekolah.&lt;br /&gt;b. Segera disiapkan jumlah petugas TU laki-laki dan&lt;br /&gt;    perempuan untuk diberi penghargaan.&lt;br /&gt;c. Mohon di data petugas TU yang paling rajin dan disiplin&lt;br /&gt;    untuk diberi penghargaan.&lt;br /&gt;d. Tolong dihitung jumlah penghargaan yang pernah&lt;br /&gt;    diterima oleh petugas TU yang rajin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.  1. Kami beristirahat, mandi, sholat subuh, dan &lt;br /&gt;           Sarapan pagi.&lt;br /&gt;2. Kami jadi mengetahui bahwa gua ini berasal dari&lt;br /&gt;    gunung kapur yang terkikis aliran air bawahtanah.&lt;br /&gt;3. Sekitar pukul 07.00 kami masuk Goa Jati Jajar.&lt;br /&gt;4. Pada pukul 03.00 tanggal 18 Januari 2003 kami tiba&lt;br /&gt;    di objek wisata Goa Jati Jajar.&lt;br /&gt;5. Kami menelusuri lorong gua sambil melihat stalaktit&lt;br /&gt;    dan stalagmit serta menanyakan kepada guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat tersebut akan menjadi laporan yang sistematis bila disusun dengan urutan ….&lt;br /&gt;a. 4-1-3-5-2   c. 3-4-5-2-1&lt;br /&gt;b. 4-3-1-2-5   d. 5-4-3-2-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Cara Membuat Saus Tomat :&lt;br /&gt;1. Tomat tersebut di cuci sampai bersih, kemudian dipanaskan dengancara mengukus selama lima menit!&lt;br /&gt;2. Saus tomat dimasukkan ke dalam botol!&lt;br /&gt;3. Selama proses penghancuran tambahkan bumbu-&lt;br /&gt;    bumbu sesuai dengan selera!&lt;br /&gt;4. Pilihlah tomat yang tua dan berwarna merah!&lt;br /&gt;5. Setelah menjadi bubur yang halus, kemudian masak!&lt;br /&gt;6. Tomat yang sudah di kukus kemudian dikupas lalu&lt;br /&gt;    diblender/dihancurkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan cara yang tepat membuat saus tomat tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. 1-4-3-6-2-5   c. 3-6-5-1-4-2&lt;br /&gt;b. 4-1-6-3-5-2   d. 6-2-4-5-2-4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.  Hampir semua jenis penyu di lindungi oleh undang-undang nasional maupun internasional karena dikhawatirkan akan punah. Di samping penyu belimbing, dua spesies lain yakni penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conversation (IUCN). Sedangkan penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang atau penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), dan penyu tempayan atau loggerhead (Carreta carreta) digolongkan sebagai terancam punah. Hanya penyu pipih (Natator depressus) yang diperkirakan tidak terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkuman yang tepat berdasarkan kutipan tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a.   Penyu dilindungi oleh undang-undang karena terancam punah. Penyu yang terancam punah adalah penyu belimbing, Kemp’s Ridley, penyu sisik, penyu hijau, penyu lekang, dan penyu tempayan. Penyu yang tidak terancam punah adalah penyu pipih.&lt;br /&gt;b.   Semua jenis penyu dilindungi oleh undang-undang internasional karena terancam punah. Penyu yang tidak terancam punah adalah penyu belimbing, Kemp’s Ridley, penyu sisik, penyu hijau, penyu lekang, dan penyu tempayan. Penyu yang terancam punah adalah penyu pipih.&lt;br /&gt;c.   The World Conversation Union (IUCN) menyatakan bahwa semua jenis penyu telah punah. Penyu-penyu tersebut adalah penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik, penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan penyu tempayan atau loggerhead (Carreta carreta).&lt;br /&gt;d.   Hampir semua jenis penyu d ilindungi oleh undang-undang. Di samping penyu belimbing, dua spesies lain yakni penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Kamu akan menjual sepeda motor Honda Revo keadaan motor tersebut mulus.Pemiliknya baru kamu sendiri. Kamu akan menjualnya seharga &lt;br /&gt;Rp 10.000.000,00. Bila ada yang berminat bisa menghubungi nomor telefon ( 0251) 647206&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat iklan yang tepat berdasarkan ilustrasi tersebut adalah ….&lt;br /&gt;A. Djl. Spd motor Honda. Warna htm silver. Satu&lt;br /&gt;     tangan. Rp 10 jt. Hub (0251) 647206&lt;br /&gt;B. Dbthkn. Spd motor Honda Revo. Muluis. Pindah&lt;br /&gt;     tangan. Rp 10 jt. Hub (0251) 647206&lt;br /&gt;C. Djl. Spd motor Honda Revo. Mulus. Satu tangan. &lt;br /&gt;     Rp 10 jt. (0251) 647206&lt;br /&gt;D. Djl. Spd motor. Mulus. Satu tangan. Harga murah. &lt;br /&gt;     Rp 10 jt. (0251) 647206&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. SMPN 2 Ciracap mengadakan acara pentas seni tahun pelajaran 2007/2008. Tempat kegiatan aula sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambutan yang tepat untuk membuka kegiatan tersebut adalah ….&lt;br /&gt;A. Puji syukur, marilah kita panjatkan kepada Tuhan&lt;br /&gt;     Yang Maha Esa. Berkat rahmatnya kita dapat hadir&lt;br /&gt;     dalam acara pentas seni tahun pelajaran 2007/2008.&lt;br /&gt;B. Dengan mengucapkan puji syukur, saya nyatakan&lt;br /&gt;    acara pentas seni tahun pelajaran 2007/2008 di buka.&lt;br /&gt;    Semoga sukses, lancer, dan Tuhan Yang Maha Esa &lt;br /&gt;    selalu bersama kita.&lt;br /&gt;C. Dalam acara pentas seni SMPN 2 Ciracap, kami &lt;br /&gt;     mengharapkan hadirin dapat mengapresiasi &lt;br /&gt;     tampilan-tampilan kesenian yang dibawakan oleh&lt;br /&gt;     siswa kelas VII,VIII, IX.&lt;br /&gt;D. Pada hari ini kita akan mendeskripsikan persiapan&lt;br /&gt;    pembukaan acara pentas seni yang diselenggarakan&lt;br /&gt;    di aula SMPN 2 Ciracap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Judul buku : Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah&lt;br /&gt;Pengarang : Pinus Lingga&lt;br /&gt;Penerbit  : Penebar Swadaya&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 2004&lt;br /&gt;Kota terbit : Jakarta&lt;br /&gt;Penulisan daftar pustaka yang tepat berdasarkan data bukku di atas adalah ….&lt;br /&gt;a.  Pinus, Lingga. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. 2004. Jakarta : Penebar Swadaya.&lt;br /&gt;b.  Pinus, Lingga. 2004. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Jakarta : Penebar Swadaya.&lt;br /&gt;c.  Lingga, Pinus. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. 2004. Jakarta : Penebar Swadaya.&lt;br /&gt;Penebar Swadaya.d.  Lingga, Pinus. 2004. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Jakarta : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Tema : Pengelolaan sampah&lt;br /&gt;Rumusan masalah yang tepat berdasarkan tema tersebut adalah …&lt;br /&gt;a. Siapa yang mebuang sampah sembarangan?&lt;br /&gt;b. Mengapa sampah selalu menumpuk?&lt;br /&gt;c. Bagaimana cara penanganan sampah?&lt;br /&gt;d. Berapa orang yang membuang sampah setiap hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Identifikasi masalah kar ya ilmiah :&lt;br /&gt;Adakah manfaat dan srikaya dan hama weereng?&lt;br /&gt;Bagaimana pemanfaatan daun srikaya dan daun tembakau?&lt;br /&gt;Latar belakang yang tepat untuk identifikasi masalah tersebut di atas adalah …&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;a. daun srikaya dan tembakau ternyata dapat dijadikan pestisidauntuk menghalau hama wereng. Penggunaan daun-daun tersebut sebagai upaya pengganti zat kimia dalam pertanian organik.&lt;br /&gt;b. Dalam pertanian organik penggunaan zat kimia sangat dihindari. Par a petani harus mencari pestisida pengganti yang berasal dari daun-daunan.&lt;br /&gt;c. Daun srikaya besar yang dicampur daun tembakau, kemudian direndam selama semalam, bisa dijadikan pestidida untuk menghalau hama wereng.&lt;br /&gt;d. Daun tembakau dipakai untuk melepas cengkraman lintah yang menempel. Caranya, sengan menyiramkan air tembakau pada tanaman srikaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.  Jalan-jalan ke Surabaya&lt;br /&gt;Banyak tempat memikat hati&lt;br /&gt;Tak usah sedih adik berdua&lt;br /&gt;……......&lt;br /&gt;Larik yang tepat untuk melengkapi pantun rumpang tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. Lebih baik bercanda tawa&lt;br /&gt;b. Lebih baik bergembira ria&lt;br /&gt;c. Lebih baik makan hati&lt;br /&gt;d. Lebih baik bergirang hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. Di jalan simpang kita berpisah&lt;br /&gt;Gubahan bunga gemetar di tangan&lt;br /&gt;Dan sambil kita berpandangan&lt;br /&gt;Jatuh rangkaian, dua……&lt;br /&gt;Kata yang tepat untuk melengkapi kutipan puisi tersebut agar berirama sama dengan baris&lt;br /&gt;pertama adalah ….&lt;br /&gt;a. terbagi    c. berbelah&lt;br /&gt;b. cinta    d kekasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. (1) Lurah : Saya mesti tetap memikirkannya, Pak Jagabaya. Saya tidak akan berdiam diri menghadapi persoalan ini.&lt;br /&gt;(2) Jagabaya : Tapi, Pak Lurah, Saya rasa tindakan Pak Lurah dalam menghadapi persoalan ini kurang tegas dan kurang tepat!&lt;br /&gt;(3) Lurah : ….&lt;br /&gt;(4) Jagabaya : Memang tidak perlu grusa-grusu, Pak Lurah. Tapi tidak grusa-grusu pula berarti diam menunggu berita. Bapak kan tinggal memberikan perintah kepada saya untuk mengerahkan para pemuda untuk mengadakan ronda malam.&lt;br /&gt;(5) Lurah : Iya, saya tahu, tapi dalam saat-saat terakhir ini pemuda desa kita sedang saya gembleng dalam mendalami kesenian karena Bapak Bupati akan datang ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang penggalan drama tersebut adalah …..&lt;br /&gt;a.   Oke saya kurang tegas tapi Pak Jagabaya pun sama, bahkan selalu dan selalu menunggu perintah. Sekali-kali inisiatif sendiri, dong. Bukannya menjelek-jelekkan saya.&lt;br /&gt;b.    Kok Pak Jagabaya jadi menilai saya kurang tegas dalam hal ini. Saya banyak pekerjaan bukan masalah ini saja yang perlu saya pikirkan. Saya tidak mau dikatakan seperti itu.&lt;br /&gt;c.   Saya paham benar arah pembicaraan Pak Jagabaya. Saya harus segera menindak orang yang berkelakuan grusa-grusu tersebut. Siapa sih mereka?&lt;br /&gt;d.   Saya sadari, saya kurang tegas dalam hal ini. Tapi tindakan saya yang kurang cepat ini tidak ada maksud apa-apa. Dalam menghadapi persoalan ini saya tidak mau grusa-grusu&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;34. Suasana yang tergambar dalam kutipan drama tersebut&lt;br /&gt;      adalah ….&lt;br /&gt;a. penuh keakraban  c. membosankan&lt;br /&gt;b. terlalu kaku   d. menegangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. Bukti bahwa Jagabaya mempunyai watak berani mengemukakan pendapat terdapat pada dialog bernomor …&lt;br /&gt;a. (1)     c. (3)  &lt;br /&gt;b. (2)     d. (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. Di kabupaten Bogor mempunyai beberapa objek wisata yang menarik. Khusus di Bogor Barat terdapat Gunung Salak Endah yang memiliki ketinggian 2.211 m dpl. Objek wisata yang tak kalah menarik adalah gua Gudawang yang terletak di Desa Argapura Cigudeg. Gua ini mempunyai panjang 450 m dengan lebar 1-4 m. Objek wisata yang lainnya adalah situ Kadongdong yang terletak di Jasinga. Situ ini berbentuk memanjang sehingga cocok untuk olah raga ski air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat tidak efektif dalam paragraf tersebut di atas adalah …&lt;br /&gt;A. Objek wisata yang tak kalah menarik adalah gua&lt;br /&gt;    Gudawang yang terletak di Desa Argapura Cigudeg.&lt;br /&gt;B. Khusus di Bogor Barat terdapat Gunung Salak Endah&lt;br /&gt;     yang memiliki ketinggian 2.211 m dpl.&lt;br /&gt;C. Gua ini mempunyai panjang 4500 meter dengan&lt;br /&gt;     lebar 1-4 m.&lt;br /&gt;D. Di kabupaten Bogor mempunyai beberapa objek&lt;br /&gt;     wisata yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37.(1) Dunia sungguh dibuat terkejut dan terguncang oleh tragedi pembunuhan pemimpin oposisi Pakistan, mantan Perdana Menteri Benazir Bhuto. (2) Benazir tewas ditembak hari kamis 27 Desember 2007 oleh penyerang bom bunuh diri. (3) Pakistan dan dunia akan merayakan atas kepergian seorang perempuan yang memberikan banyak inspirasi bagi perjuangan kaumnya. (4) Beliau menjadi pejuang demokrasi dan modernisasi bagi negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar menjadi paragraf yang padu, perbaikan kalimat nomor (3) yang tepat adalah…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Di Pakistan dan dunia akan berkabung atas kepergian seorang perempuan yang memberikan banyak inspirasi bagi perjuangan kaumnya.&lt;br /&gt;b. Pakistan dan dunia berkabung atas kepergian seorang perempuan yang memberikan banyak inspirasi bagi perjuangan kaumnya.&lt;br /&gt;c. Pakistan dan dunia akan merayakan kepergian seorang perempuan yang memberikan banyak inspirasi bagi perjuangan kaumnya.&lt;br /&gt;d. Negara Pakistan dan dunia diperingati kepergian seorang perempuan yang memberikan banyak inspirasi bagi perjuangan kaumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38. Sejak peristiwa itu hingga kini aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Terhadap dia sama sekali aku tak punya pikiran apa-apa. Sudah sangat lama sekali bagiku peristiwa itu sudah kulupakan. Lebih baik, aku memikirkan masa depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan kalimat yang kurang efektif dalam paragraf tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. kalimat keempat  c. kalimat kedua&lt;br /&gt;b. kalimat kesatu  d. kalimat ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39.  Hari pun rapuh&lt;br /&gt;Bagai benang laba-laba&lt;br /&gt;Cahaya memucat&lt;br /&gt;Bulan April gemetar&lt;br /&gt;Dalam angina dan sayup-sayupnya&lt;br /&gt;Lembut bagai bulu&lt;br /&gt;.............&lt;br /&gt;Dalam kedamaian yang hening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat bermajas yang tepat untuk melengkapi puisi rumpang tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. aku bernyanyi   c. dia berdendang&lt;br /&gt;b. sungai berair   d. sungai bernyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah puisi berikut dengan seksama kemudian kerjakan soal nomor 40 s.d. 42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis Peminta-minta&lt;br /&gt;......................&lt;br /&gt;Ingin aku ikut, kecil berkaleng kecil&lt;br /&gt;Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok&lt;br /&gt;Hidup dari kehidupan angan-angan yang bergemerlapan&lt;br /&gt;Gembira dari kemayaan riang&lt;br /&gt;Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral&lt;br /&gt;Melintas-lintas di atas air kotor&lt;br /&gt;Tapi yang begitu kau hapal&lt;br /&gt;Jiwa begitu murni, terlalu murni&lt;br /&gt;Untuk bisa membagi dukaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40.  Amanat kutipan puisi tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. Hiasilah kehidupan ini dengan menara katedral&lt;br /&gt;b. Hidup pengemis penuh liku-liku&lt;br /&gt;c. Jangan iri terhadap kehidupan orang lain&lt;br /&gt;d. Sudah selayaknya kita bermimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41. Suasana yang tergambar pada puisi tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. gembira    c. mencekam&lt;br /&gt;b. haru    d. menakutkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42. Citraan bait kedua kutipan puisi tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. pendengaran  c. penglihatan&lt;br /&gt;b. penciuman  d. perasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan Novel 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alimah tiada menjawab pertanyaan ayahnya ini, melainkan tunduk kemalu-maluan. “rupanya mak mudamu ini, suka kepada laki-laki yang beristri banyak, Nurbaya; sebab itu baiklah kau pinangkan aku perempuan barang selusin lagi. Kalau tiada, izin nanti minta surat cerai kepadaku, sebab malu kepada orang, suaminya tak laku kepada perempuan, “kata Ahmad Maulana pula.&lt;br /&gt;Nurbaya pun tiada berani menjawab olok-olok itu hanya tersenyum, karena dilihatnya mak mudanya merengut.&lt;br /&gt;“Suatu lagi yang tidak baik,” kata Ahmad Maulana, sedang senyumnya hilang dari bibirnya, perkawinan itu dipandang sebagai perniagaan. Di negeri lain, perempuan yang dijual kepada lelaki, artinya si laki-laki harus memberi uang kepada si perempuan. Akan tetapi, di sini laki-laki dibeli&lt;br /&gt;oleh perempuan, sebab perempuan hanya diperhubungkan oleh tali uang saja karena keinginan kepada keturunan yang baik; sekali-kali tidak dipertalikan oleh cinta kasih. Itulah sebabnya tali silaturahmi antara suami dan istri mudah putus, sehingga lekas bercerai pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan Novel 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuti terus mengetik. Beberapa lamanya berdetik-detik dan berderes-deres mesin tulis kena tangannya yang halus. Tetapi, tiba-tiba ia berhenti pula dan tangannya dibenamkan ke dalam rambutnya selaku orang putus asa. Berderes dilihatnya kertas pada mesin tulis itu dan dikeremukkannya ke dalam keranjang sampai di bawah meja tulisnya. Ia tidak dapat memahami dirinya lagi. Kepalanya panas dan tak kuat terasa oleh urat keningnya memukul. Ia pun berdiri dan berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya itu. Sekaliannya sempit kelihatan olehnya. Seluruh isi kamar itu selaku mati belaka. Alangkah kosong rasa hatinya! Tetapi, ia tidak tahu, tak dapat tahu apa yang dihasratkannya. Lemari buku yang bersusunkan buku-buku yang setiap hari menjadi teman karibnya itu, pada waktu itu seperti memusuhinya dan tiadalah terkata benci hatinya melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43. Perbedaan karakteristik kedua kutipan novel tersebut adalah............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan Novel1                           Kutipan Novel 2&lt;br /&gt;A. Perempuan berada dipihak  &lt;br /&gt;    yang lemah                          Perempuan menunjukkan kemandirian&lt;br /&gt;B. Perempuan menjadi  &lt;br /&gt;     pendobrak laki-laki          Perempuan menunjukkan kekuatan&lt;br /&gt;C. Adat menguntungkan laki-laki          Adat menguntungkan perempuan&lt;br /&gt;D. Etika berpihak pada perempuan         Laki-laki bebas etika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah kutipan novel berikut dengan seksama kemudian kerjakan soal nomor 44 dan 45 !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, Ego, buka bajumu cepat!” seru anak-anak desa yang sedang asyik bermain air di sungai.Ego Cuma tersenyum menanggapi ajakan anak-anak desa tersebut.&lt;br /&gt;Alangkah enaknya mandi di air sungai yang airnya jernih. Apalagi udara sudah mulai panas pula. Tanpa membuang waktu, segera Ego melepas baju dan celananya. Sekarang ia sudah mengenakan pakaian renang. Sebelum terjun, Ego mencari tempat yang lebih tinggi. Dia ingin memperlihatkan kepandaiannya terjun dan melompat dari tempat yang tinggi. Maklum Ego adalah&lt;br /&gt;anak kota yang biasanya berlatih berenang di kolam renang yang disertai dengan papan lompat yang tinggi. Setelah berdiri di tempat yang paling tinggi di sungai, Ego pun mengambil ancang-ancang melompat. Dengan gaya bak seorang perenang hebat yang penuh percaya diri, Ego pun melompat ke dalam sungai.&lt;br /&gt;Byuuuur. Air bercipratan ke mana-mana.&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat, Ego tidak juga muncul ke permukaan. Anak-anak desa berpikir, Ego melompat langsung menyelam dan tahu-tahu akan muncul di seberang sungai yang lebar itu. Mereka menduga Ego ingin membuat kejutan, tapi, tiba-tiba….. “Toloooong…toloooong” terdengar teriakan dari arah hilir sungai. Jaraknya cukup jauh dari Ego terjun. Semua anak desa itu menoleh ke&lt;br /&gt;sumber suara. Ternyata Ego, yang muncul timbul tenggelam, tetapi suara minta tolongnya masih terdengar.&lt;br /&gt;Anak-anak segera berenang ke ar ah Ego. Mereka beramai-ramai menarik tubuh Ego ke pinggir sungai. Lalu anak yang paling besar membantu Ego mengeluarkan air yang tertelan. Setelah beberapa lama duduk, Ego dengan wajah malu menatap wajah anak-anak desa yang menolongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44.  Nilai moral yang terdapat pada kutipan novel tersebut adalah …&lt;br /&gt;a. Ego yang menunjukkan kepandaiannya berenang&lt;br /&gt;    kepada anak-anak desa&lt;br /&gt;b. Anak-anak desa menduga bahwa Ego ingin membuat&lt;br /&gt;    kejutan kepadanya&lt;br /&gt;c. Anak-anak desa mendengar suara minta tolong dari&lt;br /&gt;    arah hilir sungai&lt;br /&gt;d. Anak-anak desa mennolong Ego yang timbul&lt;br /&gt;    tenggelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45. Cara mengetahui bahwa Ego berwatak sombong pada kutipan novel tersebut adalah …&lt;br /&gt;a. diceritakan pengarang&lt;br /&gt;b. diceritakan tokoh lain&lt;br /&gt;c. tindakan tokoh&lt;br /&gt;d. dialog antar tokoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46. .......................................&lt;br /&gt;Beberapa hal yang biasa kita lakukan terhadap teman-teman kita di Aceh dan Nias menghibur mereka dan membantu belajarnya. Sebagai wujud hiburan marilah kita berkirim surat kepada teman-teman kita di Aceh dan Nias. Selanjutnya, kita perlu juga membantu belajar mereka. Ayo,&lt;br /&gt;kita kumpulkan buku-buku pelajaran yang masih layak pakai untuk kita kirim ke sana. Momen ini sangat cocok untuk hal yang terakhir. Teman-teman kita tidak boleh ketinggalan dalam belajar meski suasananya berbeda dengan kita di sini. Bagaimana teman-teman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf pembuka pidato yang tepat untuk melengkapi teks pidato tersebut adalah …&lt;br /&gt;a. Terima kasih saya sampaikan kepada teman-teman yang telah hadir di tempat ini. Semoga perjalanan teman-teman ke sini mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemurah, sehingga tujuan pertemuan kita tentang upaya meringankan beban teman-teman kita akibat gempa bumi dan gelombang tsunami pada 26 Desember yang lalu berlangsung lancar.&lt;br /&gt;b. Saya sangat gembira terhadap upaya teman-teman dalam menggalang persepsi terhadap pertemuan ini. Ternyata di antar kita memiliki kesepahaman niat. Oleh karena itu, segera kita lakukan setelah pertemuan kita hari ini. Berikutnya kita tetap berkomunikasi sampai bertemu&lt;br /&gt;pada tiga hari mendatang. Terima kasih.&lt;br /&gt;c. Ungkapan terima kasih ini patut saya lahirkan kepada seluruh rakyat dan bangsa Indonesia yang telah berpartisipasi dalam acara penggalangan dana. Dana ini segera akan kami salurkan kepada yang berhak, melalui jalur yang sudah kami bentuk secara transparan dan&lt;br /&gt;professional. Sekali lagi saya sampaikan terima kasih.&lt;br /&gt;d. Sepatutnya kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kita senantiasa diberi kemudahan dalam belajar. Kita telah berhasil menyelesaikan karya tulis sederhana tentang gempa. Kita juga mampu menulis surat tentang tsunami. Apalagi sebentar lagi kita akan lulus SMP. Jadi, banyaklah bersyukur.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;47. Berita Gembira&lt;br /&gt;Daftarkan segera “Lomba Lawak” di sekolah kita. Lomba ini terlaksana bertepatan dengan malam kesenian dan pembagian hadiah. Hadiri dan saksikan, Sabtu, 17 November 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat poster yang tepat sesuai dengan ilustrasi tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. Untuk apalagi! Ayo daftar dan ikutan!&lt;br /&gt;b. Tunggu apalagi! Tertawa itu ibadah lo!&lt;br /&gt;c. Kapan lagi kalau bukan sekarang? Ikuti dan meriahkan&lt;br /&gt;    HUT ke 62 RI!&lt;br /&gt;   d. Hadiri dan saksikan, Sabtu, 17 November 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48. Nanang membutuhkan uang untuk membayar kuliah. Ia bermaksud ingin menjual sepeda motor yang biasa ia pakai. Motor Mio buatan tahun 2006 berwarna kuning itu akan dipasarkan melalui iklan baris. Pembeli dapat menghubungi HP 08135566550.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan baris yang tepat berdasarkan ilustrasi tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. Mio 2006 Jl Cpt BU Kds mls wn kuning Hub. Nanang&lt;br /&gt;    HP 08135566550&lt;br /&gt;b. Mio 2006 Jl Cpt Bu Kds mls Wn kuning. Hubungi&lt;br /&gt;    Nanang tanpa perantara&lt;br /&gt;c. Motor Mio 2006 Jl Cpt BU Kds mls Wn kuning rasing&lt;br /&gt;    Hub Nanang&lt;br /&gt;d. Ingin membeli sepeda motor Mio 2006? Hubungi &lt;br /&gt;    Nanang HP 08135566550&lt;br /&gt;Riri masih saja merujuk pada Maminya yang lagi sibuk di dapur memasak untuk pesanan catering. Riri minta dibelikan walkman seperti Adoy, kakaknya. alasannya, Adoy tidak mau meminjamkan walkmannya. Terus, alasan lainnya adalah biar Riri lebih konsentrasi dalam belajar.&lt;br /&gt;Lho…. Aoa hubungannya walkman dengan konsentrasi dalam belajar? O…. maksudnya Riri, dia lebih bisa konsentrasi dalam belajar bila sambil mendengarkan musik, itulah yang menjadi mami, apakah Riri termasuk dalam beberapa orang itu. Tapi Riri tetap meyakinkan mami, bila dia belajar sambil mendengarkan walkman.&lt;br /&gt;“Ya, Mami…. Beliin walkaman, ya…”rajuk Riri&lt;br /&gt;“Kenapa kamu gak pinjem saja kepunyaan kakakmu?” kata mami santai sambil memasukkan makanan ke tempat makanan.&lt;br /&gt;“Ya Mami kayak gak tau Adoy aja ….. dia kan pelit banget walaupun sama Riri, Adiknya sendiri,” gumam Riri.&lt;br /&gt;“Wajar aja gue pelit ama lo, abis setiap barang yang lo pinjam selalu jadi hak milik, sih” kata Adoy yang entah kapan sudah berada di dapur sambil memeriksa isi kulkas, siapa tahu ada kue atau buah dalam kulkas yang bisa dinikmati.&lt;br /&gt;“Udahlah, Doy, Pinjemin adiknya,”pinta Mami&lt;br /&gt;“Enggak,” kata Adoy sambil pergi, meninggalkan dapur dan membawa seepotong kue tart.&lt;br /&gt;“Tuh kan, Mi, Adoy pelit,” Rajuk Riri.&lt;br /&gt;“Ya udah kalau gitu, kamu pake tape recorder Mami aja tuh.”&lt;br /&gt;“Ya Mami… itukan gede banget nggak bisa di bawa-bawa,” gerutu Riri. Setelah itu pun Riri diam. Dia berpikir, sepertinya percuma, Mami nggak akan ngebeliin Walkman buatnya, Riri pun pergi meninggalkan dapur Mami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49. Konflik utama dalam kutipan tersebut adalah ….&lt;br /&gt;a. Riri ingin walkman, tapi ibu tidak membelikan.&lt;br /&gt;b. Adoy seorang kakak, tetapi pelit.&lt;br /&gt;c. Riri minta walkman, tapi diberi tape recorder.&lt;br /&gt;d. Riri ngotot minta walkman, tapi akhirnya dia diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50. Suasana dalam cerita tersebut adalah …&lt;br /&gt;a. tenang&lt;br /&gt;b. mencekam&lt;br /&gt;c. sunyi&lt;br /&gt;d. ribut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat  Mengerjakan, semoga sukses!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** ALHAMDULILLAH **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Think like a man of action, act like a man of thought. &lt;br /&gt;(Berpikirlah seperti orang yang bertindak, bertindaklah  seperti seorang pemikir)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-8814022129496032747?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/8814022129496032747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2011/10/prediksi-uan-smp-tahun-pelajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8814022129496032747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8814022129496032747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2011/10/prediksi-uan-smp-tahun-pelajaran.html' title='PREDIKSI UAN SMP TAHUN PELAJARAN 2010/2011'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-3694669487818634085</id><published>2011-07-23T12:15:00.002+07:00</published><updated>2011-07-23T12:20:18.776+07:00</updated><title type='text'>TUGAS TERSTRUKTUR</title><content type='html'>KEGIATAN PENUGASAN TERSTRUKTUR  DAN MANDIRI &lt;br /&gt;SMP ISLAM AL AZHAAR TULUNGAGUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;Kelas/Semester : VIII/1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Kegiatan Waktu Keterangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas, dan petunjuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Memahami teks drama dan novel remaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengapresiasi pementasan drama &lt;br /&gt;4.1Menulis surat berkenaan dengan kegiatan sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2 Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan keaslian ide&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2 Mengevaluasi pemeran tokoh dalam pementasan drama &lt;br /&gt;Buatlah surat permohonan meminjam tenda untuk kegiatan berkemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulislah naskah drama satu babak (30 dialog) dengan tema bebas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah salah satu drama/sinetron di televisi lalu jelaskan  bagaimana vocal, penjiwaan, dan gerak tokohnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;40 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;80 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60 menit &lt;br /&gt;Penugasan terstruktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penugasan terstruktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penugasan mandiri tidak terstruktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEGIATAN PENUGASAN TERSTRUKTUR  DAN MANDIRI &lt;br /&gt;SMP ISLAM AL AZHAAR TULUNGAGUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;Kelas/Semester : VIII/2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Kegiatan Waktu Keterangan&lt;br /&gt;15.Memahami buku novel remaja (asli/tejemahan) dan antologi puisi &lt;br /&gt;15.2 Mengenali ciri-ciri umum puisi dari buku antologi puisi &lt;br /&gt;Kegiatan I&lt;br /&gt;a. Mencari 1 buku antologi puisi&lt;br /&gt;b. Mengidentifikasi identitas buku&lt;br /&gt;c. Menulis identitas buku antologi puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan II&lt;br /&gt;a. Membaca puisi&lt;br /&gt;b. Memilih satu puisi yang menarik&lt;br /&gt;c. Mengidentifikasi ciri kebahasaan/tipografi puisi&lt;br /&gt;d. Mengidentifikasi cirri umum pengarang antologi puisi &lt;br /&gt;e. Menyimpulkan ciri umum puisi dari buku antologi puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ke-2,3,&lt;br /&gt;bulan April &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;80 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ke-4 April&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;80 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penugasan terstruktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBAR KEGIATAN PENUGASAN TERSTRUKTUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Standar Kompetensi&lt;br /&gt;Memahami buku novel remaja (asli/terjemahan) dan antologi puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kompetensi Dasar&lt;br /&gt;Mengenali cirri-ciri umum puisi buku antologi puisi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Jenis Kegiatan : Kerja kelompok 4 anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kegiatan I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor Aspek Hasil&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;5 Judul Buku Antologi&lt;br /&gt;Pengarang&lt;br /&gt;Penerbit&lt;br /&gt;Tahun Terbit&lt;br /&gt;Tebal Halaman ………………………………….&lt;br /&gt;………………………………….&lt;br /&gt;………………………………….&lt;br /&gt;………………………………….&lt;br /&gt;………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kegiatan II&lt;br /&gt;a. Pilihlah Salah Satu PuisiYang Menarik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Identifikasikan  Ciri-ciri  Kebahasaan!&lt;br /&gt;Nomor Aspek Hasil&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;4 Majas&lt;br /&gt;Pilihan kata&lt;br /&gt;Rima&lt;br /&gt;Citraan ………………………………….&lt;br /&gt;………………………………….&lt;br /&gt;………………………………….&lt;br /&gt;………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Identifikasikan Bentuk Puisi Berdasarkan Ciri-ciri tersebut!&lt;br /&gt;Nomor Aspek Hasil&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt; Bentuk Fisik (Tipografi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan bentuk dan isi ………………………………….&lt;br /&gt;………………………………….&lt;br /&gt;………………………………….&lt;br /&gt;………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Identifikasikan ciri umum puisi pada antologi!  t &lt;br /&gt;c. Simpulkan ciri umum puisi dari buku antologi puisi berdasarkan identifikasi tersebut!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-3694669487818634085?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/3694669487818634085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2011/07/tugas-terstruktur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/3694669487818634085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/3694669487818634085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2011/07/tugas-terstruktur.html' title='TUGAS TERSTRUKTUR'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-7651797205296395483</id><published>2011-05-07T10:09:00.004+07:00</published><updated>2011-05-07T10:22:26.443+07:00</updated><title type='text'>CONTOH SOAL BAHASA INDONESIA UAN 2010</title><content type='html'>1. Perhatikan kutipan paragraf berikut!&lt;br /&gt;(1) Kegiatan membaca merupakan upaya dalam menyerap informasi. (2) Hal tersebut merupakan langkah awal dalam upaya memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. (3) Langkah selanjutnya adalah melakukan upaya pemahaman yang tepat terhadap isi bacaan. (4) Selain itu, membaca berulang kali, merupakan salah satu cara yang tepat dalam memahami bacaan.&lt;br /&gt;Kalimat utama paragraf tersebut terdapat pada kalimat ….&lt;br /&gt;A. (1) C. (3)&lt;br /&gt;B. (2) D. (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perhatikan kutipan paragraf berikut!&lt;br /&gt;Kini ada ratusan jenis teh yang bisa dinikmati. Bahan bakunya juga tak hanya dari daun teh tapi juga dari berbagai jenis buah, seperti apel, strawberry, blueberry, atau campuran bermacam buah. Atau dari berbagai bunga, seperti melati dan rosella. Bahkan dari dedaunan lain, seperti pepermint. Tapi secara umum, ada tiga jenis teh yang dikenal, yaitu teh hitam, teh Oolong, dan teh hijau.&lt;br /&gt;Pikiran utama paragraf tersebut adalah ….&lt;br /&gt;A. Bahan baku teh&lt;br /&gt;B. Bahan campuran teh&lt;br /&gt;C. Kenikmatan jenis teh&lt;br /&gt;D. Jenis-jenis teh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perhatikan kutipan teks berikut!&lt;br /&gt;Parman mengeluh dengan mahalnya biaya masuk sekolah anaknya. Ia pun membandingkan kondisi pendidikan kini dengan beberapa tahun silam. “Dulu sekolah tidak semahal ini. Saya ini sebenarnya mau protestetapi protes kepada siapa,” tuturnya.&lt;br /&gt;Menjual tahu goreng menjadi pekerjaan sehari-hari Parman di Jalan Kusumanegara Yogyakarta. Aktivitas dagangnya dimulai pukul 17.00 hingga 21.00. dari hasil penjualannya ini ia bisa mengumpulkan keuntungan bersih sekitar Rp 30.000,00 per hari. Uang itu selalu habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;Kritikan yang tepat atas sikap orang tua dalam bacaan tersebut adalah ….&lt;br /&gt;A. Mengeluh itu kurang baik, yang penting meningkatkan penghasilan untuk keluarga.&lt;br /&gt;B. Orang tua perlu mendampingi anak-anaknya hingga mereka dewasa.&lt;br /&gt;C. Menjual makanan untuk biaya pendidikan anak sangat lumrah.&lt;br /&gt;D. Orang tua dapat membandingkan biaya pendidikan antarsekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Perhatikan kutipan berikut!&lt;br /&gt;Mamut adalah genus gajah purba yang telah punah. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada gajah normal yang ada di dunia saat ini. Gadingnya melingkar membentuk kurva ke arah dalam dan dengan rambut panjang. Mereka hidup dalam epos Pleistocene sejak 1,6 juta tahun lalu sampai sekitar 10.000 tahun lalu. Kata mamut berasal dari bahasa Rusia MAMOHT.&lt;br /&gt;Informasi pokok yang terdapat pada kutipan berita tersebut adalah …&lt;br /&gt;A. Mamut adalah genus gajah purba yang telah punah.&lt;br /&gt;B. Ukuran mamut lebih besar daripada gajah normal.&lt;br /&gt;C. Gading mamut melingkar membentuk kurva ke arah dalam.&lt;br /&gt;D. Mamut hidup sejak 1,6 juta tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Perhatikan kutipan paragraf berikut!&lt;br /&gt;(1) Kelompok Teater Bekicot menggelar pementasan teater di Balai Soedjatmoko, Solo. (2) Sebelumnya, kelompok teater tersebut sudah mementaskan beberapa lakon di sejumlah tempat. (3) Pentas kali ini diharapkan mengasah kemampuan para pemain karena terbentuknya teater ini memang belum lama. (4) Kelompok Teater Bekicot ini baru didirikan pada bulan Agustus tahun lalu.&lt;br /&gt;Kalimat pendapat pada paragraf tersebut terdapat pada nomor ….&lt;br /&gt;A. (1) C. (3)&lt;br /&gt;B. (2) D. (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Perhatikan kutipan teks berikut!&lt;br /&gt;Sungai penting untuk kegiatan perikanan. Khususnya, di sungai-sungai besar yang menjadi tempat hidup beragam ikan dan hewan-hewan lainnya. Sungai-sungai besar ini menjadi tempat nelayan mencari mata pencaharian.&lt;br /&gt;Manfaat sungai dalam pertanian, juga tak kalah penting, yakni sebagai sumber irigasi. Kawasan-kawasan pertanian yang subur mendapatkan pengairan dari sungai. Belakangan, manusia membendung sungai sebagai sumber irigrasi dan sebagai pembangkit tenaga listrik. Pembuatan bendungan-bendungan itu sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.&lt;br /&gt;Simpulan isi bacaan tersebut adalah …&lt;br /&gt;A. Sungai sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.&lt;br /&gt;B. Sungai sebagai sumber mata pen-caharian nelayan.&lt;br /&gt;C. Sungai sebagai sumber kehidupan bagi sebagian manusia.&lt;br /&gt;D. Bendungan bermanfaat bagi kelang-sungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah teks berikut kemudian kerjakan soal nomor 7 s.d. 10!&lt;br /&gt;Demokrasi kita masih transisi sehingga banyak sekali menimbulkan persoalan. Bermacam persoalan itu merugikan warga. Namun, semua itu masih bisa dianggap wajar asal jangan kebablasan sehingga menimbulkan kesan kacau. Unjuk rasa disertai kekerasan terjadi minggu kemarin di kota Makasar.&lt;br /&gt;Unjuk rasa dapat dipicu oleh persoalan yang dibiarkan berlarut-larut, seperti penggusuran, konflik kekuasaan kelompok, gaji, penghasilan, dan lain-lain. Kenaikan harga atau kelangsungan kebutuhan pokok juga memicu terjadinya unjuk rasa. Di sisi lain, unjuk rasa dapat mendorong mempercepat penyelesaian berbagai masalah. Namun, perlu juga dipertanyakan, seberapa jauh unjuk rasa yang berlebihan dapat berdampak terhadap penyelesaian dan pemecahan persoalan. Pihak DPR maupun DPRD pun masih meragukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Gagasan utama tajuk tersebut adalah …&lt;br /&gt;A. Pada saat ini, unjuk rasa disertai kekerasan.&lt;br /&gt;B. Demokrasi masih menimbulkan per-soalan yang merugikan warga.&lt;br /&gt;C. Unjuk rasa dalam pelaksanakan demo-krasi dibiarkan berlarut-larut.&lt;br /&gt;D. Unjuk rasa dapat meningkatkan dan mempercepat penyelesaian masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kalimat fakta pada kutipan tajuk tersebut adalah ….&lt;br /&gt;A. Kalimat pertama paragraf pertama&lt;br /&gt;B. Kalimat keempat paragraf pertama&lt;br /&gt;C. Kelimat pertama paragraf kedua&lt;br /&gt;D. Kalimat ketiga paragraf kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pada tajuk tersebut penulis lebih berpihak kepada ….&lt;br /&gt;A. Rakyat C. DPRD&lt;br /&gt;B. Pemerintah D. DPR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Simpulan tajuk tersebut adalah …&lt;br /&gt;A. Pemerintah tidak bisa memutuskan sendiri persoalan yang ada.&lt;br /&gt;B. Unjuk rasa dipicu oleh persoalan yang dibiarkan berlarut-larut.&lt;br /&gt;C. Demokrasi Indonesia masih dalam taraf transisi sehingga banyak persoalan.&lt;br /&gt;D. Dalam demokrasi, pembuatan kebijakan dan pelaksanaannya perlu waktu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bersambung...)&lt;br /&gt;&lt;img src="file:///C:/Users/SONY/AppData/Local/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/Users/SONY/AppData/Local/Temp/moz-screenshot-1.png" alt="" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-7651797205296395483?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/7651797205296395483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2011/05/contoh-soal-bahasa-indonesia-uan-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7651797205296395483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7651797205296395483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2011/05/contoh-soal-bahasa-indonesia-uan-2010.html' title='CONTOH SOAL BAHASA INDONESIA UAN 2010'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-8231342152464997200</id><published>2010-10-07T14:11:00.004+07:00</published><updated>2010-10-12T16:30:43.249+07:00</updated><title type='text'>SYAIR PERAHU Karya: Hamzah Fansuri</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Inilah gerangan suatu  madah&lt;br /&gt;mengarangkan syair terlalu indah,&lt;br /&gt;membetuli jalan tempat  berpindah,&lt;br /&gt;di sanalah i’tikat diperbetuli sudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai muda  kenali dirimu,&lt;br /&gt;ialah perahu tamsil tubuhmu,&lt;br /&gt;tiadalah berapa lama  hidupmu,&lt;br /&gt;ke akhirat jua kekal diammu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai muda arif-budiman,&lt;br /&gt;hasilkan   kemudi dengan pedoman,&lt;br /&gt;alat perahumu jua kerjakan,&lt;br /&gt;itulah jalan  membetuli insan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perteguh jua alat perahumu,&lt;br /&gt;hasilkan bekal  air dan kayu,&lt;br /&gt;dayung pengayuh taruh di situ,&lt;br /&gt;supaya laju perahumu  itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah hasil kayu dan ayar,&lt;br /&gt;angkatlah pula sauh dan  layar,&lt;br /&gt;pada beras bekal jantanlah taksir,&lt;br /&gt;niscaya sempurna jalan  yang kabir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perteguh jua alat perahumu,&lt;br /&gt;muaranya sempit  tempatmu lalu,&lt;br /&gt;banyaklah di sana ikan dan hiu,&lt;br /&gt;menanti perahumu  lalu dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muaranya dalam, ikanpun banyak,&lt;br /&gt;di sanalah  perahu karam dan rusak,&lt;br /&gt;karangnya tajam seperti tombak&lt;br /&gt;ke atas  pasir kamu tersesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahui olehmu hai anak dagang&lt;br /&gt;riaknya  rencam ombaknya karang&lt;br /&gt;ikanpun banyak datang menyarang&lt;br /&gt;hendak  membawa ke tengah sawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muaranya itu terlalu sempit,&lt;br /&gt;di  manakan lalu sampan dan rakit&lt;br /&gt;jikalau ada pedoman dikapit,&lt;br /&gt;sempurnalah   jalan terlalu ba’id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah perahu engkau perteguh,&lt;br /&gt;hasilkan  pendapat dengan tali sauh,&lt;br /&gt;anginnya keras ombaknya cabuh,&lt;br /&gt;pulaunya   jauh tempat berlabuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkapkan pendarat dan tali sauh,&lt;br /&gt;derasmu   banyak bertemu musuh,&lt;br /&gt;selebu rencam ombaknya cabuh,&lt;br /&gt;La ilaha  illallahu akan tali yang teguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa bergantung di situ,&lt;br /&gt;teduhlah   selebu yang rencam itu&lt;br /&gt;pedoman betuli perahumu laju,&lt;br /&gt;selamat  engkau ke pulau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,&lt;br /&gt;di   laut keras dan topan ribut,&lt;br /&gt;hiu dan paus di belakang menurut,&lt;br /&gt;pertetaplah   kemudi jangan terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut Silan terlalu dalam,&lt;br /&gt;di sanalah  perahu rusak dan karam,&lt;br /&gt;sungguhpun banyak di sana menyelam,&lt;br /&gt;larang  mendapat permata nilam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut Silan wahid al kahhar,&lt;br /&gt;riaknya  rencam ombaknya besar,&lt;br /&gt;anginnya songsongan membelok sengkar&lt;br /&gt;perbaik   kemudi jangan berkisar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah laut yang maha indah,&lt;br /&gt;ke  sanalah kita semuanya berpindah,&lt;br /&gt;hasilkan bekal kayu dan juadah&lt;br /&gt;selamatlah   engkau sempurna musyahadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silan itu ombaknya kisah,&lt;br /&gt;banyaklah   akan ke sana berpindah,&lt;br /&gt;topan dan ribut terlalu ‘azamah,&lt;br /&gt;perbetuli   pedoman jangan berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut Kulzum terlalu dalam,&lt;br /&gt;ombaknya  muhit pada sekalian alam&lt;br /&gt;banyaklah di sana rusak dan karam,&lt;br /&gt;perbaiki   na’am, siang dan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingati sungguh siang dan malam,&lt;br /&gt;lautnya   deras bertambah dalam,&lt;br /&gt;anginpun keras, ombaknya rencam,&lt;br /&gt;ingati  perahu jangan tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau engkau ingati sungguh,&lt;br /&gt;angin  yang keras menjadi teduh&lt;br /&gt;tambahan selalu tetap yang cabuh&lt;br /&gt;selamat  engkau ke pulau itu berlabuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah ahad dengan masanya,&lt;br /&gt;datanglah   angin dengan paksanya,&lt;br /&gt;belajar perahu sidang budimannya,&lt;br /&gt;berlayar  itu dengan kelengkapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujud Allah nama perahunya,&lt;br /&gt;ilmu  Allah akan [dayungnya]&lt;br /&gt;iman Allah nama kemudinya,&lt;br /&gt;“yakin akan  Allah” nama pawangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taharat dan istinja’” nama lantainya,&lt;br /&gt;“kufur   dan masiat” air ruangnya,&lt;br /&gt;tawakkul akan Allah jurubatunya&lt;br /&gt;tauhid  itu akan sauhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salat akan nabi tali bubutannya,&lt;br /&gt;istigfar  Allah akan layarnya,&lt;br /&gt;“Allahu Akbar” nama anginnya,&lt;br /&gt;subhan Allah  akan lajunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wallahu a’lam” nama rantaunya,&lt;br /&gt;“iradat Allah”  nama bandarnya,&lt;br /&gt;“kudrat Allah” nama labuhannya,&lt;br /&gt;“surga jannat an  naim nama negerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karangan ini suatu madah,&lt;br /&gt;mengarangkan  syair tempat berpindah,&lt;br /&gt;di dalam dunia janganlah tam’ah,&lt;br /&gt;di dalam  kubur berkhalwat sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenali dirimu di dalam kubur,&lt;br /&gt;badan  seorang hanya tersungkur&lt;br /&gt;dengan siapa lawan bertutur?&lt;br /&gt;di balik  papan badan terhancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam dunia banyaklah mamang,&lt;br /&gt;ke  akhirat jua tempatmu pulang,&lt;br /&gt;janganlah disusahi emas dan uang,&lt;br /&gt;itulah   membawa badan terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntuti ilmu jangan kepalang,&lt;br /&gt;di  dalam kubur terbaring seorang,&lt;br /&gt;Munkar wa Nakir ke sana datang,&lt;br /&gt;menanyakan   jikalau ada engkau sembahyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tongkatnya lekat tiada terhisab,&lt;br /&gt;badanmu   remuk siksa dan azab,&lt;br /&gt;akalmu itu hilang dan lenyap,&lt;br /&gt;(baris ini  tidak terbaca)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munkar wa Nakir bukan kepalang,&lt;br /&gt;suaranya merdu  bertambah garang,&lt;br /&gt;tongkatnya besar terlalu panjang,&lt;br /&gt;cabuknya  banyak tiada terbilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenali dirimu, hai anak dagang!&lt;br /&gt;di  balik papan tidur telentang,&lt;br /&gt;kelam dan dingin bukan kepalang,&lt;br /&gt;dengan   siapa lawan berbincang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La ilaha illallahu itulah firman,&lt;br /&gt;Tuhan   itulah pergantungan alam sekalian,&lt;br /&gt;iman tersurat pada hati insap,&lt;br /&gt;siang   dan malam jangan dilalaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La ilaha illallahu itu terlalu  nyata,&lt;br /&gt;tauhid ma’rifat semata-mata,&lt;br /&gt;memandang yang gaib semuanya  rata,&lt;br /&gt;lenyapkan ke sana sekalian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La ilaha illallahu itu  janganlah kaupermudah-mudah,&lt;br /&gt;sekalian makhluk ke sana berpindah,&lt;br /&gt;da’im   dan ka’im jangan berubah,&lt;br /&gt;khalak di sana dengan La ilaha illallahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La   ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,&lt;br /&gt;siang dan malam jangan kau  sunyikan,&lt;br /&gt;selama hidup juga engkau pakaikan,&lt;br /&gt;Allah dan rasul juga  yang menyampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La ilaha illallahu itu kata yang teguh,&lt;br /&gt;memadamkan   cahaya sekalian rusuh,&lt;br /&gt;jin dan syaitan sekalian musuh,&lt;br /&gt;hendak  membawa dia bersungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La ilaha illallahu itu kesudahan  kata,&lt;br /&gt;tauhid ma’rifat semata-mata.&lt;br /&gt;hapuskan hendak sekalian  perkara,&lt;br /&gt;hamba dan Tuhan tiada berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La ilaha illallahu itu  tempat mengintai,&lt;br /&gt;medan yang kadim tempat berdamai,&lt;br /&gt;wujud Allah  terlalu bitai,&lt;br /&gt;siang dan malam jangan bercerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La ilaha  illallahu itu tempat musyahadah,&lt;br /&gt;menyatakan tauhid jangan berubah,&lt;br /&gt;sempurnalah   jalan iman yang mudah,&lt;br /&gt;pertemuan Tuhan terlalu susah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Hamzah  Fansuri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;table style="width: 697px; height: 1px; text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-8231342152464997200?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/8231342152464997200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/10/syair-perahu-karya-hamzah-fansurinilah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8231342152464997200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8231342152464997200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/10/syair-perahu-karya-hamzah-fansurinilah.html' title='SYAIR PERAHU Karya: Hamzah Fansuri'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-4904215241156152720</id><published>2010-05-18T10:20:00.002+07:00</published><updated>2010-05-18T10:26:38.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Zona Puisi'/><title type='text'>Elegi Perpisahan</title><content type='html'>Oleh: Chaleedarifa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merebah ilalang membelah awan kelam&lt;br /&gt;Di sudut sunyi tergolek kata ‘perpisahan’&lt;br /&gt;Melambaikan berlembar-lembar kenangan&lt;br /&gt;Iringkan sesungging senyum kepedihan&lt;br /&gt;Setitik demi setitik air mata duka berjatuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kita slalu bersama&lt;br /&gt;Mengais hari-hari melewati gosong terik mentari&lt;br /&gt;Menitikkan… peluh demi peluh tanpa keluh.&lt;br /&gt;Di sini&lt;br /&gt;Ya, di sinilah kita bergelut dengan buku-buku&lt;br /&gt;Berjibaku meramu ilmu tak kenal waktu&lt;br /&gt;Dan bila merapat senja,&lt;br /&gt;Apa yang hendak kita eja&lt;br /&gt;Atas kebersamaan meraih asa&lt;br /&gt;Apa yang hendak kita ucap atas sebuah kata&lt;br /&gt;Bahwa segalanya penuh makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, engkau, kami, kita, Bapak-Ibu guru&lt;br /&gt;Tlah jadikan segala mewujud nyata di hadapan mata&lt;br /&gt;Arungi lembah, lewati ngarai, sebrangi lautan ilmu..&lt;br /&gt;Lalu apa yang pantas tuk melaras itu semua,&lt;br /&gt;Selain…&lt;br /&gt;Seucap kata terima kasih tanpa batas&lt;br /&gt;Atas segala yang menjadikan kami bermakna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biru-putih kan kami simpan di relung jiwa&lt;br /&gt;Biru-putih tak sekadar rupa-warna tanpa sketsa makna&lt;br /&gt;Biru-putih kami, SMP Al Azhaar tercinta..&lt;br /&gt;Kau mutiara&lt;br /&gt;Begitu berharga&lt;br /&gt;Menjadikan kami, menggembleng kami&lt;br /&gt;3 kali Juli&lt;br /&gt;Dari tak mengerti hingga memahami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tetes air mata dan peluh mengalir&lt;br /&gt;Membanjiri tiap upaya menempa baja matematika,&lt;br /&gt;fisika, biologi, T.I.K…&lt;br /&gt;Namun, kami tak kenal putus asa, hingga detik ini&lt;br /&gt;Di puncak tertinggi tempat kami&lt;br /&gt;merangkai hari, melukis waktu, menempa dengan berbagai ilmu&lt;br /&gt;berguru pada yang tahu&lt;br /&gt;Yah, di sinilah..&lt;br /&gt;Tempat kami menandai satu dari sekian mimpi-mimpi&lt;br /&gt;Menghias wajah-wajah diri menjadi lebih berarti&lt;br /&gt;Tuk esok yang menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh!&lt;br /&gt;Betapa pun berat di hati&lt;br /&gt;Melambaikan tangan ini&lt;br /&gt;Betapa pun berderai air mata&lt;br /&gt;Menganak sungai, memuarakan nestapa&lt;br /&gt;Namun, pintu ini harus kita lalui&lt;br /&gt;Demi raih asa gapai cita-cita&lt;br /&gt;Gerbang masa depan di hadapan menantikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkanlah kami melangkah&lt;br /&gt;Maafkanlah atas segala khilaf dan salah&lt;br /&gt;Meski kelak berjauhan&lt;br /&gt;Kami harap di hati jangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terangkum senyum dan sekelumit kata kami dari kelas 9 semua&lt;br /&gt;Tuk adik-adik kelas kami semua,&lt;br /&gt;Raih mimpimu, kejar cita-citamu!&lt;br /&gt;Jangan pernah menyerah! Kalian pasti bisa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuk sang pelita di malam-malam kami yang gulita,&lt;br /&gt;Bapak Ibu guru kami tercinta,&lt;br /&gt;Terima kasih kami tiada hingga&lt;br /&gt;Jasa yang tanpa tanda&lt;br /&gt;yang Engkau torehkan di hidup kami&lt;br /&gt;kan kami kenang selamanya&lt;br /&gt;Mohon ungkap tulus do’a&lt;br /&gt;Agar langkah kami tak sia-sia&lt;br /&gt;Hidup kami kelak bermakna&lt;br /&gt;Bagi agama, nusa, dan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkap purna dari kami semua:&lt;br /&gt;Bila kita sua, yang tiada lain semua atas kehendak-Nya&lt;br /&gt;Bila mesti berpisah, itu pun atas kehendak-Nya jua&lt;br /&gt;Walau terselip duka menggelayut di langit jiwa,&lt;br /&gt;Jangan simpan lembar hitam antara kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulungagung, 17 Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-4904215241156152720?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/4904215241156152720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/05/elegi-perpisahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4904215241156152720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4904215241156152720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/05/elegi-perpisahan.html' title='Elegi Perpisahan'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-7772558926048227900</id><published>2010-05-18T09:58:00.001+07:00</published><updated>2010-05-18T10:00:02.129+07:00</updated><title type='text'>PUISI...PUISI....PUISI.....</title><content type='html'>&lt;span id="post-22"&gt;&lt;a href="http://zhi3pisces.wordpress.com/2009/02/12/puisi-lama-dan-puisi-baru/" rel="bookmark" title="Tautan Tetap ke PUISI LAMA DAN PUISI BARU"&gt;PUISI LAMA DAN PUISI BARU&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;PUISI LAMA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Puisi lama &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;adalah&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Jumlah kata dalam 1 baris&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Jumlah baris dalam 1 bait&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Persajakan (rima)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Banyak suku kata tiap baris&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Irama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri-ciri Puisi Lama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Ciri puisi lama:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Jenis Puisi Lama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Yang termasuk puisi lama adalah &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran,  2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Seloka adalah pantun berkait&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;span&gt;g)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Contoh dari Jenis-jenis Puisi Lama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Mantra&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 81.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Assalammu’alaikum putri satulung besar&lt;br /&gt;Yang beralun berilir simayang&lt;br /&gt;Mari kecil, kemari&lt;br /&gt;Aku menyanggul rambutmu&lt;br /&gt;Aku membawa sadap gading&lt;br /&gt;Akan membasuh mukamu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Pantun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 81.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Kalau ada jarum patah&lt;br /&gt;Jangan dimasukkan ke dalam peti&lt;br /&gt;Kalau ada kataku yang salah&lt;br /&gt;Jangan dimasukan ke dalam hati&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Karmina&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 81.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Dahulu parang, sekarang besi (a)&lt;br /&gt;Dahulu sayang sekarang benci (a)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Seloka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 81.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Lurus jalan ke Payakumbuh,&lt;br /&gt;Kayu jati bertimbal jalan&lt;br /&gt;Di mana hati tak kan rusuh,&lt;br /&gt;Ibu mati bapak berjalan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Gurindam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 3cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Kurang pikir kurang siasat &lt;span&gt; &lt;/span&gt;(a)&lt;br /&gt;Tentu dirimu akan tersesat &lt;span&gt; &lt;/span&gt;(a)&lt;br /&gt;Barang siapa tinggalkan sembahyang &lt;span&gt; &lt;/span&gt;( b )&lt;br /&gt;Bagai rumah tiada bertiang &lt;span&gt; &lt;/span&gt;( b )&lt;br /&gt;Jika suami tiada berhati lurus &lt;span&gt; &lt;/span&gt;( c )&lt;br /&gt;Istri pun kelak menjadi kurus &lt;span&gt; &lt;/span&gt;( c )&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Syair&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 81.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Pada zaman dahulu kala (a)&lt;br /&gt;Tersebutlah sebuah cerita (a)&lt;br /&gt;Sebuah negeri yang aman sentosa (a)&lt;br /&gt;Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 81.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 81.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 81.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;g)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Talibun &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 3cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Kalau anak pergi ke pekan&lt;br /&gt;Yu beli belanak pun beli sampiran&lt;br /&gt;Ikan panjang beli dahulu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 4cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Kalau anak pergi berjalan&lt;br /&gt;Ibu cari sanak pun cari isi&lt;br /&gt;Induk semang cari dahulu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri-ciri dari jenis puisi lama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Mantra&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri-ciri:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Bersifat lisan, sakti atau magis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Adanya perulangan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Metafora merupakan unsur penting&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;persajakan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Pantun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 34.9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri – ciri :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Setiap bait terdiri 4 baris&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Baris 1 dan 2 sebagai sampiran&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Baris 3 dan 4 merupakan isi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Bersajak a – b – a – b&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Berasal dari Melayu (Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Karmina&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Ciri-ciri karmina&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Bersajak aa-aa, aa-bb&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Semua baris diawali huruf capital.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Seloka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Ciri-ciri seloka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Gurindam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ciri&lt;/span&gt;-ciri&lt;span lang="IN"&gt; gurindam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Syair&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Ciri-ciri syair&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Terdiri dari 4 baris&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Berirama aaaa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;g)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Talibun &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 70.9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri-ciri:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.15pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;PUISI BARU&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri-ciri Puisi Baru&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Bentuknya rapi, simetris;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Sebagian besar puisi empat seuntai;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Jenis-jenis Puisi Baru&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Menurut isinya, puisi dibedakan atas :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Balada adalah puisi berisi kisah/cerita&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;span&gt;g)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Distikon &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Terzina&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Quatrain &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Quint &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Sektet &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Septime &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;g)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Oktaf/Stanza &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;h)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Soneta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Contoh dari Jenis-jenis Puisi Baru&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Contoh jenis puisi menurut isinya :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;BALADA&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “ Balada Matinya Aeorang Pemberontak”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;HYMNE&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Bahkan batu-batu yang keras dan bisu&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Menggeliat derita pada lekuk dan liku&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;bawah sayatan khianat dan dusta.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;menitikkan darah dari tangan dan kaki&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;dari mahkota duri dan membulan paku&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Yang dikarati oleh dosa manusia.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Tanpa luka-luka yang lebar terbuka&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;dunia kehilangan sumber kasih&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Besarlah mereka yang dalam nestapa&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;mengenal-Mu tersalib di datam hati.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;(Saini S.K)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;ODE&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Generasi Sekarang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;Di atas puncak gunung fantasi&lt;br /&gt;Berdiri aku, dan dari sana&lt;br /&gt;Mandang ke bawah, ke tempat berjuang&lt;br /&gt;Generasi sekarang di panjang masa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 106.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Menciptakan kemegahan baru&lt;br /&gt;Pantoen keindahan Indonesia&lt;br /&gt;Yang jadi kenang-kenangan&lt;br /&gt;Pada zaman dalam dunia&lt;br /&gt;(Asmara Hadi)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;EPIGRAM&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Hari ini tak ada tempat berdiri&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Sikap lamban berarti mati&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;(Iqbal)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;ELEGI&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="title"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://toppuisi.blogspot.com/2008/11/senja-di-pelabuhan-kecil.html"&gt;Senja di Pelabuhan Kecil&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ini kali tidak ada yang mencari cinta&lt;br /&gt;di antara gudang, rumah tua, pada cerita&lt;br /&gt;tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut&lt;br /&gt;menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang&lt;br /&gt;menyinggung muram, desir hari lari berenang&lt;br /&gt;menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak&lt;br /&gt;dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.&lt;br /&gt;Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan&lt;br /&gt;menyisir semenanjung, masih pengap harap&lt;br /&gt;sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan&lt;br /&gt;dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="category"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;(&lt;a href="http://toppuisi.blogspot.com/search/label/Chairil%20Anwar"&gt;Chairil Anwar&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;SATIRE&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Aku bertanya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;tetapi pertanyaan-pertanyaanku&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;membentur jidad penyair-penyair salon,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;yang bersajak tentang anggur dan rembulan,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;sementara ketidakadilan terjadi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;di sampingnya,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;(Rendra)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Contoh jenis puisi dari bentuknya :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;DISTIKON&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Berkali kita gagal&lt;br /&gt;Ulangi lagi dan cari akal&lt;br /&gt;Berkali-kali kita jatuh&lt;br /&gt;Kembali berdiri jangan mengeluh&lt;br /&gt;(Or. Mandank)&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;TERZINA&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Dalam ribaan bahagia datang&lt;br /&gt;Tersenyum bagai kencana&lt;br /&gt;Mengharum bagai cendana&lt;br /&gt;Dalam bah’gia cinta tiba melayang&lt;br /&gt;Bersinar bagai matahari&lt;br /&gt;Mewarna bagaikan sari&lt;br /&gt;Dari ; Madah Kelana&lt;br /&gt;Karya : Sanusi Pane&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;QUATRAIN&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Mendatang-datang jua&lt;br /&gt;Kenangan masa lampau&lt;br /&gt;Menghilang muncul jua&lt;br /&gt;Yang dulu sinau silau&lt;br /&gt;Membayang rupa jua&lt;br /&gt;Adi kanda lama lalu&lt;br /&gt;Membuat hati jua&lt;br /&gt;Layu lipu rindu-sendu&lt;br /&gt;(A.M. Daeng Myala)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;QUINT&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Hanya Kepada Tuan&lt;br /&gt;Satu-satu perasaan&lt;br /&gt;Hanya dapat saya katakan&lt;br /&gt;Kepada tuan&lt;br /&gt;Yang pernah merasakan&lt;br /&gt;Satu-satu kegelisahan&lt;br /&gt;Yang saya serahkan&lt;br /&gt;Hanya dapat saya kisahkan&lt;br /&gt;Kepada tuan&lt;br /&gt;Yang pernah diresah gelisahkan&lt;br /&gt;Satu-satu kenyataan&lt;br /&gt;Yang bisa dirasakan&lt;br /&gt;Hanya dapat saya nyatakan&lt;br /&gt;Kepada tuan&lt;br /&gt;Yang enggan menerima kenyataan&lt;br /&gt;(Or. Mandank)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;SEXTET&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Merindu Bagia&lt;br /&gt;Jika hari’lah tengah malam&lt;br /&gt;Angin berhenti dari bernafas&lt;br /&gt;Sukma jiwaku rasa tenggelam&lt;br /&gt;Dalam laut tidak terwatas&lt;br /&gt;Menangis hati diiris sedih&lt;br /&gt;(Ipih)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;SEPTIMA&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Indonesia Tumpah Darahku&lt;br /&gt;Duduk di pantai tanah yang permai&lt;br /&gt;Tempat gelombang pecah berderai&lt;br /&gt;Berbuih putih di pasir terderai&lt;br /&gt;Tampaklah pulau di lautan hijau&lt;br /&gt;Gunung gemunung bagus rupanya&lt;br /&gt;Ditimpah air mulia tampaknya&lt;br /&gt;Tumpah darahku Indonesia namanya&lt;br /&gt;(Muhammad Yamin)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;g)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;STANZA ( OCTAV )&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Awan&lt;br /&gt;Awan datang melayang perlahan&lt;br /&gt;Serasa bermimpi, serasa berangan&lt;br /&gt;Bertambah lama, lupa di diri&lt;br /&gt;Bertambah halus akhirnya seri&lt;br /&gt;Dan bentuk menjadi hilang&lt;br /&gt;Dalam langit biru gemilang&lt;br /&gt;Demikian jiwaku lenyap sekarang&lt;br /&gt;Dalam kehidupan teguh tenang&lt;br /&gt;(Sanusi Pane)&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;h)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;SONETA&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Gembala&lt;br /&gt;Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )&lt;br /&gt;Melihat anak berelagu dendang ( b )&lt;br /&gt;Seorang saja di tengah padang ( b )&lt;br /&gt;Tiada berbaju buka kepala ( a )&lt;br /&gt;Beginilah nasib anak gembala ( a )&lt;br /&gt;Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )&lt;br /&gt;Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )&lt;br /&gt;Pulang ke rumah di senja kala ( a )&lt;br /&gt;Jauh sedikit sesayup sampai ( a )&lt;br /&gt;Terdengar olehku bunyi serunai ( a )&lt;br /&gt;Melagukan alam nan molek permai ( a )&lt;br /&gt;Wahai gembala di segara hijau ( c )&lt;br /&gt;Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )&lt;br /&gt;Maulah aku menurutkan dikau ( c )&lt;br /&gt;(Muhammad Yamin)&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 2cm; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri-ciri dari Jenis Puisi Baru&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri puisi dari Jenis isinya :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Balada&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri-ciri balada&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Hymne&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri-ciri hymne&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau alma mater (Pemandu di Dunia Sastra).&lt;br /&gt;Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernafaskan ke-Tuhan-an.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ode&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri-ciri ode&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri ode nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Epigram&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Epigramma (Greek); unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Romance&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Romantique (Perancis); keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Elegi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri-ciri elegi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;g)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Satire&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Satura (Latin) ; sindiran ; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim etc)&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 92.7pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Ciri puisi dari Jenis bentuknya :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Distikon&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;• 2 baris; sajak 2 seuntai&lt;br /&gt;• Distikon (Greek: 2 baris)&lt;br /&gt;• Rima –  aa&lt;br /&gt;–  bb&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Terzina&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Terzina (Itali: 3 irama)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Quatrain&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;• Quatrain (Perancis: 4 baris)&lt;br /&gt;• Pada asalnya ada 4 rangkap&lt;br /&gt;• Dipelopori di Malaysia oleh Mahsuri S.N.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Quint&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Pada asalnya, rima Quint adalah /aaaaa/ tetapi kini 5 baris dalam serangkap diterima umum sebagai Quint (perubahan ini dikatakan berpunca dari kesukaran penyair untuk membina rima /aaaaa/&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Sextet&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;• sextet (latin: 6 baris)&lt;br /&gt;• Dikenali sebagai ‘terzina ganda dua’&lt;br /&gt;• Rima akhir bebas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Septima&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;• septime (Latin: 7 baris)&lt;br /&gt;• Rima akhir bebas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;g)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Oktav&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;• Oktaf (Latin: 8 baris)&lt;br /&gt;• Dikenali sebagai ‘double Quatrain’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;h)&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Soneta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 78pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;ciri – ciri soneta :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 99.25pt; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Terdiri atas 14 baris&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 99.25pt; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 99.25pt; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 99.25pt; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 99.25pt; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 99.25pt; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 99.25pt; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Peralihan dari octav ke sextet disebut volta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 99.25pt; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Penambahan baris pada soneta disebut koda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 99.25pt; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 99.25pt; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-7772558926048227900?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/7772558926048227900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/05/puisipuisipuisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7772558926048227900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7772558926048227900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/05/puisipuisipuisi.html' title='PUISI...PUISI....PUISI.....'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-6509530753256281434</id><published>2010-03-17T08:59:00.001+07:00</published><updated>2010-03-17T09:10:16.550+07:00</updated><title type='text'>BIOGRAFI TOKOH</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;BIOGRAFI SINGKAT TAUFIK ISMAIL&lt;br /&gt;Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan. Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.&lt;br /&gt;Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971–1972 dan 1991–1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.&lt;br /&gt;Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962).&lt;br /&gt;Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.&lt;br /&gt;Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.&lt;br /&gt;Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968). Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968–1978). Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990).&lt;br /&gt;Pada tahun 1993 Taufiq diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.&lt;br /&gt;Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.&lt;br /&gt;Hasil karya:&lt;br /&gt;1. Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966)&lt;br /&gt;2. Benteng, Litera ( 1966)&lt;br /&gt;3. Buku Tamu Musium Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)&lt;br /&gt;4. Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya (1974)&lt;br /&gt;5. Kenalkan, Saya Hewan (sajak anak-anak), Aries Lima (1976)&lt;br /&gt;6. Puisi-puisi Langit, Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)&lt;br /&gt;7. Tirani dan Benteng, Yayasan Ananda (cetak ulang gabungan) (1993)&lt;br /&gt;8. Prahara Budaya (bersama D.S. Moeljanto), Mizan (1995)&lt;br /&gt;9. Ketika Kata Ketika Warna (editor bersama Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Amri Yahya,     dan Agus Dermawan, antologi puisi 50 penyair dan repoduksi lukisan 50 pelukis, dua bahasa, memperingati ulangtahun ke-50 RI), Yayasan Ananda (1995)&lt;br /&gt;10. Seulawah Â— Antologi Sastra Aceh (editor bersama L.K. Ara dan Hasyim K.S.), Yayasan Nusantara bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Khusus Istimewa Aceh (1995)&lt;br /&gt;11. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (1998)&lt;br /&gt;12. Dari Fansuri ke Handayani (editor bersama Hamid Jabbar, Herry Dim, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2001), Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2001)&lt;br /&gt;13. Horison Sastra Indonesia, empat jilid meliputi Kitab Puisi (1), Kitab Cerita Pendek (2), Kitab Nukilan Novel (3), dan Kitab Drama (4) (editor bersama Hamid Jabbar, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Herry Dim, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2000-2001, Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2002)&lt;br /&gt;Karya terjemahan:&lt;br /&gt;1. Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960)&lt;br /&gt;2. Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)&lt;br /&gt;3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964)&lt;br /&gt;Atas kerja sama dengan musisi sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah bersaudara), Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.&lt;br /&gt;Ia pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina.&lt;br /&gt;Kegiatan kemasyarakatan yang dilakukannnya, antara lain menjadi pengurus perpustakaan PII, Pekalongan (1954-56), bersama S.N. Ratmana merangkap sekretaris PII Cabang Pekalongan, Ketua Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1984-86), Pendiri Badan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya (1985) dan kini menjadi ketuanya, serta bekerja sama dengan badan beasiswa American Field Service, AS menyelenggarakan pertukaran pelajar. Pada tahun 1974–1976 ia terpilih sebagai anggota Dewan Penyantun Board of Trustees AFS International, New York.&lt;br /&gt;Ia juga membantu LSM Geram (Gerakan Antimadat, pimpinan Sofyan Ali). Dalam kampanye antinarkoba ia menulis puisi dan lirik lagu Â“Genderang Perang Melawan NarkobaÂ” dan Â“Himne Anak Muda Keluar dari NerakaÂ” dan digubah Ian Antono). Dalam kegiatan itu, bersama empat tokoh masyarakat lain, Taufiq mendapat penghargaan dari Presiden Megawati (2002).&lt;br /&gt;Kini Taufiq menjadi anggota Badan Pertimbangan Bahasa, Pusat Bahasa dan konsultan Balai Pustaka, di samping aktif sebagai redaktur senior majalah Horison.&lt;br /&gt;Anugerah yang diterima:&lt;br /&gt;1. Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1970)&lt;br /&gt;2. Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977)&lt;br /&gt;3.South East Asia (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (1994)&lt;br /&gt;4. Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994)&lt;br /&gt;5. Sastrawan Nusantara dari Negeri Johor,&lt;br /&gt;Malaysia (1999)&lt;br /&gt;6. Doctor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (2003)&lt;br /&gt;Taufiq Ismail menikah dengan Esiyati Yatim pada tahun 1971 dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Bram Ismail. Bersama keluarga ia tinggal di Jalan Utan Kayu Raya 66-E, Jakarta 13120.&lt;br /&gt;Telepon (021) 8504959&lt;br /&gt;Faksimile (021) 8583190&lt;br /&gt;Pos-el: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya&lt;br /&gt;Dilansir dari situs Balai Bahasa Bandung&lt;br /&gt;Berikut alamat situs yang mengulas tentang biografi Taufiq Ismail:&lt;br /&gt;TAUFIQ ISMAIL di Figur Publik&lt;br /&gt;TAUFIQ ISMAIL di Wikipedia Indonesia&lt;br /&gt;TAUFIQ ISMAIL di Forum Bahasa &amp;amp; Sastr&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-6509530753256281434?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/6509530753256281434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/03/biografi-tokoh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/6509530753256281434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/6509530753256281434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/03/biografi-tokoh.html' title='BIOGRAFI TOKOH'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-4989622501669911577</id><published>2010-03-15T14:06:00.000+07:00</published><updated>2010-03-15T14:08:50.994+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-4989622501669911577?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/4989622501669911577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/03/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4989622501669911577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4989622501669911577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/03/blog-post.html' title=''/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-3514120816110702048</id><published>2010-03-11T14:55:00.001+07:00</published><updated>2010-03-11T14:58:47.170+07:00</updated><title type='text'>BENTUK-BENTUK KARYA SASTRA</title><content type='html'>&lt;div class="title"&gt; &lt;a name="2169772693017841636"&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://elloaristhosiyoga.blogspot.com/2008/09/bentuk-karya-sastra-puisi-prosa-drama.html"&gt;Bentuk  Karya Sastra [puisi, prosa, drama]&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;                 &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Menurut bentuknya karya sastra terbagi atas prosa, puisi dan drama. Dalam bab ini hanya dijelaskan mengenai prosa. Sedangkan untuk puisi dan drama, buka saja dalam arsip, karena tersemat dalam menu sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Prosa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Ialah karangan  bebas yang tidak terikat pada bentuk, irama, dan rima (sajak) atau terikat dengan oleh banyaknya suku kata dan jumlah baris. Terletak pada gaya bahasa pengarang yang mencerminkan jiwanya dalam menyusun dan menyampaikan buah pikirannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Bila prosa itu mengadung irama  puisi maka prosa itu disebut &lt;i&gt;prosa berirama&lt;/i&gt;, atau &lt;i&gt;prosa lirik&lt;/i&gt;. Bentuk prosa ini lahir sebenarnya sama seperti prosa biasa sebab disusun oleh tanda bait-bait, oleh karena itu pemilihan kata serta irama yang terkandung di dalamnya sangat diperhatikan. Kita dapat membedakannya. &lt;i&gt;Bhagawat Gita dan Pancaran Cinta&lt;/i&gt; ditulis dalam  bentuk prosa lirik.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Prosa fiksi dapat berupa roman, novel, cerpen.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Roman&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; ialah prosa yang melukiskan atau menceritakan kehidupan manusia meliputi seluruh kehidupannya, baik lahir maupun batin. Roman dibedakan isinya menjadi:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Roman bertendes&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Roman  sosial/masyarakat&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Roman detektif&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Roman jiwa&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Novel&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; dalam kesusastraan Indonesia sering disamakan dengan roman, hanya bahasanya lebih pendek dari pada roman tetapi lebih panjang dari cerita pendek. Di samping itu ciri-ciri novel ialah:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Sifat dan perubahan  para  pelakunya tidak diceritakan panjang lebar seperti dalam roman&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Kejadiannya berjalan   dengan lancar sebab terpusat dalam kehidupan suatu saat&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Hanya diceritakan  sebagian  dari kehidupan manusia yang dianggap penting.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Cerpen&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; atau cerita pendek merupakan cerita yang melukiskan peristiwa pada suatu saat dan tidak perlu mengakibatkan perubahan nasib. Biasanya cerpen diangkat dari peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, bentuk cerpen sangat singkat dan dapat dibaca dalam belasan menit saja.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dalam sastra Melayu Klasik, karya sastra yang berbentuk prosa telah dikenal pula. Termasuk prosa Melayu klasik atau Prosa lama antara lain, &lt;i&gt;Hikayat,  Cerita-ceita Panji, Cerita Berbingkai, Dongeng, dan Tambo&lt;/i&gt;.&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;⁭&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-3514120816110702048?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/3514120816110702048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/03/bentuk-bentuk-karya-sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/3514120816110702048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/3514120816110702048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/03/bentuk-bentuk-karya-sastra.html' title='BENTUK-BENTUK KARYA SASTRA'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-8785203032532348106</id><published>2010-03-11T14:21:00.003+07:00</published><updated>2010-03-11T14:42:46.307+07:00</updated><title type='text'>MENULIS NASKAH DRAMA</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Menulis Naskah Drama&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, inti karya sastra yang berupa drama adalah adanya konflik (pertentangan-pertentangan). Konflik-konflik tersebut ditata sehingga membentuk alur dan dikemuakakan dalam bentuk dialog. Bagaimanakah menentukan konflik dan bagaimana menulis naskah drama? Untuk menulis karya sastra drama, kamu dapat memulainya dengan menentukan konflik, menyusun urutan peristiwa dalam satu babak, mengembangkan urutan peristiwa menjadi naskah drama satu babak, melengkapi dialog, mengomentari dan menyunting naskah drama. Untuk itu, ikutilah kegiatan pembelajaran berikut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menentukan Konflik&lt;br /&gt;Tentunya kamu sering melihat konflik atau pertentangan-pertentangan itu di masyarakat, di sinetron, atau dalam kehidupanmu sendiri.&lt;br /&gt;Menyusun naskah drama dapat kamu mulai dengan menentukan suatu konflik. Konflik dapat kamu temukan dengan mengamati konflik yang ada di sekitarmu, mengamati konflik dalam sinetron/film, atau membayangkan konflik yang pernah kamu alami. Untuk mengidentifikasi konflik yang dikenal/dialami, tulislah salah satu konflik/pertentangan berdasarkan peristiwa nyata yang kamu sukai! Diskusikan pemilihan konflik dengan kelompokmu! Misalnya konflik yang akan digambarkan adalah pertentangan anak dan orangtuanya karena orangtuanya mempunyai pekerjaan yang tidak sesuai dengan harapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyusun Urutan Peristiwa untuk Satu Babak&lt;br /&gt;Lengkapilah konflik yang telah kamu tentukan menjadi sebuah rangkaian cerita! Berilah nama tokoh-tokoh yang ada dalam rangkaian ceritamu! Nama tokoh tidak harus sama dengan nama tokoh aslinya dalam peristiwa nyata. Amati contoh berikut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asri seorang siswa SMP malu memiliki bapak seorang penjual bubur di gerobak. Dia marah karena ketika melihat bapaknya berjualan di sekolahnya, padahal dia pernah meminta ayahnya untuk tidak berjualan di sekolahnya. Sesampai di rumah Asri marah kepada ayahnya. Ayahnya tetap berpendapat bahwa pekerjaannya mulia dan tidak harus ditinggalkan. Asri membandingkan ayahnya dengan ayah Shanti sahabatnya yang seorang pejabat dan selalu dibangga-banggakan Shanti. Ternyata ayah Shanti ditangkap polisi karena korupsi dan masuk koran. Asri di sekolah kaget ketika melihat teman-temannya membicarakan penangkapan ayah Shanti yang dimuat di koran. Reaksi teman Asri di sekolah mencemooh Shanti yang selama ini terlalu membanggga-banggakan jabatan ayahnya. Guru menjelaskan bahwa tidak boleh memvonis Shanti karena kita tidak boleh menilai seseorang dari ayahnya. Dengan peristiwa itu, Asri menjadi sadar bahwa orang dinilai bukan karena orangtuanya tetapi karena prestasinya. Asri bangga meskipun ayahnya hanya seorang penjual bubur di gerobak dorong.&lt;br /&gt;Baca sekali lagi rangkaian peristiwa yang akan kamu tulis dalam drama! Pilih bagian peristiwa yang akan kamu gambarkan dalam adegan! Tentukan berapa adegan yang akan kamu gambarkan! Misalnya, dengan rangkaian peristiwa dalam konflik pada kegiatan tersebut dipilihlah peristiwa-peristiwa berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan 1&lt;br /&gt;Dialog antara Asri dan Ayahnya mengenai profesi pekerjaan ayahnya yang dianggap oleh Asri ”sangat memalukan”.&lt;br /&gt;Asri : Apapun alasannya, aku nggak mau tahu.&lt;br /&gt;Ayah : Meskipun kita harus tidak makan?&lt;br /&gt;Asri : Kalau begitu aku besok akan berhenti sekolah.&lt;br /&gt;Ayah : Mengapa?&lt;br /&gt;Asri : Untuk cari makan sendiri.&lt;br /&gt;Ayah : Bukan begitu As&lt;br /&gt;Asri : Pokoknya aku tidak mau, pilih aku berhenti sekolah atau bapak cari pekerjaan lain.&lt;br /&gt;Ayah : Kamu tahu aku tidak punya keahlian apa-apa. Sejak ibumu masih hidup aku sudah menjalani pekerjaan ini. 20 tahun As!&lt;br /&gt;Asri : Hasilnya … hanya begini-begini saja&lt;br /&gt;Ayah : Bagi saya kamu dapat sekolah dan jadi anak yang sholekah itu sudah cukup.&lt;br /&gt;Asri : Enak si Shanti. Ayahnya pejabat dan dihormati di mana-mana. Dia dengan Bangga dapat menunjukkan foto ayahnya yang sedang meresmikan sebuah bendungan.&lt;br /&gt;Ayah : Terserah pendapatmu, biarlah ayah dengan pendirian ayah sendiri. Bagi Ayah, yang penting pekerjaan itu halal dan dapat digunakan sebagai alat beribadah. Aku mau sembahyang dulu. kamu juga belum sembahyang kan? (Ayah Asri masuk. Asri melemparkan tasnya dengan kesal lalu masuk mengikuti ayahnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan 2&lt;br /&gt;Kelas sedikit gaduh. Nampak beberapa siswa duduk di kelas. Pelajaran belum dimulai. Siswa-siswa berebutan memegang koran dan menunjuk foto dalam koran. Asri masuk kelas dan sedikit terkejut melihat temannya berebut baca koran.&lt;br /&gt;Toni : Nggak nyangka ya ternyata mobil mewah itu ….&lt;br /&gt;Agus : Iya ya… nggak nyangka.&lt;br /&gt;Asri : Ada apa ini?&lt;br /&gt;Dewi : Itu..tuh ratu kelas kita… ternyata bokapnya ……!&lt;br /&gt;Asri : Kenapa?&lt;br /&gt;Dewi : Baca koran ini!&lt;br /&gt;Asri : (menyahut koran yang di pegang Dewi) Kasihan Shanti!&lt;br /&gt;Guru : Sudah masuk anak-anak! Segera bersiap!&lt;br /&gt;(Ketua kelas memimpin berdoa)&lt;br /&gt;Guru : Ibu tahu, apa yang kalian ributkan hari ini.&lt;br /&gt;Agus : Iya Bu…! Sekarang kita punya teman anak seorang koruptor!&lt;br /&gt;Guru : Tidak boleh begitu Gus! Kita tidak boleh memvonis apa-apa terhadap Shanti. Anak tidak pernah minta dilahirkan dari orangtua yang bekerja sebagai apa pun.&lt;br /&gt;Dewi : Tapi dia terlalu membangga-banggakan sebagai anak pejabat, Bu.Guru&lt;br /&gt;Guru : Kita jangan pernah memandang anak siapa teman kita, pandanglah bagaimana perilaku dan prestasi teman kita itu. (mata Bu guru melirik Asri) Asri menunduk.&lt;br /&gt;Guru : Sekarang kita mulai pelajaran Bahasa Indonesia. Buatlah puisi tentang seseorang yang kamu kagumi! (kelas hening sejenak, guru berjalan mengelilingi siswanya yang sedang membuat puisi)&lt;br /&gt;Guru : Yang sudah selesai, saya minta membacakan di depan kelas.&lt;br /&gt;Agus : Saya Bu! (Agus menuju ke depan kelas dengan mantap dan membaca puisinya)&lt;br /&gt;Ibuku Pahlawanku&lt;br /&gt;Malam buta kau terjaga&lt;br /&gt;Membawa bakul tua&lt;br /&gt;Menjadi penjaja sayuran&lt;br /&gt;Meski bukan pilihan&lt;br /&gt;Kau mantap&lt;br /&gt;menatap masa depan&lt;br /&gt;Ibuku …………….!&lt;br /&gt;Bagiku kau adalah pahlawan&lt;br /&gt;Guru : Bagus, seorang bakul juga pahlawan. Siapa lagi yang sudah selesai?&lt;br /&gt;Asri : Saya ingin mencoba Bu! (Asri berjalan pelan ke depan kelas)&lt;br /&gt;Gerobakmu mengoyak sepi&lt;br /&gt;semua gang kau susuri&lt;br /&gt;Tak peduli&lt;br /&gt;orang yang penuh harga diri&lt;br /&gt;menatapnya dengan risi&lt;br /&gt;demi cita yang terpatri&lt;br /&gt;dia yakin Tuhan selalu&lt;br /&gt;menemani&lt;br /&gt;Guru : Puisimu belum diberi judul As? Apa judulnya?&lt;br /&gt;Asri : Ayahku (jawabnya mantap)&lt;br /&gt;Toni : Hebat! Ternyata penjual makanan keliling bisa mendidik anaknya selalu juara kelas. (terdengar bel istirahat berbunyi)&lt;br /&gt;Guru : Puisi yang lain kita bacakan pada pelajaran berikutnya. Kita istirahat dulu.&lt;br /&gt;Kelas : Hoore ! (semua teman-temannya berhamburan keluar)&lt;br /&gt;Asri menunduk sendirian, dia bergumam lirih ……… Maafkan aku Ayah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua bagian cerita telah dikembangkan dalam drama? Tandailah bagaian drama yang menunjukkan hal-hal berikut!&lt;br /&gt;a. Asri marah dengan ayahnya tetapi ayahnya tetap beranggapan bahwa pekerjaannya adalah pekerjaan mulia.&lt;br /&gt;b. Asri menyadari bahwa seseorang akan dinilai dari prestasinya bukan dari pekerjaan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Latihan Melengkapi Dialog dari Rangkaian Peristiwa dalam Gambar&lt;br /&gt;Selain dengan pancingan konflik seperti yang telah dijelaskan di atas, penulisan naskah drama juga dapat dilakukan dengan mengamati gambar atau peristiwa yang menyentuh perasaan&lt;br /&gt;a. Amati gambar di samping! Gambar pengemis kecil di tengah hujan lebat menadahkan tangan kepada penumpang mobil&lt;br /&gt;b. Bayangkan apa saja yang bisa terjadi dengan tokoh-tokoh yang terlibat dalam gambar/peristiwa!&lt;br /&gt;c. Buatlah rangkaian cerita dengan memikirkan mengapa pengemis kecil itu sungguh-sungguh mencari uang padahal hujan deras mendera? Mengapa tidak menunggu hujan reda? Apa yang bisa terjadi pada pengemis kecil itu dengan terus menadahkan tangan di tengah hujan tersebut?&lt;br /&gt;Pilihlah peristiwa yang akan kamu gambarkan dalam dramamu! Misalnya, peristiwa di rumah mewah dan peristiwa di rumah pengemis kecil. Lakukanlah langkah-langkah berikut ini!&lt;br /&gt;a. Tulislah dialog-dialog yang mungkin terjadi dalam peristiwa di rumah mewah dan peristiwa di rumah pengemis! Lakukan secara berkelompok!&lt;br /&gt;Dialog apa yang kira-kira terjadi sewaktu pengemis kecil berada dirumah mewah? Dialog apa yang kira-kira terjadi sewaktu ibu muda meninggalkan pengemis kecil di ruang tamu? Dialog apa yang terjadi ketika bertemu ibunya di rumah pengemis? Apa yang dikatakan gadis kecil ketika mendapatkan ibunya meninggal? Dialog apa yang terjadi ketika pengemis itu mengembalikan uang hasil penjualan arloji?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Susunlah dialog-dialog yang telah kamu diskusikan sehingga menggambarkan rangkaian cerita yang digambarkan! Lihat contoh penulisan naskah drama pada kegiatan yang lalu! Beri nama tokoh-tokoh yang akan kamu tampilkan! Tambahkan pula narasi (penjelasan suasana tempat atau lakuan tokoh seandainya drama dipentaskan)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengomentari Naskah Drama yang Disusun&lt;br /&gt;Naskah drama setiap kelompok dipasang di papan tulis! Setiap kelompok akan membaca hasil karya kelompok lain. Komentarilah naskah drama yang disusun dari segi (1) kesesuaian dialog dengan peristiwa yang akan digambarkan, (2) kejelasan bahasa dalam dialog, (3) ketepatan bentuk drama, dan (4) kejelasan narasi (penjelasan) sehingga mudah dipentaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Menulis dan Menyunting Naskah Drama&lt;br /&gt;Setelah kamu berlatih menyusun naskah drama dengan rangkaian peristiwa yang sudah ditetapkan, sekarang kamu ditugasi menyusun naskah drama dengan menentukan sendiri rangkaian peristiwanya. Tulislah rangkaian cerita dan susunlah sebuah naskah drama secara kelompok berdasarkan rangkaian cerita yang kamu buat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah drama yang kamu susun akan dinilai dari segi (1) keunikan konflik yang diangkat dalam naskah drama, (2) kelogisan penyelesaian konflik, (3) kesesuaian dialog dengan rangkaian peristiwa yang digambarkan, (4) kejelasan isi dialog, dan (5) kejelasan narasi (penjelasan) sehingga mudah dipentaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-8785203032532348106?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/8785203032532348106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/03/menulis-naskah-drama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8785203032532348106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8785203032532348106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/03/menulis-naskah-drama.html' title='MENULIS NASKAH DRAMA'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-7768070767854105986</id><published>2010-01-16T12:10:00.001+07:00</published><updated>2010-01-16T12:35:33.895+07:00</updated><title type='text'>Bahan Ajar Kelas VIII, Semester 2</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;B. Menyampaikan Persetujuan, Sanggahan,&lt;br /&gt;dan Penolakan Pendapat dalam Diskusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah diskusi tentu saja dapat terjadi adanya&lt;br /&gt;perbedaan pendapat dalam upaya mendapatkan solusi dari persolan yang dibahas. Perbedaan pendapat tersebut dapat memunculkan adanya bentuk rasa persetujuan, ketidaksetujuan, upaya sanggahan, ataupun penolakan dari masing-masing peserta diskusi.&lt;br /&gt;Bagaimanakah cara menyampaikan bentuk-bentuk perbedaan&lt;br /&gt;pendapat agar diskusi tetap dapat berjalan dengan baik dan lancar?&lt;br /&gt;Tentu saja semua harus disampaikan dengan etika yang baik dan santun.&lt;br /&gt;Perhatikanlah contoh ilustrasi sebuah proses diskusi berikut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan diskusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi Mesin dan Dampak Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan teknologi dan mesin-mesin modern dengan sistem&lt;br /&gt;komputer di perusahaan-perusahaan industri mampu meningkatkan hasil produksi beberapa kali lipat dibandingkan dengan teknologi manual. Namun demikian, sistem pengoperasian mesin yang serba otomatis dan dapat dioperasionalkan selama 24 jam sehari secara penuh, telah menimbulkan beberapa dampak kurang menguntungkan bagi bidang lainnya.&lt;br /&gt;Lingkungan, lingkungan adalah salah satu bidang yang pa-&lt;br /&gt;ling sering mendapatkan dampak pertama dari berdirinya perusahaan industri (pabrik). Limbah, polusi, dan kebisingan sepertinya merupakan satu-kesatuan yang tidak mungkin lepas dari penggunaanmesin-mesin. Pengolahan terhadap ketiga hal tersebut, saat ini kadang masih belum begitu diperhatikan oleh sebagian pengembang industri.&lt;br /&gt;Moderator: Andi Hafid&lt;br /&gt;Notulis: Marleyn Silalahi&lt;br /&gt;Dalam proses diskusi dengan bahan diskusi di atas dapat&lt;br /&gt;muncul beberapa kemungkinan tanggapan yang berupa&lt;br /&gt;pernyataan. Contoh tanggapan dan sanggahan yang dapat kalian sampaikan dalam diskusi tersebut adalah sebagaimana dilakukan teman-teman kalian, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Linda (pernyataan atau tanggapan terhadap persoalan):&lt;br /&gt;Saya dapat merasakan, bahwa memang penggunaan&lt;br /&gt;mesin-mesin modern di perusahaan-perusahaan industri&lt;br /&gt;telah menimbulkan efek negatif bagi lingkungan. Telah&lt;br /&gt;banyak kita simak dari saluran-saluran informasi yang&lt;br /&gt;mengemukakan bahwa limbah-limbah industri telah&lt;br /&gt;menelan korban, yaitu kerusakan lingkungan dan juga&lt;br /&gt;polusi udara yang terus meningkat. Maka itu, saya&lt;br /&gt;mempunyai pemikiran bahwa penggunaan mesin-mesin&lt;br /&gt;dalam industri saat ini sebaiknya diminimalis, mengingat&lt;br /&gt;besarnya dampak yang ditimbulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Wayan (pernyataan atau tanggapan terhadap persoalan):&lt;br /&gt;Saya mendukung tanggapan yang dikemukakan Saudari&lt;br /&gt;Linda. Selain berdampak polusi, penggunaan mesin-mesin&lt;br /&gt;modern telah mengurangi jumlah tenaga kerja, sedangkan&lt;br /&gt;kita ketahui bahwa masih banyak tenaga kerja kita yang&lt;br /&gt;kesulitan mendapatkan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sania (sanggahan terhadap tanggapan 1 dan 2): Saya dapat&lt;br /&gt;memahami dampak yang ditimbulkan dari adanya&lt;br /&gt;penggunaan mesin-mesin modern dalam perindustrian, dan&lt;br /&gt;saya juga membenarkan hal tersebut. Namun demikian,&lt;br /&gt;saya kurang sependapat dengan solusi yang dikemukakan&lt;br /&gt;Saudari Linda yang dikuatkan oleh Saudara Wayan.&lt;br /&gt;Pemikiran saya bahwa meminimalis mesin-mesin modern dalam perindustrian berarti mengurangi efektivitas&lt;br /&gt;perusahaan dalam berproduksi, yang justru dapat&lt;br /&gt;menurunkan jumlah produksi. Saya berpendapat bahwa&lt;br /&gt;untuk mengurangi dampak limbah dan polusi industri perlu&lt;br /&gt;diperketat adanya peraturan terhadap usaha perindustrian&lt;br /&gt;yang ramah lingkungan dengan menerapkan sistem amdal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Tobing (sanggahan terhadap pernyataan 1 dan 2): Saya&lt;br /&gt;juga kurang sependapat dengan Saudara Wayan dan&lt;br /&gt;Saudari Linda. Menurut saya, meminimalis penggunaan&lt;br /&gt;mesin-mesin dalam perindustrian, selain seperti yang&lt;br /&gt;dikemukakan Saudari Sania, pengembangan perindustrian&lt;br /&gt;kita akan makin tertinggal dari negara lain secara teknologi.&lt;br /&gt;Dalam proses diskusi, tanggapan, usulan, pertanyaan, dan adu&lt;br /&gt;pendapat harus disampaikan melalui moderator dan disampaikan&lt;br /&gt;dengan bahasa yang santun. Dalam hal ini, moderator berfungsi sebagai pemimpin, pemandu, dan penanggung jawab berjalannya diskusi. Seorang moderator harus dapat mengondisikan peserta diskusi, menerima dan menolak usulan, masukan, sanggahan, dan sebagainya, demi tertibnya diskusi untuk mendapatkan solusi serta tidak terjadi pendominasian (penguasaan) pendapat.&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu kalian perhatikan dalam&lt;br /&gt;menyampaikan persetujuan, sanggahan, maupun penolakan&lt;br /&gt;pendapat, yaitu berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Meminta izin moderator terlebih dahulu selaku pemandu&lt;br /&gt;diskusi.&lt;br /&gt;b. Disampaikan dengan bahasa yang santun, komunikatif, dan&lt;br /&gt;jelas.&lt;br /&gt;c. Disertai dengan bukti dan alasan yang logis dan tepat, serta&lt;br /&gt;jika perlu disertai data-data.&lt;br /&gt;d. Fokus terhadap persoalan yang sedang dibahas atau&lt;br /&gt;dibicarakan.&lt;br /&gt;e. Tidak memaksakan kehendak atau pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji Kemampuan 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusikan wacana berikut dengan cermat dan benar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Gaya Belanja Elektronik Bergeser&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep  one stop shopping yang dikembangkan toko elektronik modern menjadi daya pikat.&lt;br /&gt;Kehadiran pasar elektronik modern, diam-diam mulai menggerus popularitas Glodok sebagai pusat ritel elektronik di&lt;br /&gt;Jakarta. Tidak hanya Glodok, toko-toko elektronik tradisional juga mulai terancam dengan kehadiran pasar elektronik modern.&lt;br /&gt;Wajar jika masyarakat mulai berpaling ke pasar elektronik modern.&lt;br /&gt;Berbagai kelebihan ditawarkan pasar modern ini. Mulai dari kenyamanan, keamanan, hingga kemudahan dalam sistem&lt;br /&gt;pembayaran. Nama-nama seperti Electronic City dan Agis Superstore merupakan salah dua dari berbagai toko elektronik modern yang meramaikan pasar. Toko-toko ini&lt;br /&gt;mengkhususkan jualannya hanya untuk produk-produk elektronik.&lt;br /&gt;Senior Manager Marketing Division Head Electronic City, Wiradi, membenarkan adanyapergeseran cara berbelanja masyarakat dari pasar tradisional ke pasar modern. Di tahun&lt;br /&gt;2007, tren tersebut masih akan berlangsung.&lt;br /&gt;Hal ini dilihat dari makin banyaknya pilihan dan ekspansi yang dilakukan oleh toko-toko modern yang sudah hadir terlebih dahulu.&lt;br /&gt;(Sumber: www.republika.co.id Senin, 26 Februari 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjakanlah perintah-perintah berikut dengan benar di buku&lt;br /&gt;tugasmu!&lt;br /&gt;1. Tuliskanlah tanggapan-tanggapan yang muncul dalam diskusi tersebut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berikan apresiasimu terhadap tanggapan-tanggapan yang ada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tuliskanlah tanggapan-tanggapanmu yang berupa pernyataan persetujuan dan ketidaksetujuan terhadap bahan diskusi di atas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tuliskanlah kritik dan saranmu berkenaan dengan tanggapan&lt;br /&gt;yang tidak sesuai dengan pendapatmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tuliskanlah solusimu berkenaan dengan persoalan yang&lt;br /&gt;terdapat dalam bahan diskusi di atas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Menyampaikan Persetujuan, Sanggahan, dan Penolakan  Pendapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mempelajari materi pokok pembelajaran berikut ini kamu diharapkan dapat:&lt;br /&gt; menyampaikan persetujuan dalam diskusi disertai dengan bukti atau alasan&lt;br /&gt; menyampaikan sanggahan dalam diskusi disertai dengan bukti atau alasan&lt;br /&gt; menyampaikan penolakan pendapat dalam diskusi disertai dengan bukti atau alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari kita, sering terlibat diskusi dengan orang lain, baik diskusi secara formal (seperti seminar atau simposium) maupun diskusi kelompok yang kita lakukan. Dalam berdiskusi, kita harus pandai berargumen.&lt;br /&gt;Argumen perlu kita sampaikan agar orang lain yakin dengan pendapat yang kita ajukan. Pendapat dalam diskusi dapat berupa persetujuan, sanggahan, atau penolakan.&lt;br /&gt;Dalam bagian ini, kamu akan berlatih menyampaikan pendapat berupa persetujuan, sanggahan, atau penolakan disertai engan bukti alasan dalam sebuah diskusi formal.&lt;br /&gt;1. Menyampaikan Persetujuan dalam Diskusi Dalam berdiskusi, sering terjadi silang pendapat antarpeserta diskusi.&lt;br /&gt;Namun, tidak jarang juga antara peserta yang satu memiliki pendapat yang sama dengan peserta yang lain. Persetujuan terhadap pendapat peserta lain ini tentu saja harus diikuti dengan argumentasi sehingga meyakinkan peserta diskusi. Persetujuan terhadap pendapat orang lain misalnya dapat dikemukakan dengan cara sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Saya sependapat dengan Saudara ...... karena pada dasarnya .....&lt;br /&gt;b. Saya setuju dengan pendapat ....... sebab ...........&lt;br /&gt;c. Menurut saya pendapat Saudara benar sebab .......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyampaikan Sanggahan dalam Diskusi&lt;br /&gt;Apabila ada peserta diskusi yang manyampaikan pendapat dan&lt;br /&gt;pendapatnya berbeda dengan pendapat kita, kita tidak perlu marah-marah. Kita dapat menyampaikan sanggahan terhadap pendapat orang lain  yang berbeda dengan pendapat kita. Sanggahan harus disampaikan dengan cara yang baik dan bahasa yang santun. Agar sanggahan yang kita sampaikan&lt;br /&gt;dapat diterima oleh orang lain, sanggahan harus diikuti dengan bukti-bukti atau alasan yang logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menyampaikan Penolakan Pendapat dalam Diskusi&lt;br /&gt;Menolak pendapat dalam diskusi boleh dilakukan, sepanjang pendapat yang diajukan orang lain itu memang dirasakan tidak rasional dan sukar diterima oleh akal. Penolakan terhadap pendapat orang lain harus mempertimbangkan perasaan orang yang mengajukan pendapat.&lt;br /&gt;Penolakan pendapat juga harus disertai dengan alasan yang masuk akal.&lt;br /&gt;Dalam diskusi, pemandu (moderator) berhak menentukan dan&lt;br /&gt;membatasi peserta diskusi yang akan mengajukan pendapatnya. Selain itu, pemandu juga berhak mengatur waktu bertanya bagi peserta diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Latihan&lt;br /&gt;1. Bentuklah acara diskusi di kelas.&lt;br /&gt;2. Persiapkan unsur-unsur berikut: pemakalah/kelompok pemakalah atau yang sering disebut penyaji, pemandu, penambat (notulis), dan peserta diskusi.&lt;br /&gt;3. Tentukan pokok permasalahan yang dapat diangkat dalam diskusi kelas (misalnya olahraga).&lt;br /&gt;4. Tugas kelompok pemakalah adalah membuat makalah, digandakan untuk sejumlah kelompok di kelas, menyampaikan makalah, serta menjawab usulan, pendapat, atau ide peserta diskusi (dengan persetujuan, sanggahan, atau penolakan).&lt;br /&gt;5. Tugas pemandu adalah mengatur jalannya diskusi.&lt;br /&gt;6. Peserta bertugas mengikuti jalannya diskusi dengan tertib, kemudian mengajukan usul atau pendapat yang disampaikan pemakalah.&lt;br /&gt;7. Penambat bertugas menulis semua pertanyaan peserta dan semua jawaban pemakalah.&lt;br /&gt;8. Lakukan diskusi sederhana di kelas agar kamu memperoleh gambaran bagaimana diskusi dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-7768070767854105986?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/7768070767854105986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/01/bahan-ajar-kelas-viii-semester-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7768070767854105986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7768070767854105986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2010/01/bahan-ajar-kelas-viii-semester-2.html' title='Bahan Ajar Kelas VIII, Semester 2'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-285084592112676963</id><published>2009-09-16T11:54:00.003+07:00</published><updated>2009-09-16T12:04:48.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pena Jurnalis'/><title type='text'>Yuk, Nulis!  Menemukan Ide</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="bigtitle"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Oleh Gola Gong&lt;/i&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Kalau ingin menjadi pengarang, pergilah ke tempat yang jauh, atau merantaulah  ke negeri orang. Lalu tulislah pengalaman-pengalaman yang didapat.“  (W. Somerset Maugham)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  ***&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Kalimat sakti di atas saya temukan ketika masih usia SMA, di era 80-an. Betulkah hanya dengan pergi ke tempat yang jauh, saya bisa jadi pengarang? Secara genetik, saya tidak memiliki darah pengarang seperti Andrei Aksana dari dinasti Pane, misalnya. Ayah saya seorang guru olahraga dan Ibu tumbuh dari keluarga petani. Tapi keinginan saya jadi pengarang sangat menggebu-gebu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  PRAKTEK&lt;br /&gt;Saya memulainya sejak kecil dengan gila menonton dan membaca buku. Di usia sekolah dasar, saya sudah membuat sandiwara radio dengan tip merek transistor 2 ban. Di SMP membikin komik silat. Dan di SMA memproduksi majalah kumpulan cerpen serta mengirimkan puisi ke beberapa majalah di Jakarta. Untuk menambah wawasan, saya kuliah di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, walaupun hanya bertahan sampai di semester V (1982 – 1985). Ternyata ketika sudah banyak mengenal teori, saya memilih ingin sesegera mungkin mempraktekkannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Saya juga sudah tercekoki oleh novel “Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari” karya Jules Verne, sehingga terobsesi mengunjungi delapan keajaiban dunia seperti Borobudur, Eifel, Pisa, Tembok Cina, Niagara, Piramida-Sphinx, dan Taj Mahal, sehingga saat kuliah pun semakin terbakar saja hati ini. Saya merasa, jika bisa mengunjungi tempat-tempat hebat itu, bisa juga menuliskan karya fiksi. Maka saya sangat ingin membuktikan mantra W. Somerset Maugham itu. Saking kebeletnya, saya tinggalkan bangku kuliah. “Sorry, guys! Saya ingin jadi pengarang! Maka goodbye teori! Kini saatnya praktek!” &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Saya sudah mengunjungi beberapa karya hebat manusia; Borobudur, Taj Mahal, Piramida, dan Spinx. Atau karya-karya lainnya, seperti Pagoda di Thailand, Golden Temple di Sikh, Amristar, India., dan menatap puncak gunung Himalaya di Nepal. Dua novel berlatar tempat Thailand dan India ; Bangkok Love Story dan Surat diterbitkan Gramedia, serrta “Kusunting Dikau di Sungai Nile” sedang saya garap. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  STIMULUS&lt;br /&gt;Bagi penulis pemula, kesulitan awal adalah bagaimana caranya bisa menemukan ide dan menuliskannya. Di setiap Minggu sore, saya mengajar di Kelas Menulis Rumah Dunia kepada para pelajar dan mahasiswa yang ingin bisa menulis berita dan feature (wartawan), menulis fiksi; cerita pendek dan novel (pengarang), serta skenario TV (script writer). Sedangkan di Jum’at pagi, saya mengajar menulis di SMA Unggulan Cahaya Madani Banten Boarding School. Selalu saya katakan kepada mereka yang hendak memasuki dunia kepengarangan, bahwa janganlah duduk di tempat komputer dengan kepala kosong, karena itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Ketika hendak menulis, persiapkanlah dulu semuanya. Bahan-bahannya; sinopsisnya. Syukur-syukur jika sanggup secara detail; alur cerita, konflik, latar tempat, dan karakter para tokoh. Itu yang saya sebut sebagai pra-poduksi. Ketika menulis, berarti saya sedang berproduksi. Menulis cerita pendek atau novel, bagi saya tetap harus ada nilai ekonomisnya, karena itu bagian dari industri.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kelas Menulis Rumah Dunia sudah bergulir 6 angkatan sejak 2002. Setiap angkatan memakan waktu 3 sampai 4 bulan. Rata-rata kesulitan awal mereka adalah “ide” dan “bagaimana menuliskannya”. Mereka ingin bisa menulis cerpen dan novel dalam waktu cepat. Saya katakan kepada mereka, waktu 3 bulan adalah pengenalan teori. Mereka harus gigih belajar dan bersabar. Dibutuhkan waktu 2 sampai 3 tahun untuk bisa menulis novel. Itu pun jika tekun mengikuti stimulus-stimulus sebagai bagian dari proses kreatif, yang saya siapkan di Rumah Dunia untuk mereka; membuat jurnal, mengadakan diskusi buku, jumpa penulis, menghadiri launching buku, serta memprakarsai kegiatan kesenian, kebudayaan, dan pendidikan. Hal-hal yang pernah saya lakukan sebelum jadi pengarang. Saya katakan kepada mereka, isi kepala kalian dengan berbagai hal. Dengan begitu, kalian akan punya “bensin” saat menulis nanti! &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Proses kreatif awal yang saya berikan kepada para calon penulis di Kelas Menulis Rumah Dunia, adalah memperkenalkan dunia jurnalistik selama 1 bulan. Pada tahap kedua, saya mengenalkan kepada mereka, bahwa teori-teori jurnalistik dengan unsur berita (5W + 1 H) bisa diterapkan ke dalam penulisan fiksi. Ketiksa saya tanyakan kepada mereka, pernahkah berpergian jauh? Jawaban mereka seragam; hanya berkutat dari rumah ke sekolah/kampus. Pertanyaan lainnya, “Apakah membaca buku?’ Rata-rata sesekali saja membaca buku. Wawasan juga adalah hal penting untuk mempersiapkan diri kita, jika ingin menjadi penulis (fiksi). &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Beberapa peserta angkatan pertama Kelas Menulis Rumah Dunia, dengan sangat gigih melewati stimulus-stimulus yang saya berikan, pada tahun kedua berhasil membuat antoloji cerpen “Kacamata Sidik” (Senayan Abadi, 2004). Bahkan Qizink La Aziva menulis novel “Gerimis Terakhir” (Dar! Mizan, 2004) dan Ibnu Adam Aviciena dengan “Mana Bidadari Untukku” (Beranda Hikmah, 2004). Sampai angkatan kelima, cerpen-cerpen dan essay mereka bertebaran di beberapa majalah Jakarta dan koran lokal. Tiga antoloji cerpen dari penulis angkatan pertama sampai kelima dipajang di rak-rak toko buku; Padi Memerah (MU3, 2005), Harga Sebuah Hati (Akur, 2005), dan Masih Ada Cinta di Senja Itu (Senyan Abadi, 2005). Kini dua peserta angkatan pertama; Qizink La Aziva dan Ade Jahran, merintis karir sebagai wartawan di koran lokal. Yang paling membanggakan dari kelas menulis angkatan pertama; Endang Rukmana menyabet UNICEF AWARD 2004 dan Adkhilni MS menggondol IKAPI AWARD 2004. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  BUKU HARIAN&lt;br /&gt;Untuk terus menjaga naluri atau rasa kepenulisan, sejak masih usia sekolah saya selalu menyempatkan menulis apa saja di buku harian. Tentang hujan (latar suasana), keindahan sebuah kota (latar tempat), sahabat kita (latar watak/karakrer), cerita teman-teman di sekolah atau kampus (plot/alur cerita). Dengan cara itu, saya membiasakan diri melatih dan mengolah kata. Kalau tidak dibiasakan begitu, bagaimana saya bisa menemukan kosakata-kosakata baru? Pada situasi seperti ini, membaca adalah menu yang lain. Ismail Marahimin (Menulis Secara Populer, Pustaka Jaya, 1994) dengan sangat tepat menganalogikan, bahwa membaca memberikan berbagai-bagai “tenaga dalam” saat menulis. Ibarat mobil, bensin adalah tenaga dalamnya. Jadi, membaca adalah sarana utama menuju kepiawaian menulis. Di setiap kesempatan workshop menulis, saya selalu menyarankan kepada orang-orang, agar rajin membaca dan membiasakan diri menulis buku harian. Resep itu sudah saya buktikan sendiri keampuhannya. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-285084592112676963?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/285084592112676963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/09/yuk-nulis-menemukan-ide.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/285084592112676963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/285084592112676963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/09/yuk-nulis-menemukan-ide.html' title='Yuk, Nulis!  Menemukan Ide'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-6538983110953524967</id><published>2009-07-03T10:47:00.000+07:00</published><updated>2009-07-03T10:56:06.711+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Zona Puisi'/><title type='text'>Puisi-Puisi Santri</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ramadhan Bulan Suci Kami&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Arom (VIIA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan…&lt;br /&gt;Engkaulah bulan suci umat Islam&lt;br /&gt;Di saat itu kami berpuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan…&lt;br /&gt;Bulan yang paling mulia antara bulan-bulan lain&lt;br /&gt;Di saat itu semua dosa dihapus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan…&lt;br /&gt;Mengapa engkau hanya muncul sekali dalam setahun&lt;br /&gt;Seandainya engkau muncul tiga atau empat kali pada setiap tahun&lt;br /&gt;Maka semua umat Islam akan terampuni dosanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan…&lt;br /&gt;Di mana syaiton-syaiton dibelenggu dari Subuh sampai Maghrib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ramadhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Yufi (VIIA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan…&lt;br /&gt;Adalah bulan menuju kemenangan&lt;br /&gt;Di mana aku menahan lapar&lt;br /&gt;Menahan haus dan nafsu&lt;br /&gt;Di situlah aku mendapatkan berkah&lt;br /&gt;Dan pahala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan,&lt;br /&gt;Engkaulah bulan yang aku nantikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ramadhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Chandra (VIIA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan yang penuh rahmat&lt;br /&gt;Oh…itulah bulan Ramadhan&lt;br /&gt;Penuh ampunan, rahmat, hikmah, dan berkah&lt;br /&gt;Sangat istimewa dibanding yang lain&lt;br /&gt;Ramadhan mempesona&lt;br /&gt;Kau sangat dinanti umat muslim&lt;br /&gt;Untuk tingkatkan ibadah&lt;br /&gt;Agar masuk surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ramadhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Fahmi al Fatih (VIIA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan yang penuh dengan kemuliaan&lt;br /&gt;Dan pahala telah datang&lt;br /&gt;Mari kita sambut dengan gembira&lt;br /&gt;Dan kita siapkan jiwa raga kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lalui dengan kebaikan&lt;br /&gt;Bila puasa di bulan Ramadhan&lt;br /&gt;Insya Allah akan sehat&lt;br /&gt;Mari kita lalui dengan semangat&lt;br /&gt;Allahu Akbar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh: Musthofa (VIIA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan bulan yang penuh rahmat&lt;br /&gt;Bulan diampuninya segala dosa&lt;br /&gt;Bulan yang lebih baik dari seribu bulan&lt;br /&gt;Bulan diturunkannya Al Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, berkahilah kami di bulan Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ramadhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Ilham (VIIA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan…&lt;br /&gt;Bulan yang suci&lt;br /&gt;Bulan yang penuh dengan ampunan&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan mendidik hawa nafsu kita&lt;br /&gt;Dan kedisiplinan&lt;br /&gt;Banyakkanlah ibadah di bulan suci ini&lt;br /&gt;Agar mendapat pahala dan berkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ramadhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Rifki Nurrohman (VIIA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan adalah bulan yang indah&lt;br /&gt;Penuh kebaikan&lt;br /&gt;Ramadhan bulan yang suci&lt;br /&gt;Mari kita sambut dengan bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh: Hanif Satria (VII)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan suci yang kita tunggu sudah datang&lt;br /&gt;Bulan yang penuh berkah&lt;br /&gt;Di siang hari yang panas kita menahan hawa nafsu&lt;br /&gt;Di malam hari yang dingin kita bermunajah&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan ridho-Nya&lt;br /&gt;Tiga puluh hari yang berat kita lalui&lt;br /&gt;Keesokan hari kita ke masjid&lt;br /&gt;Tuk laksanakan sholat Ied&lt;br /&gt;Sesudah itu kita bermaaf-maafan ke semua keluarga&lt;br /&gt;Dan ke semua orang yang kita sakiti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Refleksi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Bu Irma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi menapaki mimpi&lt;br /&gt;Bisu mengeja waktu&lt;br /&gt;Kau tarikan tasbih&lt;br /&gt;Di lembar sajadah air matamu&lt;br /&gt;Sekejap sekat demi sekat tersingkap&lt;br /&gt;Nun jauh meriuh di sisi jiwamu&lt;br /&gt;Tangisan darah bocah-bocah&lt;br /&gt;Di antara mujahid mujahidah&lt;br /&gt;Menadah dentum-dentum meriam&lt;br /&gt;Memekak pilu di antara pekik sang waktu&lt;br /&gt;Tak kan usai kedengkian itu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-6538983110953524967?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/6538983110953524967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/07/puisi-puisi-santri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/6538983110953524967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/6538983110953524967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/07/puisi-puisi-santri.html' title='Puisi-Puisi Santri'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-6723473671196793304</id><published>2009-05-04T10:57:00.001+07:00</published><updated>2009-05-04T10:57:57.840+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Guru</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Nabella Nurfaiza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kumelihat wajahmu dari sudut pintu&lt;br /&gt;Hatiku berucap terima kasih guruku&lt;br /&gt;Kau bagaikan penerang yang menyinari&lt;br /&gt;Ruangan hampa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-6723473671196793304?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/6723473671196793304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/guru_03.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/6723473671196793304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/6723473671196793304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/guru_03.html' title='Guru'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-8501188394780053151</id><published>2009-05-04T10:56:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:57:14.085+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Air</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Nabella Nurfaiza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku terkesan dengan sebuah air&lt;br /&gt;Yang kelihatannya kecil&lt;br /&gt;Tapi dia berharga bagiku&lt;br /&gt;Ketika kumandikan diriku dengan air&lt;br /&gt;Rasanya seakan-akan tenang&lt;br /&gt;Semua beban hilang&lt;br /&gt;Dia juga membersihkan diriku&lt;br /&gt;Yang semula kotor menjadi bersih&lt;br /&gt;Andai ada air bisa memandikan hatiku&lt;br /&gt;Agar hatiku bisa menjadi bersih&lt;br /&gt;Aku sekarang tahu jawabannya&lt;br /&gt;Air itu adalah taubat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-8501188394780053151?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/8501188394780053151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/air.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8501188394780053151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8501188394780053151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/air.html' title='Air'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-8924426577536716036</id><published>2009-05-04T10:55:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:56:27.097+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Penglihatanku</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Nabella Nurfaiza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di alam maya ini&lt;br /&gt;Ku berjalan menelusuri kota-kota&lt;br /&gt;Ku melihat pemandangan indah&lt;br /&gt;Seakan hatiku merasa jernih&lt;br /&gt;Hatiku tenang&lt;br /&gt;Tetapi sebaliknya&lt;br /&gt;Ketika ada insan-insan&lt;br /&gt;Yang melanggar janji kepada-Nya&lt;br /&gt;Seakan-akan&lt;br /&gt;Mataku menjadi buta&lt;br /&gt;Tak dapat kulihat apa-apa&lt;br /&gt;Hati pun buta melihatnya&lt;br /&gt;Aku pun bertanya-tanya&lt;br /&gt;Rugikah hidup mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-8924426577536716036?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/8924426577536716036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/penglihatanku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8924426577536716036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8924426577536716036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/penglihatanku.html' title='Penglihatanku'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-5265852290360903838</id><published>2009-05-04T10:54:00.001+07:00</published><updated>2009-05-04T10:54:58.513+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Nabiku</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Zahra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati bergetar&lt;br /&gt;Degup jantung berdebar&lt;br /&gt;Kala indah cahaya surya kala pagi menjelang&lt;br /&gt;Kalahkan elok rupawan sayap kupu-kupu terbang&lt;br /&gt;Insan sempurna.....&lt;br /&gt;Al Amin ciri utamanya&lt;br /&gt;Nabi besar nan mulia&lt;br /&gt;Rahmat seluruh alam semesta&lt;br /&gt;Insan mengugguli setiap ciptaan-Nya&lt;br /&gt;Beliau Ahmad&lt;br /&gt;Lelaki pembawa rahmat&lt;br /&gt;Wasilah agung setiap umat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-5265852290360903838?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/5265852290360903838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/nabiku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/5265852290360903838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/5265852290360903838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/nabiku.html' title='Nabiku'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-2684361982735783946</id><published>2009-05-04T10:53:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:54:17.776+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Televisi</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Zahra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mengutip seluruh berita&lt;br /&gt;Dari seluruh celah di dunia&lt;br /&gt;Politik, sosial, ekonomi, budaya, dan olah raga&lt;br /&gt;Dari yang jenaka hingga raja tega&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini kau mulai berbeda&lt;br /&gt;Melepas tayangan yang tak pantas&lt;br /&gt;Meresap cepat dalam benak pemirsamu&lt;br /&gt;Melahirkan generasi baru, dengan kehidupan semu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi Islam hendaknya waspada&lt;br /&gt;Memilah dan memilih setiap acara&lt;br /&gt;Jangan tertipu akan keajaiban kaca&lt;br /&gt;Membuat hati menjadi buta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kawan kita sepakat dan satukan tekad&lt;br /&gt;Bentengi diri dengan Islam dan iman&lt;br /&gt;Kawan...&lt;br /&gt;Perjalanan kita masih panjang lewati barzah dan mizan&lt;br /&gt;Senantiasa mengharap bimbingan Tuhan&lt;br /&gt;Agar kita selamat dari tipuan setan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-2684361982735783946?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/2684361982735783946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/televisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2684361982735783946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2684361982735783946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/televisi.html' title='Televisi'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-394102261005109378</id><published>2009-05-04T10:50:00.002+07:00</published><updated>2009-05-04T10:53:33.376+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Setelah Ramadhan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Zahra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan telah berlalu&lt;br /&gt;Menyisakan sebersit rasa rindu&lt;br /&gt;Rasa rindu di hati nan syahdu&lt;br /&gt;Melebihi indah bulan seribu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjalani bulan penuh berkah&lt;br /&gt;Tibalah sebuah perayaan megah&lt;br /&gt;Perayaan yang suci nan indah&lt;br /&gt;Sejuk di hati bagaikan mawar disinari cahaya mentari dan cerah&lt;br /&gt;Ialah hari raya kita semua&lt;br /&gt;Hari raya Idul Fitri tentunya&lt;br /&gt;Menyerukan suara takbir yang menggema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar...... Allahu Akbar...... Walillahilkham&lt;br /&gt;Terimalah segala ibadah hamba&lt;br /&gt;Agar usaha hamba tidak sia-sia&lt;br /&gt;Menjadi orang yang selalu bertaqwa&lt;br /&gt;Istiqomah dalam kehambaan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-394102261005109378?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/394102261005109378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/setelah-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/394102261005109378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/394102261005109378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/setelah-ramadhan.html' title='Setelah Ramadhan'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-7292762505165159184</id><published>2009-05-04T10:50:00.001+07:00</published><updated>2009-05-04T10:50:54.882+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Penyejuk Jiwa</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Ayuningtyas Risdiani (VII B)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala hati sedang rindu&lt;br /&gt;Rindu akan sosok-Mu&lt;br /&gt;Kuambil sebuah buku hijau&lt;br /&gt;Buku penyejuk hati&lt;br /&gt;Dengan alunan ayat-ayat indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca dalam kesunyian malam&lt;br /&gt;Yang belum terlalu senyap akan aktivitas&lt;br /&gt;Kubaca kata demi kata&lt;br /&gt;Ayat demi ayat&lt;br /&gt;Seketika hati terasa tenteram&lt;br /&gt;Kegalauan pun mulai sirna&lt;br /&gt;Dan ketenangan pun merasuk dalam sanubari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala kututup buku ini&lt;br /&gt;Hati serasa terlindungi&lt;br /&gt;Namun...&lt;br /&gt;Jiwa ini mulai rindu&lt;br /&gt;Menyenandungkan ayat-ayat cinta-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-7292762505165159184?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/7292762505165159184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/penyejuk-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7292762505165159184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7292762505165159184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/penyejuk-jiwa.html' title='Penyejuk Jiwa'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-816851725211976805</id><published>2009-05-04T10:49:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:50:11.838+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Gadis Kecil Itu</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Ayuningtyas Risdiani (VII B)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunannya memang begitu sederhana&lt;br /&gt;Tak setinggi gadis kecil lain&lt;br /&gt;Hanya mengharap sebuah asa&lt;br /&gt;Yang tak ia dapatkan selama ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu...&lt;br /&gt;Menanti sebuah kepastian&lt;br /&gt;Kepastian akan hidupnya&lt;br /&gt;Hidup yang selalu membuatnya terikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap dan berharap&lt;br /&gt;Kapan hidup ini berpihak padanya&lt;br /&gt;Kapan hidup ini bisa membuatnya tersenyum&lt;br /&gt;Tak seperti sekarang&lt;br /&gt;Selalu berkelahi dengan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersekolah...&lt;br /&gt;Mungkin terdengar hal yang lumrah&lt;br /&gt;Setiap orang bisa memperolehnya&lt;br /&gt;Namun tidak dengan gadis kecil ini&lt;br /&gt;Itu bagaikan sebuah angan semu semata baginya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruas kota metropolitan&lt;br /&gt;Ia masih menanti&lt;br /&gt;Bersama gitar kecil di tangannya&lt;br /&gt;Berharap asanya akan terwujud&lt;br /&gt;Bersekolah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-816851725211976805?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/816851725211976805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/gadis-kecil-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/816851725211976805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/816851725211976805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/gadis-kecil-itu.html' title='Gadis Kecil Itu'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-5460606077650399419</id><published>2009-05-04T10:48:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:49:09.720+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Doa</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Ayuningtyas Risdiani (VII B)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kedua mata terpejam&lt;br /&gt;Merenungi arti sebuah kehidupan&lt;br /&gt;Kehidupan yang hanya terhitung semu&lt;br /&gt;Dengan berjuta magnet penariknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubersimpuh&lt;br /&gt;Meminta sebuah kekuatan&lt;br /&gt;Dari penyebab kebatilan dan jalan yang sesat&lt;br /&gt;Dari penyebab kerapuhan moral bangsa&lt;br /&gt;Kuatkanlah imanku&lt;br /&gt;Untuk menentang alur kemaksiatan&lt;br /&gt;Lapangkanlah pula rizqi&lt;br /&gt;Dan berilah aku kebahagiaan dunia akhirat&lt;br /&gt;Inilah doa seorang hamba&lt;br /&gt;Yang ingin menjadi kekasih-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah...&lt;br /&gt;Hanya kepada Engkau aku bergantung&lt;br /&gt;Dari perbuatan yang Kau murkai&lt;br /&gt;Atas kuasa-Mu aku terlahir&lt;br /&gt;Dan hanya kepada-Mu aku kembali&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-5460606077650399419?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/5460606077650399419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/doa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/5460606077650399419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/5460606077650399419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/doa.html' title='Doa'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-7591516471158979348</id><published>2009-05-04T10:43:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:46:07.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Buku</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Irmawati Sn (VII)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku&lt;br /&gt;Engkaulah temanku&lt;br /&gt;Kau selalu memberi ilmu kepadaku&lt;br /&gt;Setiap saat aku membukamu&lt;br /&gt;Tanpamu aku tak bisa mendapatkan ilmu&lt;br /&gt;Kau adalah teman terbaikku&lt;br /&gt;Kau telah membantuku mencari ilmu&lt;br /&gt;Terima kasih...engkau memang sahabatku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-7591516471158979348?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/7591516471158979348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7591516471158979348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7591516471158979348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/buku.html' title='Buku'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-3213059876141632297</id><published>2009-05-04T10:40:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:43:45.412+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Sepiku</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Irmawati Sn (VII B)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara terompet berada di mana-mana&lt;br /&gt;Menyambut tahun yang baru&lt;br /&gt;Semua orang pergi memenuhi jalan&lt;br /&gt;Melakukan pawai tak tentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya duduk di rumah&lt;br /&gt;Tak ada terompet...&lt;br /&gt;Tak ada kembang api...&lt;br /&gt;Tahun baru...&lt;br /&gt;Bukanlah saatnya bersenang-senang&lt;br /&gt;Tetapi...&lt;br /&gt;Saatnya kita merenungkan&lt;br /&gt;Perbuatan kita satu tahun yang lalu&lt;br /&gt;Untuk memperbaikinya&lt;br /&gt;Di tahun yang akan datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-3213059876141632297?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/3213059876141632297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/sepiku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/3213059876141632297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/3213059876141632297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/sepiku.html' title='Sepiku'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-2669596285456606437</id><published>2009-05-04T10:39:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:40:34.669+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Ibuku Pahlawanku</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Adi S. (VII B)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, engkaulah pahlawanku&lt;br /&gt;Engkaulah yang telah mengandung&lt;br /&gt;Melahirkan dan membesarkan aku&lt;br /&gt;Dengan segala cinta kasihmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ibu, engkau orang yang paling aku cintai&lt;br /&gt;    Orang yang paling aku sayangi&lt;br /&gt;    Dan orang yang paling aku hormati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, engkaulah pahlawanku&lt;br /&gt;Engkaulah orang yang paling berjasa&lt;br /&gt;Dalam hidupku setelah ayah tiada&lt;br /&gt;Ibu, aku cinta padamu&lt;br /&gt;Selamanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan pun&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-2669596285456606437?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/2669596285456606437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/ibuku-pahlawanku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2669596285456606437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2669596285456606437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/ibuku-pahlawanku.html' title='Ibuku Pahlawanku'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-4953516243416717216</id><published>2009-05-04T10:38:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:39:53.877+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Guruku</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Aufa (VII A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guruku&lt;br /&gt;Betapa kerasnya engkau membantu kami&lt;br /&gt;Engkau berjuang dengan sekuat tenaga&lt;br /&gt;Engkau sangat berjasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Bu Irma&lt;br /&gt;Jasamu sangat besar&lt;br /&gt;Hingga kami menguasai bahasa Indonesia&lt;br /&gt;Tanpamu aku tak bisa begini&lt;br /&gt;Tak bisa mengerti banyak hal&lt;br /&gt;Meski sering kami membantahmu&lt;br /&gt;Tapi dengan ikhlas Engkau maafkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih guruku&lt;br /&gt;Ya Allah jagalah guruku ini&lt;br /&gt;Masukkanlah guruku ini ke dalam surga-Mu&lt;br /&gt;Karena jasa-jasanya yang besar&lt;br /&gt;Dan karena kemaafannya aku bisa begini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-4953516243416717216?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/4953516243416717216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/guruku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4953516243416717216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4953516243416717216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/guruku.html' title='Guruku'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-5747109020091645149</id><published>2009-05-04T10:37:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:38:43.258+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Ayah</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Iza Ilzamul Akbar (VII A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana akan selalu kuingat&lt;br /&gt;Di sini aku menangis seorang diri&lt;br /&gt;Apakah hatiku masih ada di hatimu&lt;br /&gt;Untukmu selalu kupanjatkan doa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk ayah yang kukagumi&lt;br /&gt;    Betapa aku ingin bertemu denganmu&lt;br /&gt;    Tapi semua itu hanyalah harapan&lt;br /&gt;    Harapan yang tak mungkin hilang dari hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah...&lt;br /&gt;Akan kuukir indah namamu&lt;br /&gt;Di atas hatiku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-5747109020091645149?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/5747109020091645149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/ayah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/5747109020091645149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/5747109020091645149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/ayah.html' title='Ayah'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-7159906702816914481</id><published>2009-05-04T10:34:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:35:08.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Guru</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Iza Ilzamul Akbar (VII A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasamu takkan kulupakan&lt;br /&gt;Walau di akhir zaman&lt;br /&gt;Semua yang tlah Kau berikan&lt;br /&gt;Akan selalu kukenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru...&lt;br /&gt;Kucoba tuk memahamimu&lt;br /&gt;Memahami keadaanmu&lt;br /&gt;Suara pelan&lt;br /&gt;Tak jadi halangan tuk mengajariku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengorbananmu sangat berarti&lt;br /&gt;Kau menuntunku ke arah yang baik&lt;br /&gt;Kutaruh semua isi hatiku&lt;br /&gt;Untuk kebaikan yang berarti...&lt;br /&gt;Terima kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-7159906702816914481?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/7159906702816914481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/guru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7159906702816914481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7159906702816914481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/guru.html' title='Guru'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-2232483677514692772</id><published>2009-05-04T10:33:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:34:01.813+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Pahlawan Tanpa Tanda Jasa</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Iza Ilzamul Akbar (VII A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru....&lt;br /&gt;Kau yang mengajariku tentang hidup&lt;br /&gt;Kau yang telah memberikanku ilmu&lt;br /&gt;Ilmu yang selama ini kucari&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Guru...&lt;br /&gt;Kau pahlawan tanpa tanda jasa&lt;br /&gt;Pahlawan yang membuat Ibu Pertiwi bangga&lt;br /&gt;Yang menerangi jalanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tak kenal lelah untuk mengajar&lt;br /&gt;Memberikan ilmu kepadaku&lt;br /&gt;Walau rintangan membentang&lt;br /&gt;Kau tak pernah patah arang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriku ini seperti gelapnya malam&lt;br /&gt;Tapi, kau datang memberikan sinar cahaya&lt;br /&gt;Karena semangatmu itu&lt;br /&gt;Yang membuat diriku bangga padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-2232483677514692772?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/2232483677514692772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/pahlawan-tanpa-tanda-jasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2232483677514692772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2232483677514692772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/pahlawan-tanpa-tanda-jasa.html' title='Pahlawan Tanpa Tanda Jasa'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-7868864554415027904</id><published>2009-05-04T10:29:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:32:47.618+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Memang Sombong Diriku Ini</title><content type='html'>Oleh Chandra Achmad Fauzi (VII A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia&lt;br /&gt;Hal yang paling kecil di alam semesta&lt;br /&gt;Apalagi di mata Tuhan&lt;br /&gt;Kita tidak lebih dari setitik debu&lt;br /&gt;Tapi, banyak orang sombong, kikir, pelit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Berkeliaran di dunia ini&lt;br /&gt;   Seakan lam semesta milik sendiri&lt;br /&gt;   Tanpa menghiraukan yang lain&lt;br /&gt;   Jika nyawa dicabut, nafas dihentikan&lt;br /&gt;   Mungkinkah kita akan mengelak&lt;br /&gt;   Dari itu semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diatur oleh Yang Mahakuasa&lt;br /&gt;Tanpa pertolongan-Nya, kita takkan bisa hidup&lt;br /&gt;Bertaubatlah sekarang&lt;br /&gt;Sebelum Dia murka&lt;br /&gt;Dan mencabut nyawa kita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-7868864554415027904?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/7868864554415027904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/memang-sombong-diriku-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7868864554415027904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7868864554415027904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/memang-sombong-diriku-ini.html' title='Memang Sombong Diriku Ini'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-510548883446361868</id><published>2009-05-04T10:26:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:28:32.568+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Ujung Bambu yang Saling Menyapa</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Chandra Achmad Fauzi (VII A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kulihat keluar jendela&lt;br /&gt;Kutatap pohon-pohon bambu&lt;br /&gt;Warna hijau yang sangat indah&lt;br /&gt;Angin sepoi pun bertiup&lt;br /&gt;Membuat batang itu bagai bergoyang&lt;br /&gt;Ujung bambu saling berdekatan&lt;br /&gt;Bagai menyapa satu sama lain&lt;br /&gt;Andaikan kita semua seperti itu&lt;br /&gt;Berdekatan untuk saling menyapa&lt;br /&gt;Bukan memaki&lt;br /&gt;Alangkah indah dunia ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-510548883446361868?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/510548883446361868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/ujung-bambu-yang-saling-menyapa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/510548883446361868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/510548883446361868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/ujung-bambu-yang-saling-menyapa.html' title='Ujung Bambu yang Saling Menyapa'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-1581950976204009573</id><published>2009-05-04T10:25:00.001+07:00</published><updated>2009-05-04T10:25:58.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Untuk Sahabat</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Chandra Achmad Fauzi (VII A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kata yang tak terlupakan&lt;br /&gt;Mengingatkanku dengan seseorang&lt;br /&gt;Yang sangat kubanggakan&lt;br /&gt;Seseorang yang bisa kuajak bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bercanda dan berbagi pengalaman&lt;br /&gt;    Selalu setia menemaniku&lt;br /&gt;    Saat suka maupun duka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah yang menghiburku&lt;br /&gt;Membuatku tertawa lagi&lt;br /&gt;Dialah yang membuat hidupku berarti&lt;br /&gt;Itulah sahabatku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-1581950976204009573?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/1581950976204009573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/untuk-sahabat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/1581950976204009573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/1581950976204009573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/untuk-sahabat.html' title='Untuk Sahabat'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-7038677476630116000</id><published>2009-05-04T10:15:00.000+07:00</published><updated>2009-05-04T10:24:14.872+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Santri'/><title type='text'>Penerang dalam Kegelapan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Chandra Achmad Fauzi (VII A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai api yang membara&lt;br /&gt;Kau berikan semangat pada kami&lt;br /&gt;Awalnya aku tak tahu apa-apa&lt;br /&gt;Begitu bodoh dan hanya bisa menangis&lt;br /&gt;Tapi, karenamu aku tahu segalanya&lt;br /&gt;Kaulah lilin dalam jalan gelapku&lt;br /&gt;Menerangi setiap langkah hidupku&lt;br /&gt;Dengan apa yang kau berikan padaku&lt;br /&gt;Aku takkan bisa membalasmu&lt;br /&gt;Walau sampai akhir hidupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-7038677476630116000?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/7038677476630116000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/penerang-dalam-kegelapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7038677476630116000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7038677476630116000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/05/penerang-dalam-kegelapan.html' title='Penerang dalam Kegelapan'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-7748028340010821871</id><published>2009-04-19T10:51:00.000+07:00</published><updated>2009-04-19T10:55:08.269+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Resensi Kumpulan Cerpen Fantasi: Kisah-kisah Beedle Si Juru Cerita</title><content type='html'>&lt;p&gt;Penulis: J.K. Rowling&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penerjemah: Nina Andiana &amp;amp; Listiana Srisanti&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cetakan: I, Maret 2009&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tebal: 144 halaman&lt;/p&gt; &lt;p&gt;ISBN: 978-979-22-4421-2&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nilai: **&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://www.penulislepas.com/v2/wp-content/uploads/2009/04/beedle.jpg"&gt;&lt;img class="alignnone size-medium wp-image-1391" title="beedle" src="http://www.penulislepas.com/v2/wp-content/uploads/2009/04/beedle-224x300.jpg" alt="" height="300" width="224" /&gt;&lt;/a&gt;Harga, sebagai komponen yang cukup penting dalam pembelanjaan buku [khususnya para pemburu diskon seperti saya], boleh jadi membuat Anda melotot ketika mendapati buku yang disemati bandrol Rp 50.000,00 ini. Pasalnya kecuali berformat hardcover, karya J.K. Rowling satu ini relatif tipis dan hanya berisi lima cerita pendek. Namun tidak menjadi masalah tentunya bagi para penggemar serial Harry Potter, terlebih di sononya The Tales of Beedle the Bard semula dicetak sangat terbatas. Hanya tujuh eksemplar, ditulis tangan dan dibubuhi ilustrasi oleh sang pengarang sendiri. Menembus angka £1.95 juta saat dilelang tahun 2007 – harga tertinggi untuk karya sastra modern, buku ini diterbitkan untuk umum dan seluruh royaltinya digunakan untuk sumbangan The Children’s High Level Group.&lt;span id="more-1390"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelima kisah yang dimuat dalam buku ini relatif sederhana dan masih cocok untuk dibaca anak-anak usia pra remaja. Banyak pelajaran yang dapat direngkuh, semisal betapa berbahayanya keserakahan sehingga mendatangkan maut [&lt;em&gt;Kisah Tiga Saudara&lt;/em&gt;, hal. 117] dan ketidakpedulian pada penderitaan sesama yang menyebabkan seorang penyihir muda tidak tenang setiap harinya [&lt;em&gt;Sang Penyihir dan Kuali Melompat&lt;/em&gt;, hal. 23]. Memang bukan dongeng biasa yang sekadar memberikan reward and punishment atau akhir bahagia selama-lamanya. Yang paling saya sukai adalah Air Mancur Mujur Melimpah [hal. 45] karena mengandung hikmah besar bahwa jawaban setiap persoalan sebenarnya ada dalam diri sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya bukan penyuka Harry Potter dan tidak membacanya pula, sehingga catatan Profesor Dumbledore lebih sering dilewatkan. Meski demikian, ide kreatif J.K. Rowling dan upayanya untuk mengumpulkan donasi bagi anak-anak yang terabaikan di panti asuhan layak diapresiasi positif. rujukan dari &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Tales_of_Beedle_the_Bardhttp://en.wikipedia.org/wiki/The_Tales_of_Beedle_the_Bard"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;          &lt;div class="single-post-metadata"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-7748028340010821871?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/7748028340010821871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/04/resensi-kumpulan-cerpen-fantasi-kisah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7748028340010821871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/7748028340010821871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2009/04/resensi-kumpulan-cerpen-fantasi-kisah.html' title='Resensi Kumpulan Cerpen Fantasi: Kisah-kisah Beedle Si Juru Cerita'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-3536613328336976264</id><published>2008-10-14T14:17:00.002+07:00</published><updated>2008-10-14T14:18:11.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ranah Peribahasa'/><title type='text'>Bagai menegakkan benang basah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagai menegakkan benang basah&lt;/span&gt;                &lt;/span&gt;                                                 &lt;p class="isi-tabel" style="margin-left: 8px; margin-right: 8px; font-family: verdana;" align="justify"&gt;                   &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Peribahasa ini berarti melakukan suatu pekerjaan yang mustahil terjadi. Atau melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui dari awal tidak  akan berhasil&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-3536613328336976264?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/3536613328336976264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/bagai-menegakkan-benang-basah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/3536613328336976264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/3536613328336976264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/bagai-menegakkan-benang-basah.html' title='Bagai menegakkan benang basah'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-4619748138921121618</id><published>2008-10-14T14:17:00.001+07:00</published><updated>2008-10-14T14:17:45.484+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ranah Peribahasa'/><title type='text'>Mulutmu harimaumu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;Mulutmu harimaumu                                                                  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Peribahasa ini memiliki arti bahwa hendaknya kita memikirkan segala perkataan yang akan diucapkan karena kata yang telanjur terucap  dapat merugikan diri sendiri. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-4619748138921121618?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/4619748138921121618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/mulutmu-harimaumu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4619748138921121618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4619748138921121618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/mulutmu-harimaumu.html' title='Mulutmu harimaumu'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-1794399233469491807</id><published>2008-10-14T14:16:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T14:17:10.427+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ranah Peribahasa'/><title type='text'>Bagai air di daun talas</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;Bagai air di daun talas                                                                  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Peribahasa ini menggambarkan ketidakcocokan antara dua orang seperti air yang ditaruh di atas daun talas. Selain itu, peribahasa ini dapat berarti orang yang tidak punya pendirian/keteguhan hati. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-1794399233469491807?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/1794399233469491807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/bagai-air-di-daun-talas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/1794399233469491807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/1794399233469491807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/bagai-air-di-daun-talas.html' title='Bagai air di daun talas'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-4904194577282946659</id><published>2008-10-14T14:15:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T14:16:36.863+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ranah Peribahasa'/><title type='text'>Belajar ke yang pintar, berguru ke yang pandai</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;Belajar ke yang pintar, berguru ke yang pandai                &lt;/span&gt;                                                 &lt;p class="isi-tabel" style="margin-left: 8px; margin-right: 8px; font-family: verdana;" align="justify"&gt;                   &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peribahasa itu hendak mengingatkan kepada kita bahwa orang pintar dan orang pandai dapat dijadikan sebagai tempat belajar dan berguru. Mereka itu merupakan orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dapat disebarkan kepada orang lain. Dengan demikian, orang yang belajar dan berguru kepadanya akan bertambah ilmu pengetahuannya dan pengalamannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peribahasa itu memberi makna bahwa kita jika akan menuntut ilmu kepada orang yang tepat, yaitu orang yang berilmu pengetahuan dan orang yang mempunyai pengalaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-4904194577282946659?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/4904194577282946659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/belajar-ke-yang-pintar-berguru-ke-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4904194577282946659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4904194577282946659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/belajar-ke-yang-pintar-berguru-ke-yang.html' title='Belajar ke yang pintar, berguru ke yang pandai'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-2784327845503463763</id><published>2008-10-14T14:13:00.001+07:00</published><updated>2008-10-14T14:13:53.717+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ranah Peribahasa'/><title type='text'>Kalah jadi abu, menang jadi arang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;Kalah jadi abu, menang jadi arang                &lt;/span&gt;                                                 &lt;p class="isi-tabel" style="margin-left: 8px; margin-right: 8px; font-family: verdana;" align="justify"&gt;                   &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Abu adalah sisa yang tinggal setelah suatu barang mengalami pembakaran. Arang adalah serbuk hitam bekas kayu yang terbakar. Jadi, baik abu maupun arang merupakan barang yang terjadi karena pembakaran. Biasanya sesuatu yang kita masak menjadi abu atau arang tidak dapat dimanfaatkan lagi. Hal itu berarti kita mengalami kerugian. Jadi, abu dan arang itu mengiaskan kerugian. Kalah dan menang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan hasil pekerjaan dari dua orang yang mengadakan pertandingan atau perlombaan. Namun, dalam peribahasa itu kalah dan menang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terbatas pada dua orang yang bertengkar atau berkelahi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peribahasa itu menasihati kita agar jangan bertengkar atau berkelahi karena yang kalah dan menang sama-sama akan menderita kerugian. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-2784327845503463763?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/2784327845503463763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/kalah-jadi-abu-menang-jadi-arang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2784327845503463763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2784327845503463763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/kalah-jadi-abu-menang-jadi-arang.html' title='Kalah jadi abu, menang jadi arang'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-1696962563808055735</id><published>2008-10-14T14:12:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T14:13:12.164+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ranah Peribahasa'/><title type='text'>Lempar batu, sembunyi tangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;Lempar batu, sembunyi tangan                &lt;/span&gt;                                                 &lt;p class="isi-tabel" style="margin-left: 8px; margin-right: 8px; font-family: verdana;" align="justify"&gt;                   &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sesuatu yang dilemparkan pasti ada seseorang yang melakukan lemparan. Namun, ada juga yang melakukan lemparan, kemudian orang itu bersembunyi sehingga tidak diketahui siapa pelemparnya. Artinya, orang itu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Orang seperti itu digolongkan sebagai pengecut, yaitu berani berbuat, tetapi takut bertanggung jawab atas perbuatanya. Jadi, peribahasa itu mempunyai arti berani berbuat, tetapi takut bertanggung jawab. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-1696962563808055735?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/1696962563808055735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/lempar-batu-sembunyi-tangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/1696962563808055735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/1696962563808055735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/lempar-batu-sembunyi-tangan.html' title='Lempar batu, sembunyi tangan'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-6917417674791250062</id><published>2008-10-14T14:11:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T14:12:36.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ranah Peribahasa'/><title type='text'>Berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;Berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah                &lt;/span&gt;                                                 &lt;p class="isi-tabel" style="margin-left: 8px; margin-right: 8px; font-family: verdana;" align="justify"&gt;                   &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam peribahasa itu, berjalan dan berkata diumpamakan dengan perbuatan dan perkataan kita. Dalam melakukan pekerjaan hendaklah setiap orang berhati-hati agar terhindar dari kesalahan. Baik kecil maupun besar, kesalahan yang kita lakukan akan merugikan diri sendiri. Kita juga harus menjaga perkataan kita agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Orang yang halus tutur katanya akan disenangi dalam pergaulan. Jadi, peribahasa tersebut mempunyai makna yang bersifat mengingatkan kita, yaitu hendaknya kita selalu berhati-hati dengan semua perbuatan kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-6917417674791250062?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/6917417674791250062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/berjalan-peliharakan-kaki-berkata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/6917417674791250062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/6917417674791250062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/berjalan-peliharakan-kaki-berkata.html' title='Berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-4494547872873601842</id><published>2008-10-14T14:10:00.001+07:00</published><updated>2008-10-14T14:15:01.937+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ranah Peribahasa'/><title type='text'>Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak...</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah                &lt;/span&gt;                                                 &lt;p class="isi-tabel" style="margin-left: 8px; margin-right: 8px; font-family: verdana;" align="justify"&gt;                   &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kata &lt;em&gt;jalan &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;penggalah&lt;/em&gt; tersebut digunakan untuk membandingkan antara panjang dan pendek. Sepanjang jalan ini berarti panjang sekali, bahkan tidak terbatas. Karena kasih sayang ibu tidak terbatas, seorang ibu bersedia berkorban apa saja untuk anaknya. Sepanjang penggalah berarti panjangnya terbatas. Adanya cerita tentang anak yang menyia-nyiakan ibunya merupakan ibarat cinta yang sepenggalan. Hal itu berarti kasih sayang ibu terhadap anak tidak sama dengan kasih sayang anak terhadap ibu. Jadi, peribahasa itu mengingatkan kepada kita bahwa kasih sayang ibu terhadap anak tidak ada bandingannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-4494547872873601842?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/4494547872873601842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/kasih-ibu-sepanjang-jalan-kasih-anak_14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4494547872873601842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4494547872873601842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/kasih-ibu-sepanjang-jalan-kasih-anak_14.html' title='Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak...'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-2512531295175583564</id><published>2008-10-14T14:01:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T14:08:22.406+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Chairil Anwar (1922-1949)</title><content type='html'>&lt;table id="AutoNumber1" style="border-collapse: collapse;" class="warna" width="670" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="12"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="511"&gt;     &lt;table style="border-collapse: collapse;" id="AutoNumber24" width="511" border="0" bordercolor="#111111" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;       &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;         &lt;td class="bg-10" valign="top" width="155" align="center"&gt;       &lt;div align="center"&gt;         &lt;center&gt;         &lt;table style="border-collapse: collapse;" id="AutoNumber36" width="155" border="0" bordercolor="#111111" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="crs4" width="145" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="warna" width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="warna" valign="top" width="145" align="center" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="warna" width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="145" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="145" align="center"&gt;                          &lt;img src="http://www.e-ti.com/ensiklopedi/c/chairil-anwar/chairil_anwar.jpg" width="145" border="0" height="200" /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="crs" valign="top" width="145"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="font-family: georgia;" class="tokoh5" valign="top" width="145" align="center"&gt;                    &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:85%;" &gt;Nama:&lt;br /&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Chairil Anwar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;      &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:85%;" &gt;Lahir:&lt;br /&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922&lt;br /&gt; Meninggal:&lt;br /&gt; Jakarta, 28 April 1949&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pendidikan:&lt;br /&gt; - HIS&lt;br /&gt; - MULO (tidak tamat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Profesi:&lt;br /&gt; Penyair Angkatan 45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karya Kumpulan Puisi:&lt;br /&gt; - Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949);&lt;br /&gt; - Deru Campur Debu (1949);&lt;br /&gt; - Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin);&lt;br /&gt; - Aku Ini Binatang Jalang (1986);&lt;br /&gt; - Koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup    oleh Sapardi Djoko Damono (1986);&lt;br /&gt; - Derai-derai Cemara (1998)&lt;br /&gt; - Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang    Jalang (1986).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karya Terjemahan:&lt;br /&gt; Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide)&lt;br /&gt; - Kena Gempur (1951, John Steinbeck).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol:&lt;br /&gt; - "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley,    California, 1960);&lt;br /&gt; - "Cuatro poemas indonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati"    (Madrid: Palma de Mallorca, 1962);&lt;br /&gt; - Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New    York, New Directions, 1963);&lt;br /&gt; - "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port    Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969);&lt;br /&gt; - The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan    diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York    Press, 1970)&lt;br /&gt; - The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh    Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University    Education Press, 1974)&lt;br /&gt; - Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter    Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)&lt;br /&gt; - The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar,    oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for    International Studies, 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karya-karya tentang Chairil Anwar&lt;br /&gt; Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh    Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran    dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)&lt;br /&gt; Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet and his Language" (Den Haag:    Martinus Nijhoff, 1972).&lt;br /&gt; Abdul Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar"    (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra,    Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)&lt;br /&gt; S.U.S. Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and    Chairil Anwar" (New York, 1976)&lt;br /&gt; Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka Jawa,    1976)&lt;br /&gt; Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar,    Auckland, 1976&lt;br /&gt; H.B. Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan    hasil tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983)&lt;br /&gt; Husain Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam    Ratulangi, 1984)&lt;br /&gt; Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia    modern" (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen    Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)&lt;br /&gt; Sjumandjaya, "Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair    Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)&lt;br /&gt; Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)&lt;br /&gt; Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat,    1996)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;                           &lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="145" align="center"&gt;                   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;/center&gt;       &lt;/div&gt;         &lt;/td&gt;         &lt;td class="crs4" valign="top" width="8"&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td valign="top" width="350"&gt;&lt;p&gt;                                                         &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Chairil Anwar (1922-1949)&lt;br /&gt;     &lt;/p&gt;       &lt;h1&gt;Penyair Legendaris Indonesia &lt;/h1&gt;       &lt;p&gt;     &lt;br /&gt;     Puisi-puisi "Si Binatang Jalang" Chairil Anwar telah menjadi inspirasi    bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya. Pria kelahiran Medan, 26 Juli    1922, ini seorang penyair legendaris Indonesia yang karya-karyanya hidup    dalam batin (digemari) sepanjang zaman. Salah satu bukti keabadian    karyanya, pada Jumat 8 Juni 2007, Chairil Anwar, yang meninggal di    Jakarta, 28 April 1949, masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian    Bekasi (DKB) Award 2007 untuk kategori seniman sastra. Penghargaan itu    diterima putrinya, Evawani Alissa Chairil Anwar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya    manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk    melepaskan diri dari penjajahan. Hal ini, antara lain tercermin dari    sajaknya bertajuk: "Krawang-Bekasi", yang disadurnya dari sajak "The    Young Dead Soldiers", karya Archibald MacLeish (1948).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia juga menulis sajak "Persetujuan dengan Bung Karno", yang    merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan    proklamasi 17 Agustus 1945.    &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Bahkan sajaknya yang berjudul "Aku" dan "Diponegoro" juga banyak    diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan. Kata Aku binatang jalang    dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia    untuk bebas merdeka.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Chairil Anwar yang dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dalam karyanya    berjudul Aku) adalah pelopor Angkatan '45 yang menciptakan trend baru    pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid dan kuat.    Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia.    Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC dan    dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Hari    meninggalnya diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;     &lt;br /&gt; Chairil menekuni pendidikan HIS dan MULO, walau pendidikan MULO-nya    tidak tamat. Puisi-puisinya digemari hingga saat ini. Salah satu    puisinya yang paling terkenal sering dideklamasikan berjudul Aku ( "Aku    mau hidup Seribu Tahun lagi!"). Selain menulis puisi, ia juga    menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Dia juga    pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang” dan Gema    Suasana. Dia juga mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” (1946).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Kumpulan puisinya antara lain: Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang    Putus (1949); Deru Campur Debu (1949); Tiga Menguak Takdir (1950 bersama    Asrul Sani dan Rivai Apin); Aku Ini Binatang Jalang (1986); Koleksi    sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi    Djoko Damono (1986); Derai-derai Cemara (1998). Buku kumpulan puisinya    diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang Jalang (1986).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Karya-karya terjemahannya adalah: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948,    Andre Gide); Kena Gempur (1951, John Steinbeck).    &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Sementara karya-karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,    Jerman dan Spanyol adalah: "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna    M. Dickinson (Berkeley, California, 1960); "Cuatro poemas indonesios,    Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962);    Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New    York, New Directions, 1963); "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets",    oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969);    &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan    diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York    Press, 1970); The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan    diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan HB Jassin (Singapore:    University Education Press, 1974); Feuer und Asche: sämtliche Gedichte,    Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978);    The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh    Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International    Studies, 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sedangkan karya-karya tentang Chairil Anwar antara lain:&lt;br /&gt; 1) Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh    Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran    dan Kebudajaan (Djakarta, 1953); 2) Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar:    The Poet and his Language" (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972); 3) Abdul    Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar" (Ujung    Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas    Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974); 4) S.U.S. Nababan, "A Linguistic    Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar" (New York,    1976); 5) Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta:    Pustaka Jawa, 1976);    &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       6) Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar,    Auckland, 1976; 7) H.B. Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45,    disertai kumpulan hasil tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983); 8)    Husain Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam    Ratulangi, 1984); 9) Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama    sastra Indonesia modern" (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan    Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985); 10) Sjumandjaya, "Aku:    berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta:    Grafitipers, 1987); 11) Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar"    (Jakarta: Obor, 1995); 12) Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil    Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat, 1996). ►&lt;b&gt;e-ti/tsl, dari berbagai sumber&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       *** &lt;b&gt;TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       ==============================&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       &lt;b&gt;PUISI - PUISI CHAIRIL ANWAR &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       &lt;b&gt;PRAJURIT JAGA MALAM &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?&lt;br /&gt; Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,&lt;br /&gt; bermata tajam&lt;br /&gt; Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya&lt;br /&gt; kepastian&lt;br /&gt; ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini&lt;br /&gt; Aku suka pada mereka yang berani hidup&lt;br /&gt; Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam&lt;br /&gt; Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......&lt;br /&gt; Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ! (1948)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Siasat, Th III, No. 96, 1949&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       ================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;b&gt;MALAM &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mulai kelam&lt;br /&gt; belum buntu malam&lt;br /&gt; kami masih berjaga&lt;br /&gt; --Thermopylae?-&lt;br /&gt; - jagal tidak dikenal ? -&lt;br /&gt; tapi nanti&lt;br /&gt; sebelum siang membentang&lt;br /&gt; kami sudah tenggelam hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Zaman Baru, No. 11-12, 20-30 Agustus 1957&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       ==================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;b&gt;KRAWANG-BEKASI &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi&lt;br /&gt; tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.&lt;br /&gt; Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,&lt;br /&gt; terbayang kami maju dan mendegap hati ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi&lt;br /&gt; Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak&lt;br /&gt; Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.&lt;br /&gt; Kenang, kenanglah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami sudah coba apa yang kami bisa&lt;br /&gt; Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami cuma tulang-tulang berserakan&lt;br /&gt; Tapi adalah kepunyaanmu&lt;br /&gt; Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan&lt;br /&gt; atau tidak untuk apa-apa,&lt;br /&gt; Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata&lt;br /&gt; Kaulah sekarang yang berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi&lt;br /&gt; Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kenang, kenanglah kami&lt;br /&gt; Teruskan, teruskan jiwa kami&lt;br /&gt; Menjaga Bung Karno&lt;br /&gt; menjaga Bung Hatta&lt;br /&gt; menjaga Bung Sjahrir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami sekarang mayat&lt;br /&gt; Berikan kami arti&lt;br /&gt; Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kenang, kenanglah kami&lt;br /&gt; yang tinggal tulang-tulang diliputi debu&lt;br /&gt; Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi (1948)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       ==============================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;b&gt;DIPONEGORO &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di masa pembangunan ini&lt;br /&gt; tuan hidup kembali&lt;br /&gt; Dan bara kagum menjadi api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di depan sekali tuan menanti&lt;br /&gt; Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.&lt;br /&gt; Pedang di kanan, keris di kiri&lt;br /&gt; Berselempang semangat yang tak bisa mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MAJU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ini barisan tak bergenderang-berpalu&lt;br /&gt; Kepercayaan tanda menyerbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekali berarti&lt;br /&gt; Sudah itu mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MAJU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagimu Negeri&lt;br /&gt; Menyediakan api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Punah di atas menghamba&lt;br /&gt; Binasa di atas ditindas&lt;br /&gt; Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai&lt;br /&gt; Jika hidup harus merasai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maju&lt;br /&gt; Serbu&lt;br /&gt; Serang&lt;br /&gt; Terjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (Februari 1943)&lt;br /&gt; Budaya, Th III, No. 8, Agustus 1954&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       =========================&lt;/p&gt;&lt;p&gt;     &lt;br /&gt; &lt;b&gt;PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO&lt;br /&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji&lt;br /&gt; Aku sudah cukup lama dengan bicaramu&lt;br /&gt; dipanggang diatas apimu, digarami lautmu&lt;br /&gt; Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945&lt;br /&gt; Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu&lt;br /&gt; Aku sekarang api aku sekarang laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat&lt;br /&gt; Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar&lt;br /&gt; Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak &amp;amp; berlabuh&lt;br /&gt; (1948)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Liberty, Jilid 7, No 297, 1954&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ==========================================&lt;/p&gt;&lt;p&gt;     &lt;br /&gt; &lt;b&gt;AKU &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau sampai waktuku&lt;br /&gt; 'Ku mau tak seorang kan merayu&lt;br /&gt; Tidak juga kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak perlu sedu sedan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku ini binatang jalang&lt;br /&gt; Dari kumpulannya terbuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Biar peluru menembus kulitku&lt;br /&gt; Aku tetap meradang menerjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Luka dan bisa kubawa berlari&lt;br /&gt; Berlari&lt;br /&gt; Hingga hilang pedih peri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan aku akan lebih tidak perduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mau hidup seribu tahun lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maret 1943&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ===============================&lt;/p&gt;&lt;p&gt;     &lt;br /&gt; &lt;b&gt;PENERIMAAN&lt;br /&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Kalau kau mau kuterima kau kembali&lt;br /&gt; Dengan sepenuh hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku masih tetap sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kutahu kau bukan yang dulu lagi&lt;br /&gt; Bak kembang sari sudah terbagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau kau mau kuterima kembali&lt;br /&gt; Untukku sendiri tapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maret 1943&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       ===================================&lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       &lt;b&gt;HAMPA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; kepada sri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.&lt;br /&gt; Lurus kaku pohonan. Tak bergerak&lt;br /&gt; Sampai ke puncak. Sepi memagut,&lt;br /&gt; Tak satu kuasa melepas-renggut&lt;br /&gt; Segala menanti. Menanti. Menanti.&lt;br /&gt; Sepi.&lt;br /&gt; Tambah ini menanti jadi mencekik&lt;br /&gt; Memberat-mencekung punda&lt;br /&gt; Sampai binasa segala. Belum apa-apa&lt;br /&gt; Udara bertuba. Setan bertempik&lt;br /&gt; Ini sepi terus ada. Dan menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ==========================&lt;/p&gt;&lt;p&gt;     &lt;br /&gt; &lt;b&gt;DOA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; kepada pemeluk teguh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tuhanku&lt;br /&gt; Dalam termangu&lt;br /&gt; Aku masih menyebut namamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Biar susah sungguh&lt;br /&gt; mengingat Kau penuh seluruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; cayaMu panas suci&lt;br /&gt; tinggal kerdip lilin di kelam sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tuhanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; aku hilang bentuk&lt;br /&gt; remuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tuhanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; aku mengembara di negeri asing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tuhanku&lt;br /&gt; di pintuMu aku mengetuk&lt;br /&gt; aku tidak bisa berpaling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 13 November 1943&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       ================================&lt;/p&gt;&lt;p&gt;     &lt;br /&gt; &lt;b&gt;SAJAK PUTIH &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bersandar pada tari warna pelangi&lt;br /&gt; Kau depanku bertudung sutra senja&lt;br /&gt; Di hitam matamu kembang mawar dan melati&lt;br /&gt; Harum rambutmu mengalun bergelut senda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba&lt;br /&gt; Meriak muka air kolam jiwa&lt;br /&gt; Dan dalam dadaku memerdu lagu&lt;br /&gt; Menarik menari seluruh aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hidup dari hidupku, pintu terbuka&lt;br /&gt; Selama matamu bagiku menengadah&lt;br /&gt; Selama kau darah mengalir dari luka&lt;br /&gt; Antara kita Mati datang tidak membelah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ==================================&lt;/p&gt;&lt;p&gt;     &lt;br /&gt; &lt;b&gt;SENJA DI PELABUHAN KECIL &lt;/b&gt;&lt;br /&gt; buat: Sri Ajati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ini kali tidak ada yang mencari cinta&lt;br /&gt; di antara gudang, rumah tua, pada cerita&lt;br /&gt; tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut&lt;br /&gt; menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang&lt;br /&gt; menyinggung muram, desir hari lari berenang&lt;br /&gt; menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak&lt;br /&gt; dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan&lt;br /&gt; menyisir semenanjung, masih pengap harap&lt;br /&gt; sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan&lt;br /&gt; dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap&lt;br /&gt; 1946&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       ==================================&lt;/p&gt;&lt;p&gt;     &lt;br /&gt; &lt;b&gt;CINTAKU JAUH DI PULAU &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cintaku jauh di pulau,&lt;br /&gt; gadis manis, sekarang iseng sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perahu melancar, bulan memancar,&lt;br /&gt; di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.&lt;br /&gt; angin membantu, laut terang, tapi terasa&lt;br /&gt; aku tidak 'kan sampai padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di air yang tenang, di angin mendayu,&lt;br /&gt; di perasaan penghabisan segala melaju&lt;br /&gt; Ajal bertakhta, sambil berkata:&lt;br /&gt; "Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!&lt;br /&gt; Perahu yang bersama 'kan merapuh!&lt;br /&gt; Mengapa Ajal memanggil dulu&lt;br /&gt; Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Manisku jauh di pulau,&lt;br /&gt; kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.&lt;br /&gt; (1946)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ==================================&lt;/p&gt;&lt;p&gt;     &lt;br /&gt; &lt;b&gt;MALAM DI PEGUNUNGAN &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,&lt;br /&gt; Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?&lt;br /&gt; Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:&lt;br /&gt; Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!&lt;br /&gt; (1947)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;b&gt;YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; kelam dan angin lalu mempesiang diriku,&lt;br /&gt; menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,&lt;br /&gt; malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang&lt;br /&gt; dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;&lt;br /&gt; tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku&lt;br /&gt; (1949)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;       ============================&lt;/p&gt;&lt;p&gt;     &lt;br /&gt; &lt;b&gt;DERAI DERAI CEMARA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; cemara menderai sampai jauh&lt;br /&gt; terasa hari akan jadi malam&lt;br /&gt; ada beberapa dahan di tingkap merapuh&lt;br /&gt; dipukul angin yang terpendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; aku sekarang orangnya bisa tahan&lt;br /&gt; sudah berapa waktu bukan kanak lagi&lt;br /&gt; tapi dulu memang ada suatu bahan&lt;br /&gt; yang bukan dasar perhitungan kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; hidup hanya menunda kekalahan&lt;br /&gt; tambah terasing dari cinta sekolah rendah&lt;br /&gt; dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan&lt;br /&gt; sebelum pada akhirnya kita menyerah&lt;br /&gt; (1949)&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;*** &lt;b&gt;TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-2512531295175583564?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/2512531295175583564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/ajip-rosidi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2512531295175583564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2512531295175583564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/ajip-rosidi.html' title='Chairil Anwar (1922-1949)'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-4270459685520908734</id><published>2008-10-14T13:59:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T14:01:32.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Sutan Takdir Alisjahbana</title><content type='html'>&lt;table id="AutoNumber1" style="border-collapse: collapse;" class="warna" width="670" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="12"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="511"&gt;     &lt;table style="border-collapse: collapse;" id="AutoNumber24" width="511" border="0" bordercolor="#111111" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;       &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;         &lt;td class="bg-10" valign="top" width="155" align="center"&gt;       &lt;div align="center"&gt;         &lt;center&gt;         &lt;table style="border-collapse: collapse; width: 152px; height: 633px;" id="AutoNumber36" border="0" bordercolor="#111111" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td class="crs4" width="145" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="warna" width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="warna" valign="top" width="145" align="center" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="warna" width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="145" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="145" align="center"&gt;             &lt;img src="http://www.e-ti.com/ensiklopedi/s/sutan-takdir-alisjahbana/sutan_takdir_alisjahbana.jpg" width="145" border="0" height="200" /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td class="crs" valign="top" width="145"&gt;► e-ti/sp&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td class="tokoh5" valign="top" width="145" align="center"&gt;                    &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Nama :&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;Sutan Takdir Alisjahbana&lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Lahir:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908&lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Meninggal:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Agama:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;Islam&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Pendidikan:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;-&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Pekerjaan:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="145" align="center"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;/center&gt;       &lt;/div&gt;         &lt;/td&gt;         &lt;td class="crs4" valign="top" width="8"&gt;          &lt;/td&gt;         &lt;td valign="top" width="350"&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Sutan Takdir Alisjahbana (1908)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;/p&gt;&lt;h1&gt;Andaikan Masih Hidup&lt;/h1&gt;   &lt;p&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Hari ini 100 tahun hari kelahiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA), 11    Februari 1908 di Natal, Sumatera Utara. Alangkah beruntungnya kita jika Sutan Takdir Alisjahbana (STA) masih    hidup sekarang. Kita bisa banyak bertanya soal arah kebudayaan bangsa    ini. Soal budaya yang hari-hari ini menjadi isu sangat relevan dalam    kehidupan kita saat media massa sibuk memberitakan perdebatan mengenai    RUU Pornografi dan Pornoaksi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Bukankah STA adalah pemuja modernitas dari Barat? Mungkin kalimat itu    yang bisa dilontarkan jika kita mengasumsikan pornografi adalah anak    kandung modernitas dari Barat. Asumsi itu bisa jadi terlampau    menyederhanakan masalah kebudayaan dan soal yang berkaitan dengan dunia    syahwat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Lepas dari perdebatan itu dan yang tak mungkin bisa dilupakan dari sosok    STA ialah idenya yang berani soal arah kemajuan budaya bagi Indonesia.    STA pada tahun 1935 dengan tegas menyebutkan, Barat, ke Baratlah,    Indonesia harus melihat dan belajar jika ingin maju. STA melontarkan    idenya itu pada usia 27 tahun.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Pokok-pokok pemikiran STA bukan hanya mengguncang masyarakat saat itu.    Para pemikir dan budayawan seangkatannya seperti Ki Hajar Dewantara dan    Sanusi Pane menanggapi pemikiran STA seraya mengingatkan STA bahwa Timur    adalah arah kemajuan budaya yang harus dipertahankan Indonesia    mendatang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Memikat sekali untuk mencermati catatan almarhum Mochtar Lubis tentang    STA. Menurut bapak jurnalis Indonesia itu, sumbangan utama STA yang    harus tercatat dalam sejarah kebudayaan Indonesia ialah polemiknya yang    penuh gairah menghadapi intelektual seniornya yang hendak mempertahankan    nilai kebudayaan lama sebagai landasan kemajuan Indonesia. Perdebatan    antara STA dengan para penentangnya belakangan dikenal dengan istilah    Polemik Kebudayaan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Jika dikaitkan dengan persoalan arah budaya Indonesia mendatang,    termasuk perdebatan keras di masyarakat mengenai bagaimana negara    mengatur soal pornografi, maka peluncuran buku Sang Pujangga, 70 Tahun    Polemik Kebudayaan, Menyongsong Satu Abad S. Takdir Alisjahbana di Taman    Ismail Marzuki (TIM), Selasa (21/2) malam menjadi sangat relevan. Buku    yang disunting A Abdul Karim Mashad bukan hanya berisi informasi    mengenai karya tulis STA. Buku itu memuat juga sejumlah tulisan    budayawan Indonesia yang mengkritisi pemikiran STA.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Hadir dalam peluncuran buku itu sastrawan Abdul Hadi, sejarawan Asvi    Warman Adam dan para mahasiswa dan budayawan yang tampaknya sangat    antusias mendiskusikan pikiran STA. Ratna Sarumpaet sempat pula    membawakan puisi karya STA berjudul Menuju Ke Laut. "Kami telah    meninggalkan engkau, Tasik yang tenang, tiada beriak, diteduhi gunung    yang rimbun dari angin dan topan...''&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Karya STA yang dibacakan Ketua Dewan Kesenian Jakarta itu seolah    menunjukkan sikap STA yang tegas untuk meninggalkan tradisi budaya di    Indonesia yang menurutnya antiintelektual dan antimaterialisme. Bisa    jadi pendapat STA soal antiintelektual ini tepat untuk menggambarkan    wajah budaya Indonesia saat ini. Wajah yang kebingungan untuk menentukan    arah budaya Indonesia hingga soal pornografi pun harus diatur secara    khusus dalam sebuah Undang Undang (UU), sementara UU yang sudah ada dan    mengatur masalah itu tidak digunakan dengan maksimal. (Suara Pembaruan,    22 Februari 2006)&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;********&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;br /&gt;  &lt;b&gt;Pemikiran Rasional STA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;  Pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana tentang Islam sangat relevan dan    kontekstual dalam perkembangan Islam sekarang ini. Ia menginginkan umat    Islam bisa mencapai kemajuan dan keluar dari keterbelakangan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  ”Ia mengembangkan sikap rasional, memahami agama dengan cara yang    rasional, mengembangkan pemikiran yang rasional. Jadi bukan pemahaman    yang literal,” kata Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif    Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra pada diskusi ”Menyongsong Satu Abad    Sutan Takdir Alisjahbana” yang kerap disebut STA di Jakarta, Selasa    (21/2).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Menurut Azyumardi, ada kecenderungan sekarang ini orang memahami agama    secara literal, secara hitam putih. Sikap literal itulah yang menurut    STA tidak kondusif untuk mencapai kemajuan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  STA menekankan pentingnya bagi orang Islam untuk mengembangkan i’tijad,    berpikir secara independen untuk menjawab masalah-masalah yang ada.    Meskipun STA sangat menekankan distingsi Islam, ia juga sangat    menekankan bahwa Islam amat mementingkan solidaritas antarmanusia    sehingga dengan begitu umat Islam bisa terhindar dari keislaman yang    chauvinistik. Ia melihat dalam sejarah Islam bahwa kaum Muslimin dalam    banyak hal tak segan-segan bekerja sama dengan golongan-golongan (agama)    lain. Menurut STA, dalam dunia yang menjadi kecil sekarang    (globalisasi), tidak boleh tidak kerja sama antarmanusia mesti    diusahakan dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Asvi Warman Adam, ahli peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan    Indonesia, melihat pemikiran STA lebih banyak memprovokasi kita supaya    melihat ke Barat. ”Sutan Takdir Alisjahbana menganggap nilai-nilai Barat    seperti individualis, materialisme, dan egoisme sebagai sesuatu yang    penting sebagai api. Dia mengibaratkan orang masak nasi, jadi jangan    dipadamkan apinya. Kalau di Barat, nasi (itu) sudah hampir masak, jadi    api tak perlu diperbesar. Di Indonesia api itu diperlukan,” kata Asvi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Untuk konteks masa kini, melihat atau mengambil sesuatu yang positif    dari Barat, dipandang Asvi, masih sangat relevan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Menurut Asvi, STA bersama Muhammad Yamin adalah dua pujangga yang saling    melengkapi. STA menghadap ke depan dengan menyatakan kita harus    mencontoh Barat untuk mengambil yang positif dari Barat, sedangkan Yamin    mengajak kita kembali ke belakang saat kita pernah mengalami kejayaan    pada masa lampau. (Kompas, 23 Februari 2006) ►&lt;b&gt;e-ti&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;***&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;b&gt;Suatu Filosofi untuk Masa Depan &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;b&gt;Menuju Kebudayaan yang Inklusif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  OLEH : SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Pengantar:&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Hari ini adalah peringatan 100 tahun Sutan Takdir Alisjahbana yang lahir    11 Februari 1908 di Natal, Sumatera Utara. Tulisan ini merupakan karya    terakhir yang ia tulis semasa hidupnya. Pada umumnya orang mengingatnya    sebagai penulis novel Layar Terkembang dan sebagai pemimpin redaksi    majalah sastra dan budaya, Pudjangga Baru. Namun, sumbangan utamanya    sebetulnya bukan dalam bidang sastra, melainkan dalam bidang bahasa dan    kebudayaan. Ia memodernisasikan bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi    bahasa nasional negara modern yang merdeka yang ikut mempersatukan    Nusantara.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Ia juga adalah pencetus Polemik Kebudayaan yang menjadi pembicaraan    hangat pada tahun 1930-an. Melalui Polemik Kebudayaan ia berusaha    menemukan jati diri bangsa dan membimbing pembentukan kebudayaan baru,    yang dapat menjadi pemersatu penduduk Nusantara. Tak banyak yang    menyadari prinsip yang melandasi segala ucapannya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Takdir menerbitkan hampir seluruh pandangan yang berbeda-beda dalam    Polemik Kebudayaan yang hampir semuanya bertentangan dengan pandangannya    sendiri. Meskipun ia semangat dan terus terang dalam mengekspresikan    pandangannya, ia tetap menjadi demokrat yang tidak hanya memancing    pandangan yang berbeda-beda, tetapi juga menyediakan wadah untuk    mengekspresikannya melalui majalah Pudjangga Baru.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sepanjang hidupnya Takdir tak pernah berhenti dalam menyampaikan    pandangannya mengenai masyarakat dan kebudayaan, namun ia juga    menghargai pentingnya kebebasan berekspresi bagi mereka yang tidak    sependapat dengan pandangannya. Dengan cara ini Takdir membantu    mewujudkan dialog yang membentuk Indonesia. Tidak banyak orang yang    melihat sisi ini dari Takdir.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Takdir memperkenalkan wacana mengenai pentingnya kita untuk menciptakan    sebuah kebudayaan dunia yang inklusif. Istilah kebudayaan yang inklusif    sekarang sudah menjadi populer. Takdir telah berjuang untuk itu melalui    karya dan tulisannya sepanjang hidupnya dan ia menyebutnya jauh sebelum    kebanyakan orang lain. (*)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Dewasa ini kecepatan transportasi dan komunikasi sebagai dampak dari    perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dahsyat menimbulkan    suatu proses globalisasi di dunia yang mengakibatkan segala sesuatu    tampaknya berada di depan kita dan kita tak terhindar lagi dari    penyatuan bangsa dan kebudayaan di planet kita yang seolah-olah semakin    menyusut.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sepanjang sejarah, dengan bertambahnya pengetahuan serta kemampuan    manusia menciptakan teknologi yang semakin canggih dan efisien,    masyarakat dan budaya manusia menjadi semakin lama semakin kompleks dan    luas: suku menjadi marga, marga menjadi kerajaan, dan kerajaan menjadi    negara kebangsaan. Proses ini juga terlihat di dalam perkembangan    persenjataan. Dengan memakai anak tombak dan panah kapasitas untuk    menghancurkan musuh terbatas, manusia hanya mampu membunuh satu orang    dalam sekali waktu, namun dengan penemuan bubuk mesiu dan senjata    otomatis, kapasitas untuk membunuh menjadi dahsyat sebagaimana terlihat    dalam peperangan abad ke-20. Namun, dengan bom atom, terlihat jelas    bahwa manusia menghadapi situasi yang sama sekali baru. Sekarang perang    bukan hanya mengakibatkan pembunuhan massal. Dengan senjata atom kita    sudah mampu memusnahkan dunia bahkan menghapuskan seluruh umat manusia.    Sangatlah jelas bahwa dalam situasi seperti ini kita harus mengubah cara    pandang dan sikap kita terhadap sesama manusia.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Proses globalisasi mengakibatkan berbagai kebudayaan di dunia bertemu    bukan saja di kota besar, tetapi di mana-mana dengan adanya radio,    televisi, surat kabar, dan media massa. Akibatnya terjadi pertemuan dan    percampuran kebudayaan yang lebih besar daripada yang pernah terjadi    dalam sejarah manusia sebelumnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Pandangan-pandangan lama yang bersumber pada sukuisme, nasionalisme, dan    eksklusivitas agama harus berubah sehingga tidak timbul konflik yang tak    terkendali lagi. Kita harus mengatasi keterbatasan kita dan kontroversi    dengan pihak lain melalui sikap dan pemikiran baru yang radikal. Sebuah    filosofi pemahaman dan tanggung jawab yang baru dan lebih luas    cakupannya harus tampil. Kita tidak minta dilahirkan di dalam suku,    bangsa, atau agama tertentu. Berdasarkan sudut pandang ini situasi kita    sebuah kebetulan. Saya lahir sebagai orang Indonesia, tapi saya bisa    saja terlahir sebagai orang Eskimo dengan kebudayaan dan cara hidup    orang Eskimo.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Dari sudut pandang ini, semua masyarakat dan kebudayaan lain merupakan    bagian dari peluang dan potensi yang terbuka bagi saya. Orang yang saya    pandang sebagai suku lain akan menjadi suku saya andaikata saya lahir di    antara mereka.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Di zaman transportasi dan komunikasi yang pesat, orang sering pindah dan    menetap di antara masyarakat dan kebudayaan lain. Maka kita perlu    mengembangkan pemikiran kita sehingga kita memandang orang lain sebagai    peluang dan potensi baru yang terbuka bagi kita. Kita tidak menentukan    tempat kelahiran, adat istiadat, dan pendidikan kita. Melalui perkawinan    dan berbagai kontak sosial dan budaya lain, melalui radio, televisi,    buku, dan majalah, kita telah menjadi bagian dari orang dan masyarakat    lain dan demikian pula sebaliknya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Dalam konteks ini, tidak ada lagi konsep ”orang lain”, yang ada hanyalah    satu umat manusia di atas planet yang semakin menyusut yang berada dalam    bahaya kehancuran total akibat perbuatan kita sendiri melalui    perkembangan ilmu dan teknologi yang dahsyat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Saya hendak kembali kepada masa abad ke-5 SM. Pada waktu itu di China    muncul Confucius, Lao-tse, Moti, dan lainnya yang meletakkan dasar    kerajaan dan peradaban China. Di India terdapat Buddha Mahavira dengan    para penulis Upanishad dan Kaisar Ashoka yang menyatukan daratan India.    Di Timur Tengah para nabi Yahudi sedang bergelut dengan konsep keesaan    Tuhan dari mana kemudian muncul agama Kristen dan Islam, sedangkan di    Yunani, para filosof besar, seperti Plato dan Aristoteles, membuka jalan    bagi pemikiran sekuler modern. Karl Jaspers menyebut masa abad ke-5 SM    sebagai ”Achsenzeit” atau ”masa sumbu sejarah” yang sampai sekarang    masih memengaruhi kehidupan kita. Alfred Weber menyimpulkan bahwa    peningkatan kreativitas sosial dan budaya pada abad ke-5 SM terkait    dengan pemakaian kuda sebagai alat transportasi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Namun, kita sekarang berdiri di suatu kurun waktu yang jauh lebih hebat    daripada abad ke-5 SM. Cukuplah membandingkan kecepatan kuda dan pesawat    terbang. Seperti sudah dikatakan, perbatasan antarnegara menjadi hilang.    Sebuah masyarakat dan kebudayaan dunia baru sedang muncul, jauh lebih    besar daripada sebelumnya. Negara-negara di dunia harus membentuk suatu    federasi dunia. Hanya dengan demikian dapat kita mengatasi bahaya    kehancuran dunia dan umat manusia sebab negara-negara dunia tidak perlu    mempersenjatai dirinya lagi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Kita sekarang masih jauh dari keadaan seperti itu sehingga suatu sikap    solidaritas universal harus dibangkitkan agar retorika eksklusivisme    dapat terhapus dan digantikan oleh komunikasi kebersamaan dan    solidaritas universal, yang berarti membentuk suatu kebudayaan dunia    yang inklusif. (Kompas, &lt;span class="tglct"&gt;Senin, 11 Februari 2008&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;   *** &lt;b&gt;TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-4270459685520908734?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/4270459685520908734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/sutan-takdir-alisjahbana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4270459685520908734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4270459685520908734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/sutan-takdir-alisjahbana.html' title='Sutan Takdir Alisjahbana'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-8569234065541600279</id><published>2008-10-14T13:57:00.001+07:00</published><updated>2008-10-14T13:57:51.223+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Prof Dr Sapardi Djoko Damono</title><content type='html'>&lt;table style="border-collapse: collapse;" id="AutoNumber24" width="511" border="0" bordercolor="#111111" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="bg-10" valign="top" width="155" align="center"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;center&gt;&lt;table style="border-collapse: collapse;" id="AutoNumber36" width="155" border="0" bordercolor="#111111" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="145" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="145" align="center"&gt;       &lt;img src="http://www.e-ti.com/ensiklopedi/s/sapardi-damono/sapardi_djoko_damono.jpg" width="145" border="0" height="192" /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td class="crs" valign="top" width="145"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td class="tokoh5" valign="top" width="145" align="center"&gt;              &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Nama:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;Sapardi Djoko Damono&lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Lahir:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;Solo, 20 Maret 1940&lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Istri:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;Wardiningsih&lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Anak:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;2 orang (Rasti Suryandani dan Rizki Henriko)&lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Pendidikan:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;- SD, Solo (1952)&lt;br /&gt;      - SMP II Negeri, Solo (1955)&lt;br /&gt;      - SMA II Negeri, Solo (1958)&lt;br /&gt;      - Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada,        Yogyakarta (1964)&lt;br /&gt;      - Program doktor di Universitas Indonesia&lt;br /&gt;      - Basic Humanities Program, Honolulu, Universitas Hawaii, AS (1970-1971)      &lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Pekerjaan:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;- Pengajar IKIP Malang cabang Madiun (1964-1968)&lt;br /&gt;      - Pengajar Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (1968-1974)&lt;br /&gt;      - Pengajar Fakultas Sastra Universitas Indonesia (berganti nama menjadi        FIPB UI) (1975-sekarang)&lt;br /&gt;      - Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIPB        UI)&lt;br /&gt;      - Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia (sekarang)&lt;br /&gt;      - Penyair/sastrawan&lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Karya-karya:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;Kumpulan sajak:&lt;br /&gt;      - Duka-mu Abadi, Jeihan/Pustaka Jaya, 1969&lt;br /&gt;      - Mata Pisau, Puisi Indonesia/Balai Budaya, 1974&lt;br /&gt;      - Akuarium, Puisi Indonesia/Balai Pustaka, 1974&lt;br /&gt;      - Perahu Kertas, Balai Pustaka, 1983&lt;br /&gt;      - Sihir Hujan, Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia, 1984&lt;br /&gt;      - Hujan Bulan Juni, 1994&lt;br /&gt;      - Arloji, 1998&lt;br /&gt;      - Ayat-ayat Api, 2000&lt;br /&gt;      - Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?, 2002&lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Lainnya:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;- Sosiologi Sastra, Pusat Bahasa, 1978&lt;br /&gt;      - Novel Indonesia sebelum Perang, Pusat Bahasa, 1979&lt;br /&gt;      - Tifa Budaya, ed., Leppenas, 1980&lt;br /&gt;      - Seni dalam Masyarakat Indonesia, ed., Gramedia, 1983&lt;br /&gt;      - Sastra Indonesia Modern: Beberapa Catatan, Gramedia, 1983&lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Penghargaan:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;- Penghargaan Achmad Bakrie, 14 Agustus 2003&lt;br /&gt;      - Anugerah Puisi Poetra Malaysia, 1996&lt;br /&gt;      - SEA Write di Bangkok, Thailand, 1986&lt;br /&gt;      - Penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, 1983&lt;br /&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="145" align="center"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;/center&gt;       &lt;/div&gt;         &lt;/td&gt;         &lt;td valign="top" width="8" align="right"&gt;        &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td valign="top" width="350"&gt;       Prof Dr Sapardi Djoko Damono&lt;br /&gt;      &lt;h1&gt;Sastrawan Puisi Lirik Indonesia&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;      &lt;p&gt;       Prof Dr Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang        memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia.        Salah satu sumbangan terbesar Guru Besar Fakultas Sastra UI ini adalah        melanjutkan tradisi puisi lirik dan berupaya menghidupkan kembali sajak        empat seuntai atau kwatrin yang sudah muncul di jaman para pujangga baru        seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940 ini, mengaku tak        pernah berencana menjadi penyair, karena dia berkenalan dengan puisi        secara tidak disengaja. Sejak masih belia putra Sadyoko dan Sapariyah itu,        sering membenamkan diri dalam tulisan-tulisannya. Bahkan, ia pernah        menulis sebanyak delapan belas sajak hanya dalam satu malam. Kegemarannya        pada sastra, sudah mulai tampak sejak ia masih duduk di bangku sekolah        menengah pertama. Kemudian, ketika duduk di SMA, ia memilih jurusan sastra        dan kemudian melanjutkan pendidikan di UGM, fakultas sastra.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Anak sulung dari dua bersaudara abdi dalem Keraton Surakarta itu mungkin        mewarisi kesenimanan dari kakek dan neneknya. Kakeknya dari pihak ayah        pintar membuat wayang—hanya sebagai kegemaran—dan pernah memberikan        sekotak wayang kepada sang cucu. Nenek dari pihak ibunya gemar menembang (menyanyikan        puisi Jawa) dari syair yang dibuat sendiri. “Tapi saya tidak bisa menyanyi,        suara saya jelek,” ujar bekas pemegang gitar melodi band FS UGM Yogyakarta        itu. Sadar akan kelemahannya, Sapardi kemudian mengembangkan diri sebagai        penyair.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Selain menjadi penyair, ia juga melaksanakan cita-cita lamanya: menjadi        dosen. “Jadi dosen ‘kan enak. Kalau pegawai kantor, harus duduk dari pagi        sampai petang,” ujar lulusan Jurusan Sastra Barat FS&amp;amp;K UGM ini. Dan begitu        meraih gelar sarjana sastra, 1964, ia mengajar di IKIP Malang cabang        Madiun, selama empat tahun, dilanjutkan di Universitas Diponegoro,        Semarang, juga selama empat tahun. Sejak 1974, Sapardi mengajar di FS UI.      &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Sapardi menulis puisi sejak di kelas II SMA. Karyanya dimuat pertama kali        oleh sebuah surat kabar di Semarang. Tidak lama kemudian, karya sastranya        berupa puisi-puisi banyak diterbitkan di berbagai majalah sastra, majalah        budaya dan diterbitkan dalam buku-buku sastra. Beberapa karyanya yang        sudah berada di tengah masyarakat, antara lain Duka Mu Abadi (1969), Mata        Pisau dan Aquarium (1974).        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Sebuah karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul        Perahu Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan        kumpulan sajak Sihir Hujan – yang ditulisnya ketika ia sedang sakit -        memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa        uang sejumlah Rp 6,3 juta saat memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia        langsung dibelanjakannya memborong buku. Selain itu ia pernah memperoleh        penghargaan SEA Write pada 1986 di Bangkok, Thailand.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian.        “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan;        bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam        harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan        kritik. Sapardi, yang pernah menjadi redaktur Basis dan kini bekerja di        redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi: tematik        dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya, sudah ada pembaruan        di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Penyair yang pernah kuliah di Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini juga        menulis buku ilmiah, satu di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar        Ringkas. (1978).&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Selain melahirkan puisi-puisi, Sapardi juga aktif menulis esai, kritik        sastra, artikel serta menerjemahkan berbagai karya sastra asing. Dengan        terjemahannya itu, Sapardi mempunyai kontribusi penting terhadap        pengembangan sastra di Tanah Air. Selain dia menjembatani karya asing        kepada pembaca sastra, ia patut dihargai sebagai orang yang melahirkan        bentuk sastra baru.        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Dengan kepekaan dan wawasan seorang sastrawan, Sapardi ikut mewarnai        karya-karya terjemahannya seperti Puisi Brasilia Modern, Puisi Cina Klasik        dan Puisi Parsi Klasik yang ditulis dalam bahasa Inggris. Selain itu dia        juga menerjemahkan karya asing seperti karya Hemmingway The Old Man and        the Sea, Daisy Manis (Henry James), semuanya pada 1970-an. Juga, sekitar        20 naskah drama seperti Syakuntala karya Kalidasa, Murder in Cathedral        karya TS Elliot, dan Morning Become Electra trilogi karya Eugene O'neil.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Sumbangsih Sapardi juga cukup besar kepada budaya dan sastra, dengan        melakukan penelitian, menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan aktif        sebagai administrator dan pengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra UI        periode 1995-1999. Dia menjadi penggagas pengajaran mata kuliah Ilmu        Budaya Dasar di fakultas sastra.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Dia menyadari bahwa menjadi seorang sastrawan tidak akan memperoleh        kepuasan finansial. Kegiatan menulis adalah sebagai waktu istirahat, saat        dia ingin melepaskan diri dari rutinitas pekerjaannya sehari-hari. Menikah        dengan Wardiningsih, ia dikaruniai dua anak, Rasti Suryandani dan Rizki        Henriko. ►&lt;b&gt;mlp&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-8569234065541600279?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/8569234065541600279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/prof-dr-sapardi-djoko-damono.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8569234065541600279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/8569234065541600279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/prof-dr-sapardi-djoko-damono.html' title='Prof Dr Sapardi Djoko Damono'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-2528234165150158596</id><published>2008-10-14T13:55:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T13:56:04.520+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Sitor Situmorang</title><content type='html'>&lt;table style="border-collapse: collapse;" id="AutoNumber24" width="511" border="0" bordercolor="#111111" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="bg-10" valign="top" width="155" align="center"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;center&gt;&lt;table style="border-collapse: collapse;" id="AutoNumber36" width="155" border="0" bordercolor="#111111" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="145" align="center"&gt;       &lt;img src="http://www.e-ti.com/ensiklopedi/s/sitor-situmorang/sitor_situmorang.jpg" width="145" border="0" height="200" /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td class="crs" valign="top" width="145"&gt;►e-ti/kompas&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td class="tokoh5" valign="top" width="145" align="center"&gt;              &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Nama:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;Sitor Situmorang&lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Lahir:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;Harianboho, 2 Oktober 1924&lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Istri:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;1. Almarhum Tiominar&lt;br /&gt;      2. Barbara Brouwer&lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Anak:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;1. Retni Situmorang&lt;br /&gt;      2. Ratna Situmorang&lt;br /&gt;      3. Gulon Situmorang&lt;br /&gt;      4. Iman Situmorang&lt;br /&gt;      5. Logo Situmorang&lt;br /&gt;      6. Rianti Situmorang&lt;br /&gt;      7. Leonard Situmorang&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Pendidikan:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;AMS di Jakarta&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Pengalaman Pekerjaan:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;1. Pemimpin Redaksi “Suara Nasional&lt;br /&gt;      2. Wartawan Kantor Berita “Antara”&lt;br /&gt;      3. Wartawan Harian “Waspada”&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Karya sastra:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt; Surat Kertas Hijau, 1953&lt;br /&gt;       Dalam Sajak, 1955&lt;br /&gt;       Wajah Tak Bernama, 1955&lt;br /&gt;       Drama Jalan Mutiara, 1954&lt;br /&gt;       Cerpen Pertempuran dan Salju di Paris, 1956&lt;br /&gt;       Terjemahan, karya John Wyndham, E Du Perron RS Maenocol,M Nijhoff.&lt;br /&gt;       Zaman Baru, 1962&lt;br /&gt;       Cerpen Pangeran, 1963&lt;br /&gt;       Esai, Sastra Revolusioner, 1965 (tulisan ini yang menyebabkannya masuk        penjara)&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Karya selama di tahanan:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt; Dinding Waktu, 1976&lt;br /&gt;       Peta Perjalanan, 1977&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Karya selama dalam pengembaraan:&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt; Cerpen Danau Toba, 1981&lt;br /&gt;       Angin Danau, 1982&lt;br /&gt;       Cerita anak-anak Gajah, Harimau dan Ikan, 1981&lt;br /&gt;       Guru Simailang dan Mogliani Utusan Raja Rom, 1993&lt;br /&gt;       Toba Na Sae, 1993 (esai yang mengetengahkan tinjauan sejarah dan        antropologi)&lt;br /&gt;       Bloem op een rots dan Oude Tijger, 1990 (diterjemahkan dan dibukukan        dalam bahasa Belanda)&lt;br /&gt;       To Love, To Wonder, 1996 (diterjemahkan dalam bahasa Inggris)&lt;br /&gt;       Paris Ia Nuit, 2001 (diterjemahkan dalam Bahasa Perancis, Cina, Italia,        Jerman, Jepang, dan Rusia)&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="145" align="center"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;/center&gt;       &lt;/div&gt;         &lt;/td&gt;         &lt;td valign="top" width="8" align="right"&gt;        &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;         &lt;td valign="top" width="350"&gt;       Sitor Situmorang&lt;br /&gt;      &lt;h1&gt;'Kepala Suku' Sastrawan ‘45&lt;/h1&gt;       &lt;p&gt;      &lt;br /&gt;      Pria Batak kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara 2 Oktober 1924        ini sudah menjadi seorang Pemimpin Redaksi harian Suara Nasional terbitan        Sibolga, pada saat usianya masih sangat belia 19 tahun, di tahun 1943.        Padahal, sebelumnya ia sama sekali belum pernah bersentuhan dengan profesi        jurnalistik.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Sastrawan Angkatan ’45, ini kemudian bergabung dengan Kantor Berita        Nasional Antara, di Pematang Siantar. Dan sejak tahun 1947, atas        permintaan resmi dari Menteri Penerangan Muhammad Natsir, Sitor menjadi        koresponden Waspada, sebuah harian lokal terbitan kota Medan, Sumatera        Utara. Ia ditugaskan menempati pos di Yogyakarta.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Jika di kemudian hari persepsi tentang diri Sitor Situmorang identik        sebagai sastrawan Angkatan ’45 yang kritis, bahkan menjadi susah        memilah-milah apakah ia seorang sastrawan, wartawan, atau politisi,        agaknya bermula dari kisah sukses besarnya sebagai wartawan saat        berlangsung Konferensi Federal di Bandung, tahun 1947.        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Hadir bermodalkan tuksedo pinjaman dari Rosihan Anwar, saat itu nama        wartawan muda berusia 23 tahun, Sitor, sangat begitu fenomenal bahkan        menjadi buah bibir hingga ke tingkat dunia. Ia berhasil melakukan        wawancara dengan Sultan Hamid, tokoh negara federal bentukan Negeri        Belanda yang sekaligus menjadi ajudan Ratu Belanda.        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Sultan Hamid adalah orang yang diplot menjadi tokoh federal, tentu dengan        maksud untuk memecah-belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)        menjadi terdiri berbagai negara boneka dalam wadah negara federal.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Kisah suksesnya bukan sekedar karena berhasil menembus nara sumber Sultan        Hamid. Materi wawancara itu sendirilah yang memang lebih menarik. Sebab,        kepada Sultan Hamid Sitor berkesempatan menanyakan, ’bagaimana pendapatnya        tentang negara Indonesia’, dan uniknya dia jawab dengan, ’oh terang        Republik itu ada, dan tidak bisa dianggap tidak ada’.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Esok harinya isi wawancara itu menjadi headline dan semua kantor berita        asing mengutipnya. Peristiwa ini terjadi justru sebelum konferensi resmi        dimulai, sehingga sudah ada gong awal yang memantapkan eksistensi NKRI.      &lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       &lt;b&gt;Ultah 80&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;      Menjelang usia genap 80 tahun Sitor  mempersiapkan perayaan ulang        tahun dengan matang. Ia merayakannya di Taman Ismail Marzuki (TIM),        Jakarta, antara lain dengan memamerkan puluhan kumpulan puisi dan berbagai        dokumentasi tentang kontribusinya dalam peta perjalanan sastra dan politik        di Tanah Air.        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Bahkan, beberapa hari sebelumnya, 27 September 2004 ia memperkenalkan        karya-karya puisinya yang belum pernah dikenal orang. Apakah itu barupa        puisi karya terbaru, atau puisi lama namun sama sekali belum pernah        dikenal orang. Maklum, siklus kepenyairan Sitor Situmorang, yang menikah        untuk yang kedua kalinya dengan seorang diplomat berkewarnegaraan Belanda        Barbara Brouwer, yang memberinya satu orang anak, Leonard, sudah berbilang        setengah abad lebih. Dari istri pertama almarhum Tiominar, dia mempunyai        enam orang anak, yakni Retni, Ratna, Gulon, Iman, Logo, dan Rianti.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Semenjak tahun 1950-an karya-karya sastranya sudah mengalir ringan begitu        saja. Sitor pada tahun 1950-an itu pulang dari Eropa sebagai wartawan,        lalu memutuskan berhenti dan bergiat sebagai sastrawan. Kumpulan puisi        pertamanya terbit tahun 1953, diterbitkan oleh Poestaka Rakjat pimpinan        Sutan Takdir Alisjahbana (STA).        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Dia begitu hafal setiap karya puisinya. Malah, beberapa orang sahabat        sesama sastrawan, seperti almarhum Arifin C. Noor, W.S. Rendra, maupun        sastrawan asal Madura Zawawi, menyapanya dengan melafalkan petikan puisi        karya Sitor sebagai sapaan salam. Dari lafal petikan itu pula Sitor kenal        siapa nama dan identitas orang yang menyapanya.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Beragam karya sastra Sitor yang sudah diterbitkan, antara lain Surat        Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama        Jalan Mutiara (1954), cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956), dan        terjemahan karya dari John Wyndham, E Du Perron RS Maenocol, M Nijhoff.        Karya sastra lain, yang sudah diterbitkan, antara lain puisi Zaman Baru        (1962), cerpen Pangeran (1963), dan esai Sastra Revolusioner (1965).&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Esai Sastra Revolusioner inilah yang mengakibatkan Sitor Situmorang harus        mendekam di penjara Gang Tengah Salemba (1967-1975), Jakarta tanpa melalui        proses peradilan. Ia dimasukkan begitu saja ke dalam tahanan dengan        tuduhan terlibat pemberontakan. Selain karena isi esai Sastra Revolusioner        sarat dengan kritik-kritik tajam, posisi mantan anggota MPRS ini ketika        itu sebagai Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) periode        1959-1965, sebuah lembaga kebudayaan di bawah naungan PNI, membuat rezim        merasa berkepentingan untuk “menghentikan” kreativitas Sitor.        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Karenanya ia dengan ringan menyebutkan, “Mungkin karena saya anti-Soeharto        saja,” sebagai alasan kenapa ia harus mendekam di penjara Salemba selama        delapan tahun berturut-turut. Hingga keluar tahanan Sitor tak pernah tahu        apa kesalahannya.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Kepada Sitor tak diizinkan masuk tahanan membawa pulpen atau kertas. Namun,        walau berada dalam penjara Sitor tetap berkarya. “Tidak ada orang yang        bisa melarang saya untuk menulis,” ucapnya tentang keteguhan hatinya untuk        tetap berkarya dalam kondisi dan situasi tertekan seberat apapun, termasuk        ketika terkungkung oleh tembok-tembok beton penjara.        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Ia berhasil merilis dua karya sastra, yang berhasil ia gubah selama dalam        tahanan, yakni Dinding Waktu (1976) dan Peta Perjalanan (1977). Kedua        karya itu diluncurkan masih dalam status Sitor tidak bebas murni 100        persen sebab ketika kemudian dibebaskan, Sitor lagi-lagi harus menjalani        tahanan rumah selama dua tahun.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Sitor akhirnya memilih menetap di luar negeri, terutama Kota Paris yang        disebutnya sudah sebagai desa keduanya setelah Harianboho. Harianboho,        yang terletak persis di bibir-mulut pinggiran Tanau Toba nan indah, itu        punya arti spesifik dalam diri Sitor. Paris yang megah boleh menjadi desa        kedua. Namun Harianboho tetaplah satu-satunya kampung halaman bagi Sitor.      &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Sejak tahun 1981 Sitor diangkat menjadi dosen di Universitas Leiden,        Belanda. Sepuluh tahun kemudian pensiun pada tahun 1991. Selama dalam        pengembaraan ia tetap produktif berkarya. Maklum, menulis baginya sudah        seperti berolahraga. Jika tak menulis dirasakannya badan gemetaran.        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       “Kalau tidak menulis badan saya malah gemetaran. Bagi saya menulis adalah        olahraga”, ujar pria Batak yang walau lama mengembara di luar negeri namun        masih saja selalu kental dengan logat Bataknya. Kekentalan logat ini        membuat banyak orang kecele, menilai Sitor sebagai seorang yang berkesan        galak dan saklijk, tak ada kompromi.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Padahal ia adalah seorang lelaki tua periang yang jarang mengeluh perihal        kemampuan fisiknya yang sudah menua. Pada usai 80 tahun ia masih dengan        mudah melewati lantai berundak yang terdapat di kamar tidurnya tanpa        bantuan tongkat sedikitpun.        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Ia malah menyebut dirinya sudah seharusnya tampil sebagai “Kepala Suku”,        jika saja konsep dan sistem tata nilai lama adat Batak itu diberlakukan        kembali. Kalaupun istilah dan sebutan kepala suku adat Batak sudah lama        dihapus, namun, dalam dunia sastra khususnya Angkatan ’45 Sitor Situmorang        tak pelak lagi adalah “Kepala Suku” Sastrawan Angkatan ’45. Bukan hanya        karena ia sastrawan Angkatan ’45 yang masih hidup, namun hasil karyanya        ikut menunjukkan siapa jati diri dia yang sesungguhnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;      &lt;br /&gt;      Selama melanglang buana di berbagai negara, antara lain di Pakistan,        Perancis, dan Belanda ia menghasilkan beragam karya-karya pengembaraan.        Antara lain berupa cerpen Danau Toba (1981), Angin Danau (1982), cerita        anak-anak Gajah, Harimau, dan Ikan (1981), Guru Simailang dan Mogliani        Utusan Raja Rom (1993), Toba Na Sae (1993).        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Kemudian, karya sastra esai yang mengetengahkan tinjauan sejarah dan        antropologi, berjudul Bloem op een rots dan Oude Tijger (1990) yang sudah        diterjemahkan dan dibukukan dalam bahasa Belanda, To Love, To Wonder        (1996) diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Paris Ia Nuit (2001)        diterjemahkan dalam enam bahasa yakni Bahasa Perancis, Cina, Italia,        Jerman, Jepang, dan Rusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;      &lt;br /&gt;      Sejak tahun 2001 Sitor Situmorang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi,        Indonesia mengikuti istrinya Barbara Brouwer yang kebetulan mendapat tugas        di Jakarta. Walau dua pertiga dari usianya dihabiskannya di negeri orang,        para sahabat, kolega, teman sejawat, seniman, sastrawan, dan budayawan        lain tidak pernah menganggap Sitor sebagai “anak yang hilang”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;       Mereka, seperti Adjip Rosidi, Onghokham, Fuad Hasan, Djenar Maesa Ayu,        Ramadhan KH, Richard Oh, Rieke Diah Pitaloka, Sitok Srengenge, HS. Dillon,        Teguh Ostenrijk, Srihadi Soedarsono, dan Antonio Soriente, tetap menyambut        hangat kepulangan Sitor Situmorang. Mereka, menganggap tak beda seperti        menemukan teman yang sudah lama tak berjumpa.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Sitor memang mempunyai pergaulan yang sangat luas di mancanegara seperti        di Belanda, Jerman, Italia, dan Inggris seluas pengenalan masyarakat        Indonesia terhadapnya. Padahal, jika ditelisik jauh ke belakang belajar        menulis bagi Sitor berlangsung secara otodidak saja selepas bersekolah AMS        di Jakarta. Pilihannya menjadi penulis pun berawal dari keterlibatan        dirinya sebagai wartawan Waspada sebuah harian lokal terbitan Kota Medan,        Sumatera Utara.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Sebagai wartawan tahun 1950-an ia pulang dari Eropa, kemudian berhenti dan        memutuskan diri menjadi penyair. Itulah awal kekreativitasan Sitor        Situmorang sebagai sastrawan secara intens. Sebelumnya, tahun 1943 untuk        pertama kali ia memang sudah menuliskan sebuah puisi, berjudul Kaliurang        dimuat di majalah Siasat pimpinan “Sang Paus Sastra Indonesia” HB Jassin.        Sedangkan, kumpulan puisi pertama Sitor Situmorang baru terbit tahun 1953,        persis setelah sepulangnya dari Eropa. Ketika itu ia secara kebetulan        bertemu dengan Sutan Takdir Alisjahbana (STA), yang waktu itu memiliki        penerbit Pustaka Rakjat, lalu menerbitkan kumpulan puisi Sitor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;      &lt;br /&gt;      Sitor adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang secara sadar        mengatakan diri turut berpolitik. Ketika Waspada menugaskannya menempati        pos di Yogyakarta, membuatnya berkesempatan berkenalan dengan “Bapak-bapak        Republik”, ini istilah Sitor Situmorang sendiri untuk menyebutkan        orang-orang yang dimaksudkannya seperti Bung Karno, Bung Hatta, serta para        pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI), telah memperkaya daya juang        kreativitas sastranya dengan warna baru politik. Sitor bahkan pernah        diangkat menjadi anggota MPRS.  ►&lt;i&gt;ht, Sumber: Kompas 26        September 2004&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-2528234165150158596?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/2528234165150158596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/sitor-situmorang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2528234165150158596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2528234165150158596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/sitor-situmorang.html' title='Sitor Situmorang'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-4952734135299284784</id><published>2008-10-14T13:52:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T13:53:24.677+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Kho Ping Hoo (1926-1994)</title><content type='html'>&lt;h1 style="font-family: verdana;"&gt;Legenda Cerita Silat&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;   Dia legenda pengarang cerita silat. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina    kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa    membaca aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa.    Selama 30 tahun lebih berkarya, dia telah menulis sekitar  400 judul    serial berlatar Cina, dan 50 judul serial berlatar Jawa.    &lt;/span&gt;&lt;p style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Ceritanya asli dan khas. Dia pengarang yang memiliki ide-ide besar,    yang tertuang dalam napas ceritanya yang panjang. Sepertinya dia tak    pernah kehabisan bahan. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994    dan dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih    dinikmati oleh banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang     penggemarnya tak bosan membaca ulang karya-karyanya.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Beberapa karyanya dirilis ulang media massa, difilmkan,    disandiwararadiokan, dan di-online-kan, serta disinetronkan. Dia    meninggalkan nama yang melegenda. Legenda Kho Ping Hoo, pernah menjadi    sinetron andalan SCTV. Lewat penerbit CV Gema, karya-karyanya masih    terus dicetak.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Kho Ping Hoo bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo,    pengarang cerita silat yang memunculkan tokoh-tokoh silat dalam    ceritanya, seperti Lu Kwan Cu, Kam Bu Song, Suma    Han, Kao Kok Cu, atau Wan Tek Hoat dan Putri Syanti Dewi, Cia Keng Hong, Cia Sin Liong, Ceng    Thian Sin, dan Tang Hay. Serta tokoh-tokoh dalam serial    paling legendaris Bu Kek Siansu dan Pedang Kayu Harum.   &lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Dia juga banyak mengajarkan filosofi tentang kehidupan, yang memang disisipkan dalam setiap karyanya. Salah satu tentang yang benar adalah benar, dan yang salah tetap salah, meski yang melakukannya kerabat sendiri.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Kisah Keluarga Pulau Es merupakan serial terpanjang dari seluruh karya Kho Ping Hoo.    Kisahnya sampai 17 judul, dimulai dari Bu    Kek Siansu sampai Pusaka Pulau Es.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Penggemar cerita silat Kho Ping Hoo sangat banyak yang setia. Mereka    sudah gemar membaca karya Kho Ping Hoo sejak usia 10-an tahun hingga    usia di atas 50-an tahun. Mula-mula mereka senang melihat    gambar komiknya. Namun, lama-lama makin tertarik cerita    tulisannya. Tak jarang penggemar mengoleksi    karya-karya Kho Ping Hoo, bahkan mencarinya ke bursa buku bekas di kawasan Senen.   &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17    Agustus 1926, berasal dari keluarga miskin. Dia hanya dapat    menyelesaikan pendidikan kelas 1 Hollandsche Inlandsche School (HIS).    Namun, ia seorang otodidak yang amat gemar membaca sebagai awal    kemahirannya menulis.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Ia mulai menulis tahun 1952.  Tahun 1958, cerita pendeknya    dimuat oleh majalah Star Weekly. Inilah karya pertamanya yang dimuat    majalah terkenal ketika itu. Sejak itu, semangatnya makin membara untuk    mengembangkan bakat menulisnya.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Banyaknya cerpenis yang sudah mapan, mendorongnya memilih peluang    yang lebih terbuka dalam jalur cerita silat. Apalagi, silat bukanlah hal    yang asing baginya. Sejak kecil, ayahnya telah mengajarkan seni beladiri    itu kepadanya. Sehingga dia terbilang sangat mahir dalam gerak dan    pencak, juga makna filosofi dari tiap gerakan silat itu.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;  Karya cerira silat pertamanya adalah Pedang Pusaka Naga Putih, dimuat    secara bersambung di majalah Teratai. Majalah itu ia dirikan bersama    beberapa pengarang lainnya. Saat itu, selain menulis, ia masih bekerja    sebagai juru tulis dan kerja serabutan lainnya, untuk bisa memenuhi    kebutuhan hidup sehari-hari. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Namun, setelah cerbung silatnya menjadi populer, ia pun     meninggalkan pekerjaanya sebagai juru tulis dan kerja serabutan itu, dan    fokus menulis. Hebatnya, ia menerbitkan sendiri cerita silatnya dalam    bentuk serial buku saku, yang ternyata sangat laris.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;  Hal itu membuat kreatifitasnya makin terpicu. Karya-karyanya pun    mengalir deras. Cerita silatnya pun makin bervariasi. Tak hanya cerita    berlatar Cina, tetapi juga cerita berlatar Jawa, di masa majapahit atau    sesudahnya. Bahkan, selain secara gemilang memasukkan makna-makna    filosofis, dia pun menanamkan ideologi nasionalisme dalam cerita    silatnya.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Seperti kisah dalam cerita Sepetak Tanah Sejengkal Darah. Dia    menyajikan cerita yang sangat membumi, akrab dengan keseharian. Juga    melintasi batas agama, suku dan ras.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;  Kepopulerannya makin memuncak manakala merilis serial silat    terpanjangnya Kisah Keluarga Pulau Es, yang mencapai 17 judul cerita,    dengan ukuran panjang antara 18 sampai 62 jilid.  Dimulai dari    kisah Bu    Kek Siansu sampai Pusaka Pulau Es.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;"&gt;Karya serial berlatar Jawa, yang juga terbilang melegenda antara lain    Perawan Lembah Wilis, Darah Mengalir di Borobudur, dan Badai Laut    Selatan. Bahkan Darah Mengalir di Borobudur, pernah disandiwararadiokan.  ►&lt;b&gt;e-ti/tian son lang, &lt;/b&gt;&lt;i&gt;dari berbagai sumber&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-4952734135299284784?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/4952734135299284784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/kho-ping-hoo-1926-1994.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4952734135299284784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4952734135299284784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/kho-ping-hoo-1926-1994.html' title='Kho Ping Hoo (1926-1994)'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-1023397840082318961</id><published>2008-10-14T13:49:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T13:51:12.518+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Emha Ainun Nadjib</title><content type='html'>&lt;table id="AutoNumber1" style="border-collapse: collapse;" class="warna" width="670" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="12"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="511"&gt;     &lt;table style="border-collapse: collapse;" id="AutoNumber24" width="511" border="0" bordercolor="#111111" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;       &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;         &lt;td class="bg-10" valign="top" width="155" align="center"&gt;       &lt;div align="center"&gt;         &lt;center&gt;         &lt;table style="border-collapse: collapse;" id="AutoNumber36" width="155" border="0" bordercolor="#111111" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td class="crs4" width="145" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="warna" width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="warna" valign="top" width="145" align="center" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="warna" width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="145" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5" height="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="145" align="center"&gt;                          &lt;img src="http://www.e-ti.com/ensiklopedi/e/emha-ainun-nadjib/emha_ainun_nadjib.jpg" width="145" border="0" height="200" /&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td class="crs" valign="top" width="145"&gt;► e-ti&lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td class="tokoh5" valign="top" width="145" align="center"&gt;                    &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Nama:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;EMHA AINUN NAJIB&lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Lahir:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953&lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Agama:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;Islam&lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Isteri:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;Novia Kolopaking&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Pendidikan:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;- SD, Jombang (1965)&lt;br /&gt;  - SMP Muhammadiyah, Yogyakarta (1968)&lt;br /&gt;  - SMA Muhammadiyah, Yogyakarta (1971)&lt;br /&gt;  - Pondok Pesantren Modern Gontor&lt;br /&gt;  - FE di Fakultas Filsafat UGM (tidak tamat)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Karir:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;- Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970)&lt;br /&gt;  - Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976)&lt;br /&gt;  - Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta)&lt;br /&gt;  - Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng&lt;br /&gt;  - Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Karya Seni Teater:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;• Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto),   &lt;br /&gt;  • Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan),&lt;br /&gt;  • Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai    institusi modern),&lt;br /&gt;  • Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).&lt;br /&gt;  • Santri-Santri Khidhir (1990, bersama Teater Salahudin di lapangan    Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di    alun-alun madiun),&lt;br /&gt;  • Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan    Makassar),&lt;br /&gt;  • Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).&lt;br /&gt;  • Perahu Retak (1992).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Buku Puisi:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;• “M” Frustasi (1976),&lt;br /&gt;  • Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978),&lt;br /&gt;  • Sajak-Sajak Cinta (1978),&lt;br /&gt;  • Nyanyian Gelandangan (1982),&lt;br /&gt;  • 99 Untuk Tuhanku (1983),&lt;br /&gt;  • Suluk Pesisiran (1989),&lt;br /&gt;  • Lautan Jilbab (1989),&lt;br /&gt;  • Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990),&lt;br /&gt;  • Cahaya Maha Cahaya (1991),&lt;br /&gt;  • Sesobek Buku Harian Indonesia (1993),&lt;br /&gt;  • Abacadabra (1994),&lt;br /&gt;  • Syair Amaul Husna (1994)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Buku Essai:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;• Dari Pojok Sejarah (1985),&lt;br /&gt;  • Sastra Yang Membebaskan (1985)&lt;br /&gt;  • Secangkir Kopi Jon Pakir (1990),&lt;br /&gt;  • Markesot Bertutur (1993),&lt;br /&gt;  • Markesot Bertutur Lagi (1994),&lt;br /&gt;  • Opini Plesetan (1996),&lt;br /&gt;  • Gerakan Punakawan (1994),&lt;br /&gt;  • Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996),&lt;br /&gt;  • Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994),&lt;br /&gt;  • Slilit Sang Kiai (1991),&lt;br /&gt;  • Sudrun Gugat (1994),&lt;br /&gt;  • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995),&lt;br /&gt;  • Bola- Bola Kultural (1996),&lt;br /&gt;  • Budaya Tanding (1995),&lt;br /&gt;  • Titik Nadir Demokrasi (1995),&lt;br /&gt;  • Tuhanpun Berpuasa (1996),&lt;br /&gt;  • Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997)&lt;br /&gt;  • Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997)&lt;br /&gt;  • Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997),&lt;br /&gt;  • 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998),&lt;br /&gt;  • Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998)&lt;br /&gt;  • Kiai Kocar Kacir (1998)&lt;br /&gt;  • Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998)&lt;br /&gt;  • Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999)&lt;br /&gt;  • Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000),&lt;br /&gt;  • Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000),&lt;br /&gt;  • Menelusuri Titik Keimanan (2001),&lt;br /&gt;  • Hikmah Puasa 1 &amp;amp; 2 (2001),&lt;br /&gt;  • Segitiga Cinta (2001),&lt;br /&gt;  • “Kitab Ketentraman” (2001),&lt;br /&gt;  • “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001),&lt;br /&gt;  • “Tahajjud Cinta” (2003),&lt;br /&gt;  • “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003),&lt;br /&gt;  • Folklore Madura (2005),&lt;br /&gt;  • Puasa ya Puasa (2005),&lt;br /&gt;  • Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara),&lt;br /&gt;  • Kafir Liberal (2006)&lt;br /&gt;  • Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Alamat Rumah:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;Jalan Kadipaten Wetan K-11 Yogyakarta&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Alamat Kantor:&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;Dewan Kesenian Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="145" align="center"&gt;                    &lt;br /&gt; &lt;/td&gt;             &lt;td width="5"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;/center&gt;       &lt;/div&gt;         &lt;/td&gt;         &lt;td class="crs4" valign="top" width="8"&gt;          &lt;/td&gt;         &lt;td valign="top" width="350"&gt;&lt;p&gt;                                                         &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Emha Ainun Nadjib&lt;br /&gt;      &lt;/p&gt;       &lt;h1&gt;Kyai Kanjeng Sang Pelayan&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;  Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953,    ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik Kyai    Kanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai    kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan    dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua    kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan    berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang    umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin    (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan    pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas    nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural,    pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah    masyarakat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan    mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak    dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut    sebagai manajemen keberagaman itu.&lt;br /&gt;  Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal,    baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya    mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah    tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah    yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang    berbuat baik sudah berdakwah," katanya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan    kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai    komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. "Itu hanya bentuk    pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya    secara vertikal, tapi horizontal," ujarnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama    dengan Teater Dinasti -- yang berpangkalan di rumah kontrakannya, di    Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk    satu dua kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga menjadi kolumnis.   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Dia anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA Lathif, adalah    seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP    Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor    Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan    pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian pindah ke    SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjut ke    Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Lima tahun (1970-1975) hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika    belajar sastra dari guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang    sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha    berikutnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini,    Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa    Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti    (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Penulis puisi dan    kolumnis di beberapa media.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Di    antaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International    Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair    Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di    Berlin Barat, Jerman (1985).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Karya Seni Teater&lt;br /&gt;  Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama Halimd HD,    networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan    mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama. Di antaranya:    Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto);    Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980,    tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun    (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir    (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta    35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab (1990, dipentaskan    secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar); dan Kiai Sableng dan    Baginda Faruq (1993).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang    digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku    diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak    Kanjeng, Duta Dari Masa Depan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah    menerbitkan 16 buku puisi: “M” Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang    Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99    Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989);    Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek    Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna    (1994)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari    Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon    Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994);    Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng    Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang    Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995);    Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi    (1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997);    Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997);&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998);    Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah    Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah    (1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi    (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan    (2001); Hikmah Puasa 1 &amp;amp; 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); “Kitab    Ketentraman” (2001); “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001); “Tahajjud Cinta”    (2003); “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003); Folklore Madura (2005);    Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara);    Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Pluralisme&lt;br /&gt;  Cak Nun bersama Grup Musik Kiai Kanjeng dengan balutan busana serba    putih, ber-shalawat (bernyanyi) dengan gaya gospel yang kuat dengan    iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul di    sekitar panggung Masjid Cut Meutia. Setelah shalat tarawih terdiam, lalu    sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair,    "Sholatullah salamullah/ ’Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah salamullah/    Sholatullah salamullah/ ’Ala yaasin Habibillah/ ’Ala yaasin    Habibillah..."&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu    selesai dilantunkan. "Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya    bukan bernyanyi, saya ber-shalawat," ujarnya menjawab pertanyaan yang    ada di benak jemaah masjid.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai    pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih    Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Sabtu (14/10/2006) malam,    itu ia melakukan hal-hal yang kontroversial. Dalam berbagai komunitas    yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran.   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama    komunitasnya. "Ada apa dengan pluralisme?" katanya. Menurut dia, sejak    zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  "Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun.    Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar," ujar Emha. Dia dengan    tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan    menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan    Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda    biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua," tutur budayawan    intelektual itu. ►&lt;b&gt;e-ti&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-1023397840082318961?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/1023397840082318961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/emha-ainun-nadjib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/1023397840082318961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/1023397840082318961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/emha-ainun-nadjib.html' title='Emha Ainun Nadjib'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-9155453742565546937</id><published>2008-10-14T13:36:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T13:37:04.530+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ranah Peribahasa'/><title type='text'>Ditepuk air di dulang, tepercik muka sendiri</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ditepuk air di dulang, tepercik muka sendiri                &lt;/span&gt;                                                 &lt;p class="isi-tabel" style="margin-left: 8px; margin-right: 8px; font-family: verdana;" align="justify"&gt;                   &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dulang ialah talam (baki) dari kayu atau tembaga. Air di dulang diumpamakan anggota keluarga. Ditepuk diumpamakan sebagai aib keluarga yang diceritakan kepada orang lain. Jika ada air di dulang, kemudian air itu ditepuk, air itu dapat mengenai (memerciki) muka orang yang menepuk air itu. Jadi, peribahasa itu mempunyai arti orang yang menceritakan aib keluarganya sendiri yang membuat malu diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-9155453742565546937?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/9155453742565546937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/ditepuk-air-di-dulang-tepercik-muka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/9155453742565546937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/9155453742565546937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/ditepuk-air-di-dulang-tepercik-muka.html' title='Ditepuk air di dulang, tepercik muka sendiri'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-3585746906509104659</id><published>2008-10-14T13:30:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T13:32:41.178+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Telaah Bahasa'/><title type='text'>Lafal Bahasa Indonesia Baku</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;color:#003471;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hans Lapoliwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pusat Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; Sebagai bahasa yang hidup, bahasa Indonesia telah dan akan terus mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan  masyarakat pemakainya. Luasnya wilayah pemakaian bahasa Indonesia dan keanekaragaman penuturnya serta cepatnya  perkembangan masyarakat telah mendorong berkembangnya berbagai ragam bahasa Indonesia dewasa ini. Kenyataan bahwa  bahasa Indonesia digunakan oleh kelompok-kelompok masyarakat penutur yang berbeda latar belakangnya baik dari segi  geografis maupun dari segi sosial menyebabkan munculnya berbagai ragam kedaerahan (ragam regional) dan sejumlah ragam sosial. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Salah satu jenis ragam sosial yang bertalian dengan pokok bahasan makalah ini adalah ragam bahasa Indonesia yang lazim digunakan oleh kelompok yang menganggap dirinya terpelajar. Ragam ini diperoleh melalui pendidikan formal di sekolah. Karena itu, ragam ini lazim juga disebut ragam bahasa (Indonesia) sekolah. Ragam ini juga disebut ragam (bahasa) tinggi. Dalam kaitan ini patut dicatat bahwa bahasa Melayu yang diikrarkan sebagai bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 tentulah ragam bahasa Melayu Tinggi pada waktu itu. Ragam bahasa kaum terpelajar itu biasanya dianggap sebagai tolok untuk pemakaian bahasa yang benar. Oleh karena itulah maka ragam bahasa sekolah itu disebut juga (ragam) bahasa baku (lihat Alwi et al. 1993). Mengingat ragam bahasa baku itu digunakan untuk keperluan berbagai bidang kehidupan yang penting, seperti penyelenggaraan negara dan pemerintahan, penyusunan undang-undang, persidangan di pengadilan, persidangan di DPR dan MPR, penyiaran berita melalui media elektronik dan media cetak, pidato di depan umum, dan, tentu saja, penyelenggaraan pendidikan, maka ragam bahasa baku cenderung dikaitkan dengan situasi pemakaian yang resmi. Dengan kata lain, penggunaan ragam baku menuntut penggunaan gaya bahasa yang formal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Dalam hubungan dengan gaya itu, perlu dicatat perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulisan. Dari segi gaya, ragam bahasa tulisan cenderung kata-katanya lebih terpilih dan kalimat-kalimatnya lebih panjang-panjang, tetapi lebih tertata rapi. Dengan kata lain, persoalan lafal yang menjadi persoalan pokok makalah ini tidak berkaitan langsung dengan perbedaan ragam bahasa Indonesia lisan dan ragam bahasa Indonesia tulisan. Lafal bahasa Indonesia yang dipersoalkan dalam makalah ini adalah lafal (baku) yang dianggap baik untuk digunakan ketika berbahasa Indonesia baku dengan memakai bunyi sebagai sarananya baik dengan cara berbicara maupun dengan cara membaca. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Atas dasar uraian singkat di atas pembicaraan dalam makalah ini akan meliputi pokok-pokok&lt;br /&gt;(1) ciri-ciri lafal baku bahasa Indonesia&lt;br /&gt;(2) fungsi lafal baku bahasa Indonesia&lt;br /&gt;(3) faktor penunjang dan penghambat pertumbuhan lafal baku&lt;br /&gt;(4) upaya pembakuan lafal bahasa Indonesia &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;1. Ciri-Ciri Lafal Baku Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;Di atas telah disinggung bahwa bahasa baku baik ragam lisan maupun tulisan selalu dikaitkan dengan bahasa sekolah yang juga disebut ragam tinggi. Ragam bahasa tinggi ini lazim digunakan oleh mereka yang menganggap dirinya terpelajar. Salah satu ciri yang menonjol bahasa kaum terpelajar ini, yang menyangkut lafal, adalah bahwa sistem bunyinya lebih kompleks dibandingkan dengan sistem bunyi yang dimiliki kaum tak-terpelajar. Bahasa kaum terpelajar cenderung mempunyai khasanah bunyi yang lebih banyak. Karena itu, kaum terpelajar cenderung membedakan kata seni dari zeni, kata pak dari vak, kata sarat dari syarat, kata kas dari khas, dan kata teras (rumah) dari teras (dalam arti inti) sedangkan kaum tidak terpelajar cenderung tidak membedakan pasangan-pasangan kata itu dalam berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa kaum terpelajar juga cenderung mempunyai kaidah fonotaktis yang lebih rumit. Kaum terpelajar akan mengacu kumpulan bangunan sejenis di suatu tempat sebagai kompleks, aksi-aksi mahasiswa yang menuntut reformasi sebagai demonstrasi, dan olahraga konglomerat yang dilakukan di padang-padang bekas kebun teh dan sawah rakyat sebagai golf, sementara kelompok tidak terpelajar cenderung akan mengacunya masing-masing sebagai komplek, demonstrasi, dan golop, paling tidak, dalam berbahasa lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain khasanah bunyi yang lebih banyak dan kaidah fonotaktis yang menyatakan kombinasi-kombinasi bunyi yang lebih kompleks, bahasa kaum terpelajar cenderung juga berbeda dari bahasa kaum tak-terpelajar dalam hal kaidah pemberian tekanan pada kata. Bahasa kaum terpelajar cenderung memperlihatkan kaidah tekanan yang lebih teratur dan lebih berdasar daripada bahasa kaum tak-terpelajar. Perbedaan lafal akibat perbedaan kaidah penempatan tekanan antara kedua kelompok penutur bahasa Indonesia itu akan lebih tajam bila kata-kata itu berada dalam untaian kalimat. Bandingkan kolom A dan B berikut (suku kata yang mendapat tekanan dinyatakan dengan kapital).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table celpadding="1" width="350" border="1" bordercolor="Maroon" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;A &lt;/td&gt; &lt;td&gt;B &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;1&lt;/td&gt; &lt;td&gt;memBAca&lt;/td&gt; &lt;td&gt;memBAca&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;membaCAkan&lt;/td&gt; &lt;td&gt;memBAcakan&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;membacaKANnya&lt;/td&gt; &lt;td&gt;memBAcakannya; membaCAkannya&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;2&lt;/td&gt; &lt;td&gt;terBANG&lt;/td&gt; &lt;td&gt;TERbang&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;menerBANGkan&lt;/td&gt; &lt;td&gt;meNERbangkan&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;menerbangKANnya&lt;/td&gt; &lt;td&gt;meNERbangkannya; menerBANGkannya&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Pada contoh di atas tampak bahwa kaum terpelajar secara taat asas menempatkan tekanan pada suku kata kedua dari akhir (Kolom A) kecuali bila suku kata kedua itu mengandung vokal e pepet (/ /), sedangkan kelompok tak-terpelajar cenderung menempatkan tekanan pada bentuk dasar pada suku yang tetap atau pada suku ketiga dari akhir (Kolom B), tanpa memperdulikan apakah suku tersebut mengandung e pepet atau tidak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Pada umumnya aspek-aspek bunyi dan tekanan yang memperbedakan ragam bahasa baku (ragam bahasa kaum terpelajar) dengan ragam  bahasa tak-baku (ragam bahasa kaum tak-terpelajar) bersumber pada perbedaan sistem bunyi bahasa Indonesia dengan bahasa ibu para penutur yang cenderung menghasilkan ragam regional bahasa Indonesia yang lazim disebut logat atau aksen. Sejalan dengan itu, Abercrombie (1956) menulis bahwa ragam bahasa baku adalah ragam bahasa yang paling sedikit memperlihatkan ciri kedaerahan.  Hubungan antara ragam kedaerahan dengan ragam baku, termasuk lafalnya, digambarkan oleh Trudgill (1975) seperti berikut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;img src="http://pusatbahasa.diknas.go.id/laman/images/graphik.jpg" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Gambar itu memperlihatkan bahwa ragam baku (termasuk lafal baku) termasuk ragam sosial yang tinggi. Makin tinggi pendidikan seseorang cenderung akan meningkatkan status sosial seseorang--termasuk meningkatkan mutu bahasanya. Khasanah bunyi beserta kaidah-kaidah yang mengatur distribusi bunyi-bunyi itu, termasuk kombinasi-kombinasi bunyi dalam kata yang diperbolehkan oleh kaidah fonotaktik, dan kaidah penempatan tekanan pada kata-kata bahasa Indonesia ragam baku dapat dilihat di dalam Alwi et al. (1998). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;2. Fungsi Lafal Baku Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;Lafal merupakan perwujudan kata-kata dalam bentuk untaian-untaian bunyi. Lafal merupakan aspek utama penggunaan bahasa secara  lisan. Dalam hubungan itu, lafal baku dapat dipandang sebagai perwujudan ragam bahasa baku dalam bentuk untaian bunyi ketika  berlangsung komunikasi verbal secara lisan yang menuntut penggunaan ragam baku. Persoalannya adalah peristiwa komunikasi lisan  apa saja yang menuntut penggunaan ragam baku. Kridalaksana (1975) mencatat empat fungsi bahasa yang menuntut penggunaan ragam  baku, yaitu (1) komunikasi resmi, (2) wacana teknis, (3) pembicaraan di depan umum, dan (4) pembicaraan dengan orang yang  dihormati. Dari empat fungsi bahasa yang menuntut ragam baku itu, hanya dua yang terakhir yang langsung berkaitan dengan  komunikasi verbal secara lisan. Dengan kata lain, lafal baku perlu digunakan dalam pembicaraan di depan umum, seperti kuliah,  ceramah, khotbah, pidato, dsb. atau dalam pembicaraan dengan orang yang dihormati seperti pembicaraan dengan atasan, dengan  guru, dengan orang yang baru dikenal dsb. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Di atas telah kita lihat bahwa ragam bahasa baku dianggap sebagai ragam bahasa yang baik yang cocok untuk keperluan komunikasi  verbal yang penting, yang menjadi tolok untuk pemakaian bahasa yang benar, dan yang bergengsi serta berwibawa. Dalam hubungan  dengan fungsi sosial bahasa baku itu, Moeliono (1975) mencatat empat fungsi pokok, yaitu &lt;br /&gt;(1) fungsi pemersatu, &lt;br /&gt;(2) fungsi penanda kepribadian, &lt;br /&gt;(3) fungsi penanda wibawa, dan&lt;br /&gt;(4) fungsi sebagai kerangka acuan.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Dengan demikian, lafal baku--sebagai perwujudan  bahasa baku secara fonetis--mempunyai fungsi sosial sebagai &lt;br /&gt;(1) pemersatu, &lt;br /&gt;(2) penanda kepribadian, &lt;br /&gt;(3) penanda wibawa, dan &lt;br /&gt;(4) sebagai kerangka acuan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Pengikraran bahasa Melayu (tinggi) sebagai bahasa Indonesia 70 tahun lalu merupakan peristiwa bersejarah yang sangat penting  dalam proses perkembangan bangsa Indonesia yang bersatu. Sulit untuk dibayangkan apa yang akan terjadi dengan bangsa Indonesia  yang terdiri atas ratusan suku bangsa dengan latar belakang kebahasaan yang ratusan pula dan menyebar di kepulauan Nusantara   yang luas ini jika tidak ada satu bahasa sebagai alat komunikasi antara satu dengan lain. Kehadiran suatu lafal baku yang perlu   digunakan sebagai tolok dalam berbahasa lisan pada peristiwa-peristiwa tutur resmi yang melibatkan pendengar dari berbagai    kelompok suku tentulah merupakan suatu keharusan.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Fungsi kepribadian lafal baku akan tampak bila kita terlibat dalam pergaulan antarbangsa. Melalui bahasa lisan seseorang, kita  dapat mengenal apakah dia menggunakan logat asing ataukah logat baku. Orang asing yang belajar bahasa Indonesia dapat saja  mencapai penguasaan bahasa Indonesia yang sangat baik namun itu biasanya terbatas pada bahasa tulisan. Atau, kemungkinan lain,  dapat saja kita terlibat dalam percakapan dengan bangsa serumpun, misalnya dengan orang Malaysia atau Brunei Darussalam. Dari  segi perawakan tentu sulit untuk membedakan satu sama lain, tetapi melalui logat/dialek yang digunakan kita dapat mengenal  apakah seseorang termasuk bangsa Indonesia atau tidak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Fungsi penanda wibawa lafal baku merupakan suatu fungsi yang mempunyai nilai sosial yang tinggi dalam suatu masyarakat. Kemampuan seseorang dalam menggunakan lafal baku cenderung akan ditafsirkan bahwa orang itu adalah orang terpelajar dan karena itu patut disegani. Kewibawaan lafal baku tampak jelas dalam pergaulan sehari-hari. Dalam senda gurau tidak pernah kita mendengar lafal baku dijadikan bahan olok-olok. Pada umumnya yang kita dengar adalah logat (lafal) yang bersifat kedaerahan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Fungsi lafal baku sebagai kerangka acuan berarti bahwa lafal baku dengan perangkat kaidahnya menjadi ukuran atau patokan dalam  berbahasa Indonesia secara lisan pada situasi-situasi komunikasi yang resmi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;3. Faktor Penunjang dan Penghambat Pertumbuhan Lafal Baku&lt;br /&gt;Dengan faktor pendukung pertumbuhan lafal baku di sini dimaksudkan semua faktor yang dianggap memberikan dampak positif  terhadap kehadiran lafal baku bahasa Indonesia. Sebaliknya, faktor penghambat pertumbuhan lafal baku adalah semua faktor yang  dianggap memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan/kehadiran lafal baku bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pembicaraan  pada seksi ini akan mencoba mengidentifikasi beberapa isu atau masalah yang bertalian dengan lafal baku kemudian melihat apa  segi positifnya dan apa segi negatifnya. Masalah yang bertalian dengan lafal baku yang akan disorot dalam hubungan ini meliputi &lt;br /&gt;(1) isu persatuan dan kesatuan, &lt;br /&gt;(2) isu pendidikan, &lt;br /&gt;(3) isu kesempatan kerja, &lt;br /&gt;(4) isu keunggulan bahasa baku, dan &lt;br /&gt;(5) isu demokrasi dalam bahasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;a. Isu Persatuan dan Kesatuan&lt;br /&gt;Kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang dihuni oleh ratusan suku bangsa dengan bahasa yang berbeda-beda jelas merupakan  tantangan berat dalam rangka mempersatukan bangsa Indonesia ini. Adanya satu bahasa sebagai alat untuk mempersatukan bangsa  Indonesia yang bhineka itu merupakan suatu keharusan. Hal ini disadari benar oleh para pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda  II yang melahirkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Melalui Sumpah Pemuda tersebut, bahasa Melayu diikrarkan sebagai  bahasa persatuan dengan nama bahasa Indonesia. Walaupun tidak ada catatan yang menyebutkan secara eksplisit ragam bahasa Melayu  mana yang dinobatkan sebagai bahasa Indonesia itu, dapat dipastikan bahwa bukan ragam bahasa Melayu pasar. Ragam bahasa Melayu yang dinobatkan sebagai bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda itu tentulah ragam bahasa Melayu Tinggi karena ragam inilah yang  diajarkan di sekolah-sekolah, terutama sekolah-sekolah kebangsaan. Bersamaan dengan pengikraran ragam bahasa Melayu Tinggi  sebagai bahasa Indonesia, Sumpah Pemuda itu juga secara serta-merta menobatkan lafal bahasa Melayu Tinggi sebagai lafal baku. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Fungsi bahasa Indonesia baku, termasuk lafalnya, sebagai alat pemersatu bangsa secara umum dapat dikatakan telah berjalan dengan baik. Hampir sebagian besar bangsa Indonesia telah dapat mengerti bahasa Indonesia. Namun, di sisi lain penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan telah pula mengakibatkan sebagian masyarakat yang belum menguasai atau dianggap belum mahir berbahasa Indonesia secara tidak sadar telah menciptakan pengotak-ngotakan masyarakat bangsa ini atas yang mahir berbahasa Indonesia dan yang tidak mahir berbahasa Indonesia. Upaya untuk mengendalikan pertumbuhan bahasa melalui perencanaan bahasa sesungguhnya merupakan upaya perencanaan perbedaan antara yang mahir dan yang kurang mahir berbahasa Indonesia termasuk lafalnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;b. Isu Pendidikan&lt;br /&gt;Salah satu alasan yang sering dikemukakan dalam hubungan dengan upaya penetapan suatu ragam bahasa baku adalah pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan di sekolah tentulah menuntut adanya bahasa pengantar yang dikuasai oleh guru dan murid. Pengembangan bahan-bahan ajar tentulah memerlukan satu bahasa demi penghematan. Adalah tidak ekonomis untuk menyediakan buku yang berbeda-beda dari segi bahasa bagi kelompok-kelompok yang berbeda bahasa seperti Indonesia. Ini tidak hanya mahal dari segi finansial tetapi juga mahal dari segi ketenagaan. Dalam hubungan dengan penyelenggaraan pendidikan ini, peranan lafal baku sangat penting karena ragam bahasa yang digunakan sebagian besar adalah ragam lisan. Kegagalan seseorang menguasai lafal baku cenderung akan berakibat kegagalan dalam mencapai manfaat pendidikan di sekolah yang optimal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;   Isu pendidikan berkenaan dengan lafal baku itu baru akan menjadi persoalan bila sekolah memang menuntut penggunaan lafal baku.  Murid yang tidak mahir menggunakan lafal baku cenderung akan dinilai "kurang berhasil" dalam mengikuti pendidikan.  Kekurangberhasilan murid itu akan tampak menonjol dalam hal-hal yang menuntut penggunaan bahasa lisan seperti bercakap-cakap,  menjawab pertanyaan secara lisan, menerangkan sesuatu, dan membaca bersuara. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;c. Isu Kesempatan Kerja&lt;br /&gt;Alasan lain yang biasa dikemukakan dalam usaha penetapan suatu bahasa baku termasuk lafal baku bertalian dengan kesempatan kerja. Prof. Emil Salim (1983) melaporkan bahwa hasil Sensus 1980 menunjukkan adanya hubungan positif antara penguasaan bahasa Indonesia dengan kesempatan kerja. Pendapatan per kapita rata-rata (GNP) yang menguasai bahasa Indonesia lebih tinggi daripada GNP kelompok masyarakat yang kurang menguasai bahasa Indonesia. Rendahnya GNP kelompok yang kurang menguasai bahasa Indonesia itu pastilah tidak berkaitan langsung dengan kemampuan intelektual atau keterampilan mereka. Kemungkinan besar perbedaan GNP itu lebih banyak ditentukan oleh kesan pertama yang didapatkan oleh para penyaring calon pekerja melalui lamaran tertulis dan atau wawancara dengan pencari kerja tersebut. Ketidaklancaran komunikasi antara calon pekerja dengan penyaring calon pekerja cenderung ditafsirkan sebagai ketidakmampuan tenaga pencari kerja tersebut untuk melaksanakan beban kerja lowongan yang ada. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;  Di sini lagi-lagi isu bahasa baku, termasuk lafal baku, dapat menjadi masalah jika ragam bahasa baku itu dijadikan sebagai  suatu prasyarat untuk bisa diterima sebagai tenaga kerja dalam suatu lembaga atau perusahaan. Buruh-buruh di suatu pabrik atau  perkebunan serta pesuruh, tukang kebun, dan tenaga administrasi rendahan di kantor-kantor tidak perlu dipersyaratkan menguasai  bahasa Indonesia baku secara lisan dan tertulis sama baik dengan mandor atau kepala bagian di kantor-kantor. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;d. Isu Keunggulan Bahasa Baku&lt;br /&gt;Di atas telah disinggung bahwa ragam bahasa baku cenderung dinilai sebagai bahasa yang bergengsi yang lebih baik daripada ragam lain atau ragam kedaerahan. Sentimen sosial yang melekat pada ragam baku itu cenderung ditafsirkan bahwa ragam bahasa baku lebih unggul daripada ragam kedaerahan dalam hal daya ungkapnya. Ragam bahasa baku (ragam tinggi) dianggap mampu mengungkapkan berbagai konsep ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sedangkan ragam kedaerahan tidak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Dalam hal-hal tertentu anggapan itu memang benar, tetapi itu terjadi karena ragam baku memang sengaja dikembangkan secara khusus untuk keperluan itu, terutama dalam hal peristilahannya. Secara teoretis, ragam apa pun yang digunakan asal tersedia perangkat istilah untuk bidang-bidang yang dipercakapkan tentulah bisa. Para ahli ilmu bahasa sudah sejak lama menerima pandangan bahwa semua bahasa di dunia ini sama baiknya. Apa yang bisa diungkapkan dalam satu bahasa pastilah dapat diungkapkan dalam bahasa lain walaupun dengan cara yang lebih panjang. Dalam kaitan ini, pandangan bahwa ragam bahasa baku lebih unggul dari ragam kedaerahan terletak pada kehematan dalam pengungkapan saja. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;e. Isu Demokrasi dalam Bahasa&lt;br /&gt;Penilaian ragam bahasa baku sebagai ragam yang berwibawa dan bergengsi dengan segala konotasinya telah menjadi salah satu alasan mengapa perlu ada ragam baku dan bahwa setiap warga negara perlu diberi kesempatan yang sama untuk mempelajari dan menguasai ragam bahasa baku, termasuk lafal baku itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Dalam negara seperti Indonesia yang warganya terdiri atas ratusan kelompok etnis dengan bahasa daerah yang beratus pula tentulah keinginan untuk memberi kesempatan yang sama untuk menguasai bahasa Indonesia (baku) merupakan suatu keharusan. Masalah yang timbul berkaitan dengan isu demokrasi dalam bahasa ini adalah bahwa tidak jarang murid mendapat hambatan dalam menggapai kemajuan dalam pendidikannya akibat ragam bahasa Indonesia baku yang belum dikuasainya dengan baik. Acapkali dapat terjadi seseorang menjadi segan, dan mungkin berkembang menjadi benci, berbicara karena dikritik atau diperolok-olokkan baik oleh guru maupun oleh teman-temannya. Apabila tekanan-tekanan psikologis seperti itu dialami oleh murid, maka dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mencapai hasil yang memuaskan di dalam pendidikannya. Untuk menghindari tekanan-tekanan psikologis yang bisa diakibatkan ketidakmampuan menguasai ragam bahasa baku itu, maka murid dapat pula menuntut hak bahasa lainnya, yaitu untuk belajar di dalam dialeknya sendiri sebagaimana disuarakan oleh UNESCO belakangan ini walaupun konsekuensinya jauh lebih tidak menguntungkan dilihat dari kepentingan bangsa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;4. Upaya Pembakuan Lafal Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;Adanya ragam baku, termasuk lafal baku, untuk bahasa Indonesia merupakan tuntutan Sumpah Pemuda dan UUD 1945. Pengikraran bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan dengan nama bahasa Indonesia menuntut setiap orang Indonesia untuk bisa berkomunikasi satu sama lain baik secara lisan maupun secara tertulis dalam bahasa persatuan. Penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara berarti bahwa segala bentuk kegiatan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara dilakukan dalam bahasa Indonesia. Semua kegiatan komunikasi verbal dalam bahasa Indonesia itu, secara lisan atau secara tertulis, hanya akan mencapai hasil yang baik jika ada semacam rujukan yang dimiliki bersama--dalam hal ini ragam baku bahasa Indonesia. Untuk keperluan berbahasa lisan tentu saja dibutuhkan lafal baku. Upaya pembakuan lafal bahasa Indonesia pada dasarnya dapat dilaksanakan dengan dua jalur&lt;br /&gt;(1) jalur sekolah dan&lt;br /&gt;(2) jalur luar  sekolah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;a. Pembakuan Lafal melalui Jalur Sekolah&lt;br /&gt;Upaya pembakuan lafal bahasa Indonesia sebenarnya telah dimulai jauh sebelum bahasa Indonesia diikrarkan sebagai bahasa persatuan 70 tahun lalu. Upaya pembakuan itu dimulai di sekolah-sekolah yang mengajarkan atau memakai bahasa Melayu. Kehadiran Ejaan van Ophuijsen tahun 1901 telah meletakkan dasar yang kokoh bagi pertumbuhan lafal bahasa Melayu Tinggi yang kemudian dinobatkan sebagai bahasa Indonesia oleh Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Melalui tulisan yang diajarkan di sekolah-sekolah, murid-murid mulai membentuk lafal baku. Melalui tulisan yang mereka pelajari, mereka belajar mengucapkan kata-kata tertulis seperti ada, apa, dan mana, sebagaimana dituliskan dan bukan sebagai [ad ], [ap ], dan [man ] seperti kita dengar dalam bahasa Melayu Riau hingga dewasa ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; Pembakuan lafal melalui sekolah pada umumnya dilakukan secara pasif. Guru tidak secara khusus melatih para murid untuk  menggunakan lafal baku. Murid belajar lafal baku melalui apa yang didengarnya dari guru dan, pada tahap tertentu, dari sesama  murid. Melalui pelajaran baca-tulis, murid dapat mengetahui nilai (fonetis) untaian huruf yang digunakan untuk menuliskan  kata-kata Indonesia. Peranan guru dalam upaya pembinaan lafal bahasa baku sangatlah besar. Untuk dapat melaksanakan upaya  pembinaan lafal baku itu guru hendaklah mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan memperhatikan hal-hal berikut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;(1) Guru haruslah menyadari bahwa lafalnya merupakan model atau kerangka acuan bagi murid-muridnya. Karena itu, hendaklah guru  mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Pengetahuan fonologi akan banyak membantu tugasnya.&lt;br /&gt;(2) Guru perlu mengetahui aspek-aspek fonologi yang khas di daerah tempatnya mengajar agar dapat mengetahui bunyi-bunyi yang sukar bagi murid-muridnya. Di daerah Tapanuli dan sebagian besar Indonesia bagian timur, vokal / / cenderung diganti dengan /e/. Di Aceh, Jawa, dan Bali bunyi /t/ cenderung diganti dengan bunyi retrofleks /t/.&lt;br /&gt;(3) Guru hendaklah menyadari bahwa (ragam) bahasa menjadi lambang kelompok sosial. Karena itu guru perlu menghargai logat  murid-muridnya. Apabila murid merasa direndahkan karena ketidak-mampuannya berbahasa Indonesia dengan lafal baku sebagai akibat  pengaruh logat/bahasa ibunya, maka ia cenderung menolak apa saja yang berbau lafal bahasa Indonesia baku. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;b. Pembakuan Lafal melalui Jalur Luar Sekolah&lt;br /&gt;Di atas telah disinggung bahwa lafal baku sebagai perwujudan ragam bahasa baku mempunyai nilai sosial yang tinggi. Oleh karena  itu, di banyak tempat di dunia itu acapkali ragam bahasa para penutur dari kalangan kelas sosial atas sering dijadikan acuan  atau model. Hal ini terlihat jelas di Indonesia. Ketika presiden sering terdengar mengucapkan -kan sebagai [k n] maka banyak  orang yang latah ikut-ikutan mengucapkan [-k n] walaupun mereka bukan dari suku Jawa. Untuk bisa memberikan model lafal yang  baik kepada masyarakat perlu diperhatikan hal-hal berikut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;(1) Setiap pemimpin dan tokoh masyarakat yang biasa dalam tugasnya berhadapan langsung dengan rakyat perlu berusaha menggunakan lafal baku.&lt;br /&gt;(2) Para penyiar radio dan televisi hendaklah memberikan model yang baik bagi para pendengar khususnya dalam pembicaraan yang  bersifat resmi, seperti pembacaan berita atau wawancara resmi dengan tokoh-tokoh masyarakat. Peranan televisi dan radio itu  sangat besar dalam pembentukan lafal bahasa Indonesia yang ada dewasa ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;5. Penutup&lt;br /&gt;Pada seksi 3 di atas telah disinggung sejumlah aspek positif dan aspek negatif kehadiran ragam baku, termasuk lafal baku.  Perdebatan itu mungkin hanya relevan bagi masyarakat yang monolingual atau paling tidak jumlah bahasanya sedikit.  Bagi Indonesia yang penduduknya menggunakan ratusan bahasa daerah dan tersebar di ribuan kepulauan, kehadiran suatu bahasa baku,  termasuk lafal baku bukan hanya perlu tetapi suatu keharusan. Upaya untuk menentang pembakuan bahasa Indonesia sama artinya   mengkhianati Sumpah Pemuda yang telah mengikrarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Persatuan yang kuat hanya bisa   tercipta kalau ada bahasa yang digunakan bersama dengan pemahaman yang sama. Meskipun begitu, upaya pembakuan lafal hendaklah   dilakukan secara hati-hati karena lafal lebih peka terhadap sentimen sosial. Upaya pembakuan lafal selama ini dapat   dipertahankan. Yang perlu ditingkatkan adalah kesadaran kita sebagai pemodel lafal.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Daftar Pustaka &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family: verdana; color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;color:#003471;"  &gt;Abercrombie, David. 1956. Problems and Principles Studies in the Teaching of English as a Second Language. London: Longman.&lt;br /&gt;Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, Anton M. Moeliono. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi ketiga).  Jakarta: Balai Pustaka. &lt;br /&gt;Kridalaksana, Harimurti. 1975. "Tata Cara Standardisasi dan Pengembangan Bahasa Nasional" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. No. 3 pp 7--14.&lt;br /&gt;Moeliono, Anton M. 1975. "Ciri-Ciri Bahasa Indonesia yang Baku" dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. No. 3. pp. 2--6.&lt;br /&gt;Salim, Emil. 1983. "Membangun Bahasa Pembangunan". Makalah pada Kongres Bahasa Indonesia IV.&lt;br /&gt;Tollefson, James W. 1991. Planning Language, Planning Inequality. London: Longman.&lt;br /&gt;Trudgill, Peter. 1975. Accent Dialect and The School. London: Edwar Arnold Ltd. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-3585746906509104659?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/3585746906509104659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/lafal-bahasa-indonesia-baku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/3585746906509104659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/3585746906509104659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/lafal-bahasa-indonesia-baku.html' title='Lafal Bahasa Indonesia Baku'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-5875000223402079162</id><published>2008-10-14T13:22:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T13:24:43.311+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Kuntowijoyo</title><content type='html'>&lt;table style="font-family: verdana;" width="100%" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td align="center"&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Kuntowijoyo&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td align="center"&gt;&lt;img src="http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/images/tokoh/kuntowijoyo.jpg" width="160" height="220" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="jdl-tabel" height="25"&gt;&lt;b&gt;  Biografi&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt; &lt;table class="borang-luar" width="100%" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;  &lt;td class="borang-dalam"&gt;  &lt;table class="borang-dalam" width="100%" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;          &lt;td class="isi-tabel"&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kuntowijoyo dilahirkan di Bantul, Yogyakarta, pada tanggal 18 September 1943. Ia dibesarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di Ceper, Klaten, dalam lingkungan keluarga Jawa yang beragama Islam beraliran Muhammadiyah.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Ia anak kedua dari sembilan bersaudara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia menikah tahun 1969 dengan Susilaningsih, lulusan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dari pernikahannya itu Kuntowijoyo mempunyai dua orang anak, Punang Amaripuja dan Alun Paradipta. Ia meninggal dunia pada tanggal 22 Februari 2005 dalam usia 62 tahun karena sakit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kuntowiyo menyelesaikan SD dan madrasah tahun 1956 dan SMP tahun 1959, semuanya di Klaten. Ketertarikannya pada sastra mulai tampak saat SD. Ia sering mendengarkan siaran puisi dari radio Surakarta asuhan Mansur Samin dan Budiman S. Hartojo. Mentornya, M. Saribi Arifin dan M.Yusmanam, mendorongnya untuk menulis sastra.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di SMA, ia banyak membaca karya sastra,&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;baik dari penulis Indonesia maupun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari luar negeri, seperti Karl May, Charles Dickens, dan Anton Chekov. Dengan bekal itu, pada tahun 1964 ia menulis novel pertamanya, &lt;i&gt;Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari&lt;/i&gt;, yang kemudian dimuat sebagai cerita bersambung di harian &lt;i&gt;Djihad&lt;/i&gt; tahun 1966. Selain itu, ia juga menulis cerpen dan drama pendek untuk klubnya. Namun, ia baru memublikasikan karyanya itu pada pada tahun 1967 di majalah &lt;i&gt;Horison&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Setelah menyelesaikan SMA di Surakarta tahun 1962, Kuntowijoyo melanjutkan pendidikannya di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, dan selesai tahun 1969. Kemudian, ia diangkat sebagai pengajar di almamaternya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di bidang kebudayaan, Kuntowijoyo mendirikan Leksi (Lembaga Kebudayan dan Seniman Islam) bersama kawan-kawannya. Ia menjadi sekretaris tahun 1963—1969. Dari tahun 1969—1971 Kuntowijoyo aktif dalam Kelompok Studi Mantika bersama temannya, seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;M. Dawam Raharjo, Arifin C. Noer, Abdul Hadi W.M., Amri Yahya, Sju’bah Asa, Chairul Umam, dan Ikranegara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagai sarjana ilmu sejarah, pendidikan formalnya tuntas setelah meraih gelar doktor ilmu sejarah dari &lt;i&gt;Columbia University&lt;/i&gt;, New York, Amerika Serikat, tahun 1980. Sebelumnya, ia menyelesaikan studi S-2 di &lt;i&gt;The University of Connecticut&lt;/i&gt;, Amerika Serikat, tahun 1974. Disertasinya di Universitas Columbia, &lt;i&gt;Social Change in an Agrarian Society: Madura1950—1940,&lt;/i&gt; sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selain menulis tentang sejarah Madura, ia juga menulis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa risalah sejarah dalam bentuk makalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan paper yang tersebar. Salah satu karya terakhir di bidang sejarah ialah &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Raja, Priyayi, dan Kawula: Surakarta 1900—1915 &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(2004). Namun, bukan dengan ilmu sejarah saja ia menjangkau publik secara luas. Sejak muda hingga akhir hayatnya, Kuntowijoyo tekun berkarya di bidang sastra: puisi, novel, cerita pendek, dan drama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Atas ketekunannya itu, ia pun banyak mendapat hadiah dan penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Berikut ini adalah karya, hadiah, dan penghargaan Kuntowijoyo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;A.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kumpulan puisi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Suluk Awang-Uwung&lt;/i&gt; (1975)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Isyarat (1976)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Daun Makrifat, Makrifat Daun&lt;/i&gt; (1995)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;h1 style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;B.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kumpulan cerpen&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1&lt;i&gt;. Dilarang Mencintai Bunga-Bunga &lt;/i&gt;(1992)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Antologi cerpen pilihan &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;: “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri” (1995),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;“Pistol Perdamaian” (1996), dan Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan” (1997)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3. &lt;i&gt;Hampir Sebuah Subversi &lt;/i&gt;(1999)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;C.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Novel&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. &lt;i&gt;Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari&lt;/i&gt; (1966)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;2. &lt;i&gt;Khotbah di Atas Bukit&lt;/i&gt; (1976)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;3.&lt;i&gt; Pasar&lt;/i&gt; (1994)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;4. &lt;i&gt;Impian Amerika &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(1998)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5.&lt;i&gt;Mantra Pejinak Ular&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(2000)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;D. Naskah drama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Rumput-Rumput Danau Bento” (1968)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;:Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cartas” (1972)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Topeng Kayu” (1973)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;E&lt;/b&gt;. &lt;b&gt;Karya nonfiksi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. &lt;i&gt;Pengantar Ilmu Sejarah&lt;/i&gt; (1995)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;2. &lt;i&gt;Metodologi Sejarah&lt;/i&gt; (1994)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3. &lt;i&gt;Demokrasi &amp;amp; Budaya Birokrasi&lt;/i&gt; (1994)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4. &lt;i&gt;Radikalisasi Petani&lt;/i&gt; (1993)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5. &lt;i&gt;Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi&lt;/i&gt; (1991)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;6. &lt;i&gt;Dinamika Sejarah Umat Islam &lt;/i&gt;(1997)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;7. &lt;i&gt;Identitas Politik Umat Islam &lt;/i&gt;(1997)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;8. &lt;i&gt;Esai Agama, Budaya, dan Politik&lt;/i&gt; (2000)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;9.&lt;i&gt; Raja, Priyayi, dan Kawula: Surakarta 1900—1915 &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(2004)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;F. Hadiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hadiah Harapan dari Pembina Teater Nasional Indonesia untuk naskah drama “Rumput-Rumput Danau Bento” (1968)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hadiah Pertama Sayembara Cerpen Majalah &lt;i&gt;Sastra&lt;/i&gt; untuk cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” (1968)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hadiah Sayembara Penulisan Lakon dari Dewan Kesenian Jakarta untuk naskah drama “Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cartas” (1972)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hadiah Panitia Hari Buku untuk novel &lt;i&gt;Pasar&lt;/i&gt; (1972)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hadiah Penulisan Lakon dari Dewan Kesenian Jakarta untuk naskah drama “Topeng Kayu” (1973)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;G. Penghargaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargaan Sastra Indonesia dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(1986)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargaan Penulisan Sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk kumpulan cerpen &lt;i&gt;Dilarang Mencintai Bunga-Bunga &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(1994)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargaan Kebudayaan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) (1995)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargaan Cerpen Terbaik &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk cerpen “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri” (1995)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargaan Cerpen Terbaik &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; untuk cerpen “Pistol Perdamaian” (1996)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;6.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargaan Cerpen Terbaik &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk cerpen “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(1997)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;7.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargaan dari &lt;i&gt;Asean Award on Culture&lt;/i&gt; (1977)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;8.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Satya Lencana Kebudayaan Republik Indonesia (1997)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;9.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargan dari Penerbit &lt;i&gt;Mizan Award&lt;/i&gt; (1998)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargaan Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dari Menristek (1999)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;11.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargaan &lt;i&gt;SEA Write Award&lt;/i&gt; dari Kerajaan Thailand (1999)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0in 0in 0pt 0.75in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;12.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa (2005)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-5875000223402079162?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/5875000223402079162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/kuntowijoyo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/5875000223402079162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/5875000223402079162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/kuntowijoyo.html' title='Kuntowijoyo'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-2176241062332496488</id><published>2008-10-14T13:21:00.001+07:00</published><updated>2008-10-14T13:21:42.124+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Merari Siregar</title><content type='html'>&lt;table style="font-family: verdana;" width="100%" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="jdl-tabel" height="25"&gt;&lt;b&gt;Biografi&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt; &lt;table class="borang-luar" width="100%" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;  &lt;td class="borang-dalam"&gt;  &lt;table class="borang-dalam" width="100%" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;          &lt;td class="isi-tabel"&gt; &lt;p class="TxBrp9" style="margin: 0cm 0cm 0pt 28.9pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Merari Siregar &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp11" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp11" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;          Merari Siregar dilahirkan &lt;span style=""&gt;di Sipirok, Tapanuli, Sumatra Utara pada tanggal 13 Juli 1896. Merari Siregar meninggal di Kalianget, Madura pada &lt;/span&gt;tanggal &lt;span style=""&gt;23 April 1941). Ia meninggalkan tiga orang anak, &lt;/span&gt;yaitu Florentinus Hasajangu &lt;span style=""&gt;MS yang lahir 19 Desember 1928, &lt;/span&gt;Suzanna &lt;span style=""&gt;Tiurna Siregar yang lahir 13 Desember 1930, &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt;Theodorus Mulia Siregar yang lahir &lt;i&gt;25 &lt;/i&gt;Juli 1932.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp11" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semasa kecil, Merari Siregar berada di Sipirok. OIeh karena itu, sikap, perbuatan, dan jiwa Merari Siregar sangat dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat Sipirok. Ia menjumpai kepincangan-kepincangan khususnya mengenai adat, misalnya, kawin paksa yang terdapat dalam masyarakat lingkungannya. Setelab dewasa dan menjadi orang terpelajar, Merari Siregar melihat keadaan suku bangsanya yang mempunyai pola berpikir yang tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Hati kecilnya ingin mengubah sikap orang-orang yang berpandangan kurang baik khususnya orang-orang di daerah Sipirok.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp11" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ia &lt;/span&gt;pernah &lt;span style=""&gt;bersekolah di &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Kweekschool &lt;/i&gt;‘sekolah guru’ &lt;span style=""&gt;dan sekolah &lt;i&gt;guru Oosr en West, &lt;/i&gt;‘Timur dan &lt;/span&gt;Barat’ &lt;span style=""&gt;di Gunung Sahari, &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;span style=""&gt;Pada &lt;/span&gt;tahun 1923 Merari Siregar bersekolah di sekolah swasta yang &lt;span style=""&gt;didirikan oleh &lt;i&gt;vereeniging tot van Oost en West, &lt;/i&gt;yang pada masa &lt;/span&gt;itu &lt;span style=""&gt;merupakan &lt;/span&gt;organisasi &lt;span style=""&gt;yang &lt;/span&gt;aktif memperakiekkan &lt;span style=""&gt;politik etis Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp11" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 0cm; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Setelah lulus dan sekolah, Merari Siregar mula-mula bekerja sebagai guru bantu di &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Medan&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; &lt;span style=""&gt;kemudian pindah bekerja di Jakarta, yakni di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo). &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Terakhir&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;Ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; &lt;/span&gt;pindah &lt;span style=""&gt;di Kalianget, Madura, &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt;bekerja di &lt;i&gt;Opium end &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Zouregie &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;sampai akhir hayatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp12" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Roman &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Azab dan &lt;span style=""&gt;Sengsara &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;karya Marari &lt;span style=""&gt;Siregar dianggap &lt;/span&gt;sebagai &lt;span style=""&gt;pemula &lt;/span&gt;dalam &lt;span style=""&gt;kehidupan prosa Indonesia Modern. Roman &lt;/span&gt;yang &lt;span style=""&gt;diterbitkan pada tahun 1920 &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;ini merupakan roman &lt;span style=""&gt;ash &lt;/span&gt;yang pertama &lt;span style=""&gt;diterbitkan oleh Balai Pustaka. Buku ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mencerminkan permulaan &lt;span style=""&gt;kesusastraan prosa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; modern, &lt;/span&gt;demikian &lt;span style=""&gt;dinyatakan oleh Teeuw. Gambaran &lt;/span&gt;itu &lt;span style=""&gt;semakin nyata terlihat pada roman &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Siti Nurbaya &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;yang merupakan &lt;/span&gt;karya &lt;span style=""&gt;puncak Angkatan Balai Pustaka. Di samping &lt;/span&gt;itu, &lt;i&gt;Azab dan &lt;span style=""&gt;Sengsara &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;ini adalah peniup &lt;span style=""&gt;terompet &lt;/span&gt;pertama yang menyuarakan &lt;span style=""&gt;peftentangan kaum muda masa &lt;/span&gt;itu &lt;span style=""&gt;dengan adat istiadat lama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp11" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tampaknya, &lt;/span&gt;buku &lt;i&gt;Azab dan &lt;span style=""&gt;Sengsara &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt;ditulis &lt;/span&gt;berdasarkan &lt;span style=""&gt;pengalaman &lt;/span&gt;dan pengamatan &lt;span style=""&gt;Merari Siregar sejak masa kedil. Awal penulisan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Azab dan &lt;span style=""&gt;Sengsara &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;bersamaan &lt;span style=""&gt;waktunya dengan penyaduran buku yang kemudian terkenal &lt;/span&gt;dengan nama &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Si &lt;/span&gt;Jamin dan Si Johan, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;demikian dinyatakan oleh Teeuw. Roman Azab &lt;/span&gt;&lt;i&gt;dan &lt;span style=""&gt;Sengsara &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;itu &lt;span style=""&gt;rupanya &lt;/span&gt;sebuah cerita yang betul-betul &lt;span style=""&gt;terjadi &lt;/span&gt;tentang &lt;span style=""&gt;seorang gadis Batak &lt;/span&gt;yang &lt;span style=""&gt;hernama &lt;/span&gt;Mariamin. Dalam &lt;span style=""&gt;roman &lt;/span&gt;ini &lt;span style=""&gt;Merari Siregar &lt;/span&gt;sering &lt;span style=""&gt;menyisipkan nasihat-nasihat langsung kepada pembacanya. Nasihat ini tidak ada hubungannya dengan &lt;/span&gt;kisah &lt;span style=""&gt;tokohnya karena maksud &lt;/span&gt;pengarang &lt;span style=""&gt;menyusun buku &lt;/span&gt;itu &lt;span style=""&gt;sebetulnya &lt;/span&gt;untuk &lt;span style=""&gt;menunjukkan adat &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt;kebiasaan yang &lt;/span&gt;kurang &lt;span style=""&gt;baik kepada bangsanya. Di bawah &lt;/span&gt;ini dikutip tulisan &lt;span style=""&gt;pengarang yang menunjukkan &lt;/span&gt;hal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp13" style="margin: 0cm 0cm 0pt 28.9pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya mengarang ceritera ini, dengan &lt;/span&gt;maksud menunjukkan &lt;span style=""&gt;adat dan kebiasaan yang &lt;/span&gt;kurang &lt;span style=""&gt;baik dan &lt;/span&gt;sempurna &lt;span style=""&gt;di tengah­tengah bangsaku, lebih-lebih di antara orang berlaki-laki. Harap saya &lt;/span&gt;diperhatikan &lt;span style=""&gt;oleh pembaca.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp13" style="margin: 0cm 0cm 0pt 28.9pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Hal-hal dan kejadian yang &lt;/span&gt;tersebut dalam buku ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;meskipun seakan-akàn &lt;/span&gt;tiada &lt;span style=""&gt;mungkin dalam pikiran pembaca. &lt;/span&gt;adalah benar belaka, cuma &lt;span style=""&gt;waktunya kuatur—artinya &lt;/span&gt;dibuat berturut-turut supaya &lt;span style=""&gt;ceritera lebih nyata dan &lt;/span&gt;terang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp14" style="margin: 0cm 0cm 0pt 256.8pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Merari Siregar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp11" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Azab &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt;Sengsara &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;muncul ketika Belanda sedang bergairah &lt;/span&gt;melaksanakan &lt;span style=""&gt;politik etisnya. &lt;/span&gt;Kegairahan itu antara &lt;span style=""&gt;lain ditandai dengan herdirinya &lt;i&gt;Conunissie Voor Volkslectuur &lt;/i&gt;‘Komisi untuk &lt;/span&gt;Bacaan &lt;span style=""&gt;Rakyaf tahun 1908 yang &lt;/span&gt;bertugas &lt;span style=""&gt;menyelenggarakan &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt;menyebar hacaan-bacaan, seperti terjemahan, saduran, dan &lt;/span&gt;karangan &lt;span style=""&gt;ash kepada rakyat &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt;para pelajar sekolah bumi putera. Karangan ash &lt;/span&gt;itu, antara &lt;span style=""&gt;lain, cerita-cerita rakyat yang berbentuk hikayat, syair, &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt;pantun. Karya &lt;/span&gt;sastra &lt;span style=""&gt;yang muncul pada masa &lt;/span&gt;itu &lt;span style=""&gt;masih terpengaruh oleh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp15" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dilihat walaupun sudah modern &lt;span style=""&gt;isi dan&lt;/span&gt; bentuknya. Pemodernan ini dimungkinkan karena pengarang bergaul dengan karya sastra barat, &lt;span style=""&gt;khususnya sastra Belanda, yang ditandai lewat &lt;/span&gt;penerjemahan dan &lt;span style=""&gt;penyaduran. Pemoderenan &lt;/span&gt;semakin &lt;span style=""&gt;meningkat &lt;/span&gt;ketika &lt;i&gt;Commissie Voor &lt;span style=""&gt;de &lt;/span&gt;VoLfcslectuur &lt;/i&gt;diganti &lt;span style=""&gt;namanya &lt;/span&gt;dengan &lt;span style=""&gt;Balai Pustaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp16" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penggantian &lt;/span&gt;itu disertai penambahan tugas, yaitu &lt;span style=""&gt;melatih para pengarang dalam &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; &lt;/span&gt;bahasa dan bentuk baru. Pemodernan &lt;span style=""&gt;in &lt;/span&gt;autara &lt;span style=""&gt;lain, mampu mendorong kesadaran individu para &lt;/span&gt;pengarang. Kesadaran &lt;span style=""&gt;individu ini tercermin pada &lt;/span&gt;kemandirian &lt;span style=""&gt;tokoh-tokoh cerita. Tokoh-­tokoh &lt;/span&gt;cerita &lt;span style=""&gt;ingin menentukan nasibnya sendiri tanpa ketergantungan pada lingkungan &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt;ikatan masyarakat. &lt;/span&gt;Kemandirian &lt;span style=""&gt;tokoh &lt;/span&gt;ini tercermin dalam &lt;i&gt;Azab dan &lt;span style=""&gt;Sengsara, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;seperti &lt;span style=""&gt;yang tampak pada tokoh utama Mariamin. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kesadaran &lt;span style=""&gt;tokoh utama &lt;/span&gt;Mariamin &lt;span style=""&gt;terlihat ketika ia memotong penderitaan &lt;/span&gt;yang &lt;span style=""&gt;menimpa dirinya akibat &lt;/span&gt;kawin &lt;span style=""&gt;paksa lewat pengajuan cerai. Penonjolan &lt;/span&gt;kesengsaraan Mariamin ini &lt;span style=""&gt;diharapkan Merari Siregar agar menggugah &lt;/span&gt;para &lt;span style=""&gt;pembaca &lt;/span&gt;tentang penderitaan &lt;span style=""&gt;akibat kawin paksa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di atas &lt;/span&gt;telah dikatakan &lt;span style=""&gt;bahwa ikatan adat tokoh Mariamin mulai menipis. &lt;/span&gt;Walau &lt;span style=""&gt;begitu, kesadaran susila dalam roman &lt;/span&gt;ini &lt;span style=""&gt;digambarkan tetap &lt;/span&gt;teguh. &lt;span style=""&gt;Hal ini tercermin &lt;/span&gt;pada &lt;span style=""&gt;peristiwa ketika Mariamin dianiaya oleh suarninya &lt;/span&gt;karena menerima tamu laki-laki, sementara &lt;span style=""&gt;suaminya tidak di rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp19" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 34.25pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Secara keseluruhan &lt;i&gt;Azab dan &lt;span style=""&gt;Sengsara &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;memiliki &lt;span style=""&gt;ciri-ciri seperti &lt;/span&gt;Angkatan &lt;span style=""&gt;20-an pada umumnya. Selain &lt;/span&gt;ciri-ciri &lt;span style=""&gt;yang dikemukakan di atas, yakni menguatnya &lt;/span&gt;kesadaran &lt;span style=""&gt;individu &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt;menipisnya &lt;/span&gt;kesadaran &lt;span style=""&gt;adat, roman &lt;/span&gt;ini &lt;span style=""&gt;juga &lt;/span&gt;sangat &lt;span style=""&gt;kuat diwarnai &lt;/span&gt;penggambaran &lt;span style=""&gt;alam &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt;pengungkapan &lt;/span&gt;perasaan. Pengungkapan perasaan itu, antara &lt;span style=""&gt;lain, &lt;/span&gt;tercermin &lt;span style=""&gt;dalam penggunaan &lt;/span&gt;pantun dan &lt;span style=""&gt;syair.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp19" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 34.25pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Merari Siregar selain &lt;/span&gt;sebagai peñgarang &lt;span style=""&gt;juga penyadur. Sadurannya diberi judul &lt;i&gt;Si &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Jamin dan &lt;span style=""&gt;Si &lt;/span&gt;Jehan &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;yang diambil &lt;/span&gt;dan gubahan &lt;span style=""&gt;Justus &lt;/span&gt;van &lt;span style=""&gt;Maurik yang berjudul &lt;/span&gt;“Jan &lt;span style=""&gt;Smees’. Judul &lt;/span&gt;perasaan itu, antara &lt;span style=""&gt;lain, &lt;/span&gt;tercermin &lt;span style=""&gt;dalam penggunaan &lt;/span&gt;pantun dan &lt;span style=""&gt;syair.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp15" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Merari Siregar selain sebagai peñgarang juga penyadur. Sadurannya diberi judul &lt;i&gt;Si Jamin dan Si Jehan &lt;/i&gt;yang diambil dan gubahan Justus van Maurik yang berjudul “Jan Smees’. Judul “Jan Smees” ini terdapat dalam kumpulan cerpen Justus van Maurik yang berjudul &lt;i&gt;Lift het Volk &lt;/i&gt;‘Dan Kalangan Rakyat’ dengan subjudul &lt;i&gt;Ainsterdamche Novel/en &lt;/i&gt;‘Novel Amsterdam’ yang terbit tahun 1879. demikian dinyatakan oleh Teeuw walaupun sebelumnya ía menyatakan bahwa cerita “Jan Smees” ini berasal dan cerita &lt;i&gt;Oliver West &lt;/i&gt;gubahan Char les Dickens. Pengamat lain, seperti Armijn Pane pun menyatakan bahwa karya &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Si Jamin &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt;Si Johan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;berasal &lt;/span&gt;dari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;karya sastra Belanda tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp19" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 34.25pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Buku &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Si Jamin dan Si Johan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;cetakan pertama &lt;span style=""&gt;1918, &lt;/span&gt;menurut Amal Hamzah, dimuat bersama-sama &lt;span style=""&gt;dengan judul lain yang &lt;/span&gt;bernama &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Penghibur &lt;/span&gt;Hati &lt;/i&gt;karya &lt;span style=""&gt;S. Paimin. Nama &lt;/span&gt;samaran &lt;span style=""&gt;Merari &lt;/span&gt;Siregar. Karangan kecil yang &lt;span style=""&gt;berjudul &lt;i&gt;Pen&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;ghibur &lt;span style=""&gt;Hati &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;ini menurut Teeuw, dikarang &lt;span style=""&gt;oleh J-Paimin &lt;/span&gt;dan Slakas, Tasikmalaya. Pada halaman judul teks itu tertulis ‘Soewatoe karangan yang beroleh hadijah dan diploma dalam perloembaan karangan &lt;span style=""&gt;dan hal &lt;/span&gt;madat”. Teks &lt;span style=""&gt;itu &lt;/span&gt;merupakan &lt;span style=""&gt;risalah kecil tentang akihat &lt;/span&gt;buruk penghisapan madat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp23" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 34.25pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Cerita &lt;i&gt;Si &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Jamin dan &lt;span style=""&gt;Si &lt;/span&gt;Johan &lt;/i&gt;serta &lt;i&gt;Penghibur Hati&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;itu &lt;span style=""&gt;mendapat &lt;/span&gt;hadiah dalam &lt;span style=""&gt;sayembara &lt;/span&gt;mengarang tentang pemberantasan &lt;span style=""&gt;madat. Oleh karena judul &lt;/span&gt;cerita itu mempunyai tujuan &lt;span style=""&gt;yang sama, kedua &lt;/span&gt;cerita itu &lt;span style=""&gt;disatukan menjadi &lt;/span&gt;sebuah buku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam saduran itu Merari Sáregar menciptakan lingkungan cerita yang baik sehingga tanpa membaca cerita aslinya kita seolah-olah membaca cerita baru yang terjadi di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; (&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;). Daerah-daerah seperti &lt;i&gt;Prinsenlaan &lt;/i&gt;di Taman Sari dan Glodok serta suasana Betawi tahun 20-an dilukiskan sehingga menimbulkan kerawanan di hati pembacanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp19" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 34.25pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ide &lt;/span&gt;cerita &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Si &lt;/span&gt;Jamin dan &lt;span style=""&gt;Si &lt;/span&gt;Johan &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;ialah ajakan &lt;/span&gt;untuk menjauhi &lt;span style=""&gt;minuman keras dan candu karena kedua benda itu mengakibatkan kerusakan &lt;/span&gt;mental dan kemerosotan bagi kehidupan &lt;span style=""&gt;manusia. Ide cerita &lt;/span&gt;itu &lt;span style=""&gt;sejalan &lt;/span&gt;dengan usaha pemerintah Hindia &lt;span style=""&gt;Belanda &lt;/span&gt;untuk &lt;span style=""&gt;memberantas pemabuk. &lt;/span&gt;Walaupun secara &lt;span style=""&gt;umum Belanda &lt;/span&gt;berusaha &lt;span style=""&gt;memberantas &lt;/span&gt;pemabukan. &lt;span style=""&gt;pemerintah Belanda &lt;/span&gt;masih mengizinkan adanya tempat-tempat tertentu, misalnya di &lt;span style=""&gt;Glodok, yang &lt;/span&gt;merupakan &lt;span style=""&gt;tempat terbuka untuk menjual &lt;/span&gt;candu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp18" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;           Dalam menyadur Merari Siregar mengalami kesukaran untuk memindahkan suasana Eropa ke dalam suasana &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Hal ini disebabkan oleh ukuran kemiskinan dan kesultanan di Eropa berbeda dengan ukuran kemiskinan dan kesolehan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Orang miskin di Eropa melarikan diri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari penderitaan dengan meminum minuman keras sedangkan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; orang yang meminum minuman keras adalah orang yang beruang. Pria Eropa pergi ke gereja bersama anak istrinya, sedangkan pria &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang soleh pergi ke mesjid tanpa istri dan anak perempuannya.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp23" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 34.25pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Selain &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Azab dan Sengsara &lt;/i&gt;serta &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Si &lt;/span&gt;Jamin &lt;span style=""&gt;dan Si Johan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;yang &lt;span style=""&gt;terkenal, karya-karya &lt;/span&gt;lain yang kurang &lt;span style=""&gt;dikenal, &lt;/span&gt;yaitu &lt;span style=""&gt;(1) &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Binasa Karena Gadic Priangan, &lt;/i&gt;Balai &lt;span style=""&gt;Pustaka, 1931; (2) &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Cerita Tentang &lt;span style=""&gt;Busuk dan &lt;/span&gt;Wanginya &lt;span style=""&gt;Kora &lt;/span&gt;Betawi, &lt;/i&gt;Balai Pustaka, 1924; &lt;span style=""&gt;dan (3) &lt;/span&gt;“Cinta dan &lt;span style=""&gt;Hawa &lt;/span&gt;Nafsu” yang merupakan sebuah roman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp19" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 34.25pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Profesi Merari Siregar sebagai guru mewarnal &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;gaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;penceritaan dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;gaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt; karya &lt;/span&gt;sastranya, &lt;span style=""&gt;baik karya asli &lt;/span&gt;maupun sadurannya. Penggunaan bahasa yang lancar dan rapi dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;gaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;khotbahnya langsung &lt;span style=""&gt;menunjukkan &lt;/span&gt;perkataan &lt;span style=""&gt;atau maksudnya &lt;/span&gt;kepada pembaca; &lt;span style=""&gt;meminta &lt;/span&gt;perhatian untuk ceritanya. &lt;span style=""&gt;Ia memberi &lt;/span&gt;nasihat, mengecam yang kurang baik &lt;span style=""&gt;serta memuji-muji &lt;/span&gt;tindakan yang menurut aturan masyarakat baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 13pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp24" style="margin: 0cm 0cm 0pt 16.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;.Karya Merari &lt;/span&gt;Siregar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp24" style="margin: 0cm 0cm 0pt 16.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Novel&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp25" style="margin: 0cm 0cm 0pt 34.25pt; text-indent: -17.25pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Azab dan &lt;span style=""&gt;Sengsara. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Balai Pustaka. &lt;span style=""&gt;Cet. 1 &lt;/span&gt;tahun 1920,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Cet.4 &lt;/span&gt;1965.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp26" style="margin: 0cm 0cm 0pt 34.25pt; text-indent: -16.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Binasa &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Karena Gadis Priangan. &lt;/i&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Balai Pustaka &lt;span style=""&gt;1931.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp27" style="margin: 0cm 0cm 0pt 38.8pt; text-indent: -21.8pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Betawi. &lt;/i&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Balam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp19" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 34.25pt; line-height: 13pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pustaka 1924.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp26" style="margin: 0cm 0cm 0pt 34.25pt; text-indent: -16.7pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;(4)&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Cinta dan Hawa Nafsu. &lt;/i&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: &lt;span style=""&gt;t.th.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp24" style="margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saduran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp24" style="margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Si &lt;/span&gt;Jamin dan &lt;span style=""&gt;si Johan. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Balai Pustaka &lt;span style=""&gt;1918.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-2176241062332496488?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/2176241062332496488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/merari-siregar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2176241062332496488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/2176241062332496488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/merari-siregar.html' title='Merari Siregar'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-4656711658349659133</id><published>2008-10-14T13:13:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T13:14:16.129+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Marah Rusli</title><content type='html'>&lt;table style="font-family: verdana;" width="100%" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="jdl-tabel" height="25"&gt;&lt;b&gt;Biografi&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt; &lt;table class="borang-luar" width="100%" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;  &lt;td class="borang-dalam"&gt;  &lt;table class="borang-dalam" width="100%" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;          &lt;td class="isi-tabel"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di antara deret nama sastrawan Balai Pustaka, nama Marah Rusli adalah nama yang cukup terkenal, kalau belum dapat dikatakan paling terkenal. Keterkenalannya karena karyanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Siti Nurbaya&lt;/i&gt; (sebuah roman) yang diterbitkan pada tahun 1920 sangat banyak dibicarakan orang, bahkan sampai kini. &lt;i&gt;Siti Nurbaya&lt;/i&gt; telah melegenda, wanita yang dipaksa kawin oleh orang tuanya, dengan lelaki yang tidak diinginkannya &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Marah Rusli, sang sastrawan itu, bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran. Ayahnya bekerja sebagai demang. Meski lebih terkenal sebagai sastrawan, Marah Rusli sebenarnya adalah dokter hewan. Berbeda dengan Taufiq Ismail dan Asrul Sani yang memang benar-benar meninggalkan profesinya sebagai dokter hewan karena memilih menjadi penyair, Marah Rusli tetap menekuni profesinya sebagai dokter hewan hingga pensiun pada tahun 1952 dengan jabatan terakhir Dokter Hewan Kepala.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh H.B. Jassin sebagai “Bapak Roman Modern Indonesia”. Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kesukaan Marah Rusli terhadap kesusastraan sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari &lt;i&gt;tukang kaba&lt;/i&gt;, tukang dongeng&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;( di Sumatera Barat) yang berkeliling kampung menjual ceritanya, dan membaca buku-buku sastra.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, &lt;i&gt;Siti Nurbaya.&lt;/i&gt; Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam &lt;i&gt;Siti Nurbaya&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita. Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ceritanya menggugah dan meninggalkan kesan yang mendalam kepada pembacanya. Kesan itulah yang terus melekat hingga sampai kini pun, setelah lebih delapan puluh tahun novel itu dilahirkan, &lt;i&gt;Siti Nurbaya&lt;/i&gt; tetap diingat dan dibicarakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selain &lt;i&gt;Siti Nurbaya,&lt;/i&gt; Marah Rusli juga menulis beberapa roman lainnya. Akan tetapi, &lt;i&gt;Siti Nurbaya&lt;/i&gt; itulah yang terbaik. Roman itu mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Marah Rusli mengawini gadis Sunda kelahiran Bogor pada tahun 1911. Mereka dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetapi Marah Rusli kokoh pada sikapnya, ia tetap mempertahankan perkawinannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Marah Rusli Meninggal pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karya-Karya&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;ol style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Siti Nurbaya&lt;/i&gt;. Jakarta: Balai Pustaka. 1920.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;La Hami&lt;/i&gt;. Jakarta: Balai Pustaka. 1924.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Anak dan Kemenakan&lt;/i&gt;.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Jakarta: Balai Pustaka. 1956.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Memang Jodoh” (naskah roman)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Tesna Zahera” (naskah Roman)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761112420965442566-4656711658349659133?l=chaleedarifa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/feeds/4656711658349659133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/marah-rusli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4656711658349659133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761112420965442566/posts/default/4656711658349659133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://chaleedarifa.blogspot.com/2008/10/marah-rusli.html' title='Marah Rusli'/><author><name>Chaleedarifa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08919732908850775107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761112420965442566.post-2264357173888126527</id><published>2008-10-14T13:12:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T13:13:32.883+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Nur Sutan Iskandar</title><content type='html'>&lt;table style="font-family: verdana;" width="100%" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="jdl-tabel" height="25"&gt;&lt;b&gt;Biografi&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt; &lt;table class="borang-luar" width="100%" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;  &lt;td class="borang-dalam"&gt;  &lt;table class="borang-dalam" width="100%" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;          &lt;td class="isi-tabel"&gt; &lt;p class="TxBrp1" style="margin: 0cm 0cm 0pt 22.1pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p class="TxBrp1" style="margin: 0cm 0cm 0pt 22.1pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Nur Sutan Iskandar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp2" style="margin: 0cm 0cm 0pt 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp8" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Muhammad Nur atau yang lebih dikenal dengan nama &lt;b style=""&gt;Nur Sutan Iskandar&lt;/b&gt; lahir pada tanggal 3 November 1893 di Sungaibatang, Maninjau, Sumatera Barat. Adapun asal usul namanya menjadi Nur Sutan Iskandar bermula ketika ia menikahi Aminah. Oleh keluarga Aminah, ia diberi gelar Sutan Iskandar. Sejak itu, ia memakai gelar itu dipadukan dengan nama aslinya menjadi Nur Sutan Iskandar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp8" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari perkawinannya dengan Aminah itu, Nur Sutan memperoleh &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; anak:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp8" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1) Nursinah Supardo, lahir 5 Januari 1918, 2) Nursjiwan Iskandar, lahir 6 November 1921, 3) Nurma Zainal Abidin, lahir 24 Mei 1925, 4) Nurtinah Sudjarno lahir 7 Agustus 1928, dan 5)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Nurbaity Iskandar, lahir 22 Maret 1933. Dua dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; anaknya, yaitu Nursinah Supardo dan Nursjiwan Iskandar menuruni bakatnya, gemar dengan dunia karang mengarang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp6" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 28.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nur kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya di tempat kelahirannya, Sungaibatang. Sungai Batang itu terletak di tepi Danau Maninjau. Keindahan kampungnya dan suasana kehidupan masyarakat di kampungnya itu, betul-betul diresapinya. Hal ini terlihat kemudian dari karya-karya yang dilahirkannya. Dallam &lt;i&gt;Pengalaman Masa Kecil &lt;/i&gt;(1949), misalnya, Nur Sutan Iskandar dengan jelas bercerita tentang keindahan kampung halamannya dan suka duka masa kecilnya. Sementara itu, dalam &lt;i&gt;Apa Dayaku karena Aku Perempuan &lt;/i&gt;(1923), &lt;i&gt;Cinta yang Membawa Maut &lt;/i&gt;(1926), &lt;i&gt;Salah Pilih &lt;/i&gt;(1928), dan &lt;i&gt;Karena Menua &lt;/i&gt;(1932), ia banyak bercerita tentang kepincangan yang terjadi dalam masyarakatnya, khususnya yang berkaitan dengan adat istiadat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp6" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 28.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nur Sutan Iskandar menamatkan pendidikan sekolah rakyatnya pada tahun 1909. Setahun berikutnya, ia diangkat menjadi guru bantu di sekolah yang sama. Setelah itu, ia pindah ke &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Padang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Selanjutnya tahun 1919, ia meninggalkan &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;Padang&lt;/st1:city&gt; dan hijrah ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Di Jakarta&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; bekerja di Balai Pustaka mengoreksi naskah-naskah karangan yang masuk ke redaksi. Ia mendapat tugas itu dari Sutan Muhammad Zein, Pemimpin Balai Pustaka saat itu. Di Balai Pustaka itulah, ia banyak memperoleh pengalaman dan pengetahuan mengenai &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dunia karang mengarang dan juga mulai terasah bakatnya ke arah itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp8" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika berkesempatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengikuti Kongres Pemuda di Surabaya (1930-an), ia berkenalan dengan Dokter Sutomo, tokoh pendiri Budi Utomo. Oleh Dr. Sutomo, ia diajak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berkeliling &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Hampir semua tempat di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; mereka kunjungi, tidak terkecuali tempat pelacuran. Bakat menulisnya yang sudah tumbuh, mulai memainkan peran. Pengalaman di tempat pelacuran itu, kemudian dituangkannya menjadi karangan yang diberi judul &lt;i&gt;Neraka Dunia &lt;/i&gt;(1937).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp6" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 28.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meskipun hanya berijazah sekolah dasar, Nur Sutan Iskandar dikenal sebagai orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sambil bekerja ia terus berusaha untuk menambah pengetahuannya, baik secara formal maupun nonformal. Pada tahun 1921, ia dinyatakan lulus dari &lt;i&gt;Kleinambtenaar &lt;/i&gt;‘pegawai kecil’ di Jakarta dan tahun 1924, ia juga mendapat ijazah dari &lt;i&gt;Gemeentelijkburen Cursus &lt;/i&gt;‘Kursus Pegawai Pamongpraja’ di Jakarta. Sementara itu, ia juga &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terus memperdalam kemampuan berbahasa Belandanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp6" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 28.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berkat ketekunannya, ia diangkat sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925—1942) dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kepala Pengarang Balai Pustaka (1942—1945). Pada saat-saat itulah, kekereatifannya sebagai penulis sangat berkembang. Nur Sutan Iskandar termasuk penulis yang produktif. Tidak saja menulis karya asli, ia juga menulis karya saduran dan terjemahan. Hal itu dimungkinkan karena penguasaan bahasa asingnya cukup baik.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp8" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tokoh Angkatan Balai Pustaka ini (seangkatan dengan Merari Siregar, Marah Rusli, dan Hamka) menghembuskan nafasnya yang terakhir di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, pada usia 82 tahun, tepatnya tanggal 28 November 1975.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp14" style="margin: 0cm 0cm 0pt 18.7pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp14" style="margin: 0cm 0cm 0pt 18.7pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Karya Nur Sutan &lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Iskandar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="TxBrp15" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 28.6pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagai pengarang, Nur Sutan Iskandar tergolong produktif. Selama hidupnya, ia berhasil menulis puluhan buku, baik karya asli, saduran, maupun terjemahan.
